Ellen Maringka
Ellen Maringka wiraswasta

Akun Ini Tidak Aktif Lagi dan Tidak Akan Aktif Lagi di Kompasiana. Tidak menerima atau membalas pesan di Inbox.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora featured

Novel Baswedan dan Akil Mochtar Bikin Saya Gemas Sekaligus Rindu

3 Oktober 2013   13:08 Diperbarui: 11 April 2017   23:00 5071 29 34
Novel Baswedan dan Akil Mochtar Bikin Saya Gemas Sekaligus Rindu
Foto: nasional.kompas.com

Jarang jarang saya duduk betah berjam jam depan televisi menyaksikan berulang kali diputarnya rekaman detik detik penangkapan Akil Mochtar sebagai Ketua MK yang terjerat Operasi Tangkap Tangan oleh KPK, kemarin Malam sekitar pukul sepuluh  di rumah dinasnya. Operasi tangkap tangan yang dipimpin langsung oleh Novel Baswedan, mantan polisi yang kemudian mengundurkan diri dari dinas kepolisian dan memilih untuk berkarir penuh di KPK. Sosok pria mungil imut-imut namun berpembawaan tenang ini sangat menarik perhatian saya, justru karena beliau tidak pernah banyak bicara. Jangan main-main dengan pria bertubuh mungil. Sesungguhnya keperkasaan dan jiwa ksatria seorang pria tidak diukur dari gagah dan besarnya fisik semata. 

Kita mengenal Napoleondan Aristotle Onassis sebagai tokoh luar negeri yang mendunia, dan dua duanya bertubuh kecil (pendek). Onassis pernah dalam wawancara tidak resminya mengatakan,"I am not a tall man, but women looked up to me. My money made me look tall.".Ah...the power of money..... yang pendekpun bisa kelihatan tinggi. Contoh lokal yang bisa diambil adalah sosok proklamator Bung Hatta dan  BJ Habibie yang berperawakan kecil (untuk ukuran tubuh laki laki), namun terkenal pintar merakit pesawat terbang. Kepintaran yang kemudian membawa beliau menjadi Menristek di era Orde Baru, dan pernah menjabat sebagai wakil Presdien RI, kemudian setelah lengsernya Soeharto, beliau menjadi Presiden RI yang ke 3. BJ Habibie belakangan ini santer kembali sehubungan dengan peluncuran bukunya yang sudah difilmkan, menyangkut kisah cinta yang indah dan abadi dengan ibu Ainun yang sangat dicintainya. 

Novel Baswedan adalah sosok muda yang menarik perhatian saya saat ini, bahkan membuat saya gemas sendiri melihat keberaniannya yang tetap tampil santun namun tidak pantang menyerah. Novel Baswedan barangkali kurang populer jika dibandingkan dengan Anies Baswedan yang saat ini menjadi salah satu peserta Konvensi Capres Partai Demokrat.  Di mata saya, Novel Baswedan adalah sosok pemimpin masa depan yang kita butuhkan untuk membebaskan Indonesia dari penyakit korupsi yang sudah kronis sampai ke sendi-sendi paling dalam. Tidak banyak yang bisa digali mengenai data pribadinya, kecuali bahwa beliau lahir tahun  1977, sudah menikah dengan satu putri yang manis dan lucu. 

Perawakan Novel Baswedan yang pendiam namun mengutamakan prestasi dan hasil kerja nyata, merupakan karakter pemimpin yang kita butuhkan. Rakyat Indonesia sudah muak dengan "omong besar hasil tiada", yang selama ini dikoar-koarkan oleh para politisi maupun pejabat. Tampil gagah (semuanya dengan uang rakyat), namun semakin hari semakin tidak bermoral sifat dan perbuatannya. Bagaimanapun ditengah kesedihan dan rasa galau membayangkan nasib bangsa ini, Novel Baswedan bagaikan segelas air jeruk di tengah padang pasir (tidak ada maksud menyaingi beliau dengan Kompasianer cantik Ibu Anni). 

Rasa gemas yang menghibur hati melihat cara kerja beliau yang tenang, bijaksana namun selalu sukses menangkap koruptor. Tidak main-main kali ini yang ditangkap adalah sosok yang merepresentasikan supremasi Hukum tertinggi di negara ini,  Akil Mochtar sebagai ketua MK. Beda sekali dengan sosok Akil Mochtar, Ketua MK yang sudah malang melintang berkarir di bidang hukum, dan sekian tahun menjadi politisi Partai Golkar bahkan pernah  duduk sebagai anggota DPR. Akil Mochtar bertubuh tinggi besar, dan selama ini rajin sekali mengupdate status di twitter. Pasca penangkapan Rudi Rubiandini, beliau menulis di Twitter  dalam ungkapan bernada kritis dan mempertanyakan kewibawaan RR sebagai pejabat di sektor Migas. Tak dinyana dan tak disangka, ketika terjaring Operasi Tangkap Tangan oleh KPK, Akil Mochtar malahan menangis nangis minta jangan ditangkap. Sepanjang perjalanan menuju gedung KPK, beliau terus menangis dan kelihatannya tertekan. Dalam banyak kesempatan ketika diwawancarai, beliau selalu mengatakan dengan tegas soal transparansi di tubuh MK dan nyocor terus mengenai independensi MK yang seolah oleh ingin menampilkan diri sebagai sosok berwibawa dan bersih menantang KKN. 

Akil Mochtar juga menulis beberapa buku mengenai hukum yang menyangkut korupsi dan suap. Bayangkanlah bedanya apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Mau tidak mau saya teringat sosok almarhum ayah saya tercinta.... Bapak Jimmy Maringka pria bertubuh kecil, berjiwa besar dan memiliki integritas yang tidak main main ketika itu menyangkut keadilan dan kejujuran. Masih terngiang kalimat yang sering diucapkan ayah saya, "jangan membuang terlalu banyak waktu mendengarkan apa yang dikatakan seseorang, tapi lihat saja hasil kerjanya dan apa yang sudah dilakukannya." Kalimat praktis yang dapat dicerna oleh siapapun dan tidak memerlukan otak jenius untuk mengartikannya bukan?

Bangsa ini terlalu banyak membuang waktu dan energi mendengarkan bualan para politisi dan pejabat yang  menjanjikan pepesan kosong, dan lupa untuk lebih fokus melihat dan mencermati track record seseorang. Novel Baswedan membuat saya gemas, ingin rasanya cepat cepat bisa mencalonkan beliau menjadi kandidat Presiden. Kita tidak butuh Presiden yang banyak bicara dan menjaga pencitraan lewat kata kata santun bagaikan puisi. Kita butuh seorang Presiden yang bekerja, dan betul betul prihatin dengan nasib anak bangsa yang setiap hari terus dijarah dan dijajah koruptor. Akil Mochtar juga membuat saya gemas sendiri, seperti  yang saya lihat dari ekspresi pak Jimly Asshiddiqie, mantan Ketua MK yang mengatakan dengan mimik serius untuk menghukum seberat beratnya saudara Akil Mochtar karena mempermalukan lembaga MK dan mencoreng wibawa para hakim hakim MK lainnya yang jujur bekerja. 

Novel Baswedan dan Akil Mochtar membuat saya gemas dengan perilaku mereka yang jauh berbeda, sekaligus  membuat saya rindu dengan ayah saya, yang selalu mengatakan...."berdirilah diatas yang benar, meskipun itu artinya kamu harus berdiri sendiri. Ada saatnya ketika semua yang dusta berguguran, maka yang tetap tegak berdiri adalah kebenaran..." I Love You, Dad.