Mohon tunggu...
Bergman Siahaan
Bergman Siahaan Mohon Tunggu... Penyuka seni dan olah raga tetapi belajar kebijakan publik di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Penikmat tulisan, foto, dan video

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Situs Film Ilegal dalam Perspektif Penonton Budiman

23 Desember 2019   10:36 Diperbarui: 26 Desember 2019   07:27 1830 11 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Situs Film Ilegal dalam Perspektif Penonton Budiman
Ilustrasi: Pixabay

Situs-situs penyedia film gratisan berulang kali diblokir dan berulang kali pula reinkarnasi. Ada gula, ada semut. Dimana ada demand maka supply akan muncul.

Alasan hak kekayaan intelektual menjadi isu utama pemerintah. Sangat wajar, karena pemerintah harus menjunjung hukum dan juga memperhatikan keluhan penyedia aplikasi film berbayar yang khawatir bisnisnya tergerus.

Kalimat yang sering digemakan adalah "Penonton website ilegal ingin yang gratisan." Tuduhan lain, "Pendapatan bioskop (termasuk Production House) berkurang karena website ilegal."

Menjadi menarik jika sudut pandang penonton budiman juga mendapat perhatian agar hidup ini lebih seimbang. Penonton budiman (mengambil kalimat khas TVRI zaman dulu) yang dimaksud di sini adalah orang yang menyukai dan menghargai karya seni serta tidak ingin terkesan mencuri. 

Benarkah penonton budiman hanya ingin yang gratisan? Benarkah pendapatan bioskop dan PH menguap karena online streaming?

Penonton siap membayar
Dahulu kala ada bisnis rental film. Sejak kaset VHS di tahun 80-an hingga DVD yang laris di tahun 2000an. Para pecinta film bisa menikmati film favorit mereka dengan biaya sewa yang relatif murah.

Katakanlah Rp 10.000 per film plus bensin atau ongkos transport. Namun bisnis persewaan film itu berangsur-angsur punah seiring perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi (IT).

Lagipula, koleksi rental-rental tersebut tidaklah selalu lengkap. Jarang ditemui film lawas yang berusia di atas 20 tahun. Kepingan DVD film lama mungkin sudah rusak dan tidak banyak yang diproduksi ulang oleh para produsen. Selebihnya memang tidak diproduksi sama sekali atau tidak masuk ke Indonesia.

Ke mana para pecinta film klasik bernostalgia dengan Terminator, Rambo, Titanic misalnya? Ke mana bisa mencari DVD fim-film lama karya Quentin Tarantino atau film-film Miss Marple dan Hercule Poirot yang diangkat dari novel klasik Agatha Christie? Atau film legenda tahun 40-an yang masih hitam putih?

Belum lagi film-film non Amerika yang memang jarang ada di pasar DVD. Kerinduan itu hanya dijawab oleh teknologi IT. File-file film lawas diunggah ke internet tanpa mengalami penyusutan kualitas karena waktu, meski sayangnya, oleh situs-situs yang dianggap ilegal.

Apakah penonton online menikmati film-film itu dengan gratis? Sebenarnya tidak. Konsumen tetap harus mengeluarkan biaya untuk keasyikan itu. Sebuah film berdurasi dua jam memiliki bobot antara 500 MB hingga 5 GB tergantung kualitas dan resolusinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x