Mohon tunggu...
Ig @widhawatitok
Ig @widhawatitok Mohon Tunggu...

Blogger ketak-ketik di https://www.drpojokan.com dan jualan payung promosi di https://www.payungin.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Andai Semua Penghina Dibui

30 Oktober 2014   17:01 Diperbarui: 1 April 2018   16:47 335 2 2 Mohon Tunggu...

Dia adalah MA yang berusia 24 th, berjenis kelamin laki-laki, ditahan karena dianggap melakukan penghinaan kepada Megawati dan Jokowi kala kampanye pilpres (ia mengganti foto bintang pornografi dengan wajah Megawati dan Jokowi). Pelapor adalah tim suksesnya Jokowi. Pelaku dijerat pasal pornografi serta Pasal 310 dan 311 UU KUHP tentang Pencemaran Nama Baik. Barang bukti yang digunakan polisi adalah akun Facebook. MA terancam hukuman 12 tahun penjara. Namun masalah yang bikin heboh adalah soal pelakunya yang ternyata seorang tukang tusuk sate lulusan SMP sehingga kesan yang keluar itu semacam kekejaman kepada rakyat jelata, seolah dianggap tidak adil untuk seukuran tukang sate, dan kemudian menjadi semacam kontroversi tersendiri dikalangan masyarakat. 

Mungkin kalo penghina itu pejabat atau lulusan perguruan tinggi terkenal pasti bakal lain cerita, misal, ini misal loh ya, penghina yang terkangkap itu adalah admin-admin dari @TM2000Back (dibaca Trio Macan dua ribu) mungkin gak akan dianggap sekejam si tukang sate kali ya? Tapi gak tau juga dhing. Kalo admin @TrioMacan2000 yang ketangkep kemarin ngakunya sih admin akun yang lama yang hanya memanfaatkan untuk memeras gitu. Bicara soal penghina pada umumnya, sebenarnya kalo dirasa-rasakan fenomena para penghina di Indonesia itu semakin tumbuh pesat seiring berkembangnya teknologi terutama jejaring sosial. 

Bukan hanya seorang dua orang saja, tapi sudah cinderung berjamaah, bahkan ada juga komunitas penghina dan dijejaring sosial tertentu (sebut saja twitter) mereka bangga ketika apa yang dihinakan jadi trending topik. Disatu sisi menghina atau bahasa gaulnya membully, itu tidak baik! Tapi disisi lain, konon sih itu kebebasan berekpresi! Ketika di negeri ini makin banyak penghuninya yang bermental pembully apakah itu adalah hal wajar yang patut diabaikan? Kalo makin banyak generasi pembully-nya ya bisa jadi tanda-tanda negeri itu sakit. 

Andai semua penghina dibui, misal khusus penghina yang kemarin masa kampanye itu aja udah seambreg, belum lagi golongan pembully ABG dikalangan pelajar, kalo semua dikasuskan mungkin polisi bakal sibuk bingitttt, penjara bakal penuh sampai tumpah-tumpah, koruptor gak kebagian tempat deh. Tapi ya gak mungkin juga semua penghina dibui, karena ya itu tadi kalo dikait-kaitkan dengan HAM, itu adalah kebebasan berekpresi. Apalagi kalo kasusnya sampai heboh dan mengundang belas kasihan, yang ada ya gak dijadi dipenjara. Tapi kalo kasus MA sih katanya pak Presiden memaafkan tapi proses hukum tetap berjalan, tapi ya gak tau juga dhing, siapa tau mak bedunduk dibebasin karena kasihan gitu. 

Rasanya capek juga kalau mau bilang “mari gunakan sosial media dengan bijak, bebas berekpresi tapi tetap ada batasannya”, kenapa capek? Karena orang-orang sudah terlanjur sakarepe dewe, entah karena beneran tidak tau dampaknya atau sengaja masa bodoh dengan dalih “jari-jari gue, mau ngetik apa juga terserah gue dong”, “akun-akun gue, mau share apa aja terserah gue”, piye jal yen ngunu? Setidaknya kasus MA yang katanya tukang tusuk sate itu menjadi pelajaran, bawasannya berekpresi disosial media itu juga ada batasannya, jangan kebangetan! Mengkritik gak harus dengan cara negatif, meski yang negatif cinderung mak jleb, tapi ya jangan kaget kalo dampaknya juga mak jleb, ingat "mulutmu harimaumu". 

salam ketak-ketik
Grosir Payung

VIDEO PILIHAN