Mohon tunggu...
Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Mohon Tunggu... Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Belajar Kearifan Wastra Nusantara di "Tahun Politik"

12 September 2018   15:09 Diperbarui: 12 September 2018   15:25 516 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Kearifan Wastra Nusantara di "Tahun Politik"
Beragam jenis wastra nusantara yang indah. (Foto: BDHS)

Di tengah riuh rendah "Tahun Politik" yang makin memanas, kembali melihat dan mengamati keindahan wastra atau kain-kain nusantara, ternyata mampu menjadi "obat" penghilang stres dari tekanan yang ada dan sekaligus menimba kearifan yang ada di dalamnya. 

Betul, melihat, mengamati, dan belajar dari wastra nusantara, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Salah satunya, yang penting dalam situasi seperti sekarang, adalah pelajaran tentang keberagaman masyarakat Indonesia dan kerja sama serta persatuan untuk menghasilkan wastra nusantara, tanpa memandang perbedaan latar belakang yang ada.

Sebagaimana kita ketahui, "Tahun Politik" adalah istilah yang mengemuka saat ini, merujuk pada 2018 dan 2019, manakala gencarnya persiapan menyusun pencalonan dan pelaksanaan Pemilihan Umum bagi anggota legislatif maupun Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Seperti telah diramalkan sebelumnya, "Tahun Politik" membuat suhu kehidupan berbangsa di negara kita menjadi memanas. Kalau sekadar bersaing dengan sehat sambil menampilkan keunggulan masing-masing kandidat, tentu tak mengapa. Masalahnya yang terjadi, justru cenderung saling menjelekkan satu sama lain. Ujaran kebencian, hoax atau berita bohong, dan berbagai ungkapan negatif, bermunculan di mana-mana.

Iklim politik memanas tentu berimbas pada iklim dan situasi kehidupan masyarakat sehari-hari. Masyarakat menjadi terpecah lantaran mendukung pihak yang berbeda, bahkan perpecahan juga terjadi di kelompok-kelompok kecil, sampai di lingkungan keluarga pun tak pelak terjadi perpecahan, hanya karena sang ayah atau sang kakak membela partai A atau calon presiden dan calon wakil presiden A, sementara sang ibu atau sang adik mempunyai pilihan yang berbeda.

Pada saat dan situasi seperti ini, melihat, mengamati, dan belajar dari keberadaan wastra nusantara, bisa dikatakan bagaikan "oase di gurun gersang". Ketika masyarakat cenderung terpecah belah, wastra nusantara yang ada mengajarkan kearifan leluhur kita yang ber-bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi satu tujuan.

Batik Tiga Negeri

Salah satu contoh Bhinneka Tunggal Ika pada kain nusantara bisa dilihat dari keberadaan batik tiga negeri. Perpaduan bunga, daun, dan isen-isen -- gambar untuk mengisi ruang kosong dalam desain batik -- yang berasal dari tiga daerah di Jawa Tengah yaitu Lasem, Pekalongan, dan Solo, sungguh memperlihatkan watak sesungguhnya dari masyarakat Indonesia.

Pada masa lalu, leluhur kita mampu mewujudkan kerja sama untuk menghasilkan kain yang indah. Warna merah dari Lasem yang identik dengan warna dari etnis Tionghoa yang banyak bermukim di Lasem, warna biru dari Pekalongan yang berbatasan dengan pantai utara Laut Jawa dengan airnya yang membiru, dan warna sogan serta cokelat dari Solo, yang merupakan warna-warna utama dari kain batik daerah itu.

Begitulah, warna-warna tadi yang berasal dari tempat atau negeri berbeda itu kemudian disatukan oleh para perajin menjadi kain batik yang indah. Dimulai dengan memberi warna merah di Lasem, dilanjutkan dengan warna biru di Pekalongan, dan kemudian diisi pula dengan warna sogan atau cokelat di Solo.

Bayangkan, dari tiga tempat berbeda yang mempunyai tradisi budaya masing-masing dapat bersatu dalam sebuah batik tiga negeri. Bukan hanya itu, batik tiga negeri juga merupakan karya perpaduan antara berbagai suku dan etnis yang ada di tanah Jawa. Etnis Tionghoa yang banyak bermukim di Lasem, salah satu contohnya. Bahkan batik tiga negeri ini juga sempat dikenal dengan nama batik Tjoa, karena di masa lalu pada 1940-an khususnya di Solo, terdapat dua pembatik terkenal, yaitu Tjoa Tjoen Kiat dan Tjoa Siang Swie, yang berasal dari etnis Tionghoa.

Dalam desain batiknya sendiri, perpaduan berbagai gaya itu juga terlihat. Gambar burung phoenik yang khas Tiongkok, dipadu dengan "kawung" yang dipengaruhi gaya batik Solo-Yogya, dan dilengkapi dengan permainan warna-warna cerah khas batik pantai utara Jawa seperti Pekalongan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN