Mohon tunggu...
Bens
Bens Mohon Tunggu... Musafir Malam

Kata Hati Mata Hati ...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Siang Itu Seberang Pintu Gerbang

7 Februari 2020   00:06 Diperbarui: 7 Februari 2020   00:17 18 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siang Itu Seberang Pintu Gerbang
pinterest.com/ratbitchratbitchrat

Udara masih menyisakan angin kencang, meski hujan telah lama menumpahkan air sangat deras, mengepung sekitarnya. Sudah seharusnya Anai mengambil hasil memulung punya Kang Karto, maka dengan derap langkah kecil, dia menembus derasnya hujan menutup pekatnya malam. Matanya terasa pedih menyibak air hujan, dingin menyengat tubuhnya berbalut plastik seadanya.

 Kang... Kang Karto... teriak Anai mengetuk pondokan Kang Karto
 Owalah...hujan-hujanan, nekat kamu,  Kang Karto terheran-heran

Tanpa hiraukan badannya yang basah kuyup, Anai langsung masuk, pondokan Kang Karto hanyalah pondokan sederhana berdinding papan kayu dan masih beralas tanah. Seperti pada umumnya gubuk-gubuk liar ibukota.

Tak lama Kang Karto membawa karung penuh hasil memulung seharian tadi.

 Ini bawa saja, cuma botol-botol dan gelas plastik, nanti nunggu reda dulu pulangnya, katanya
 Mau langsung aja Kang, malam ini masih banyak kerjaan, besok mau dimuat, jawab Anai sembari menggendong karung besar dan mengikat tali di perutnya
 Ya sudah hati-hati, Kang Karto membantu mengikatnya
 Pulang dulu ya Kang, Anai berjalan kembali menembus hujan

Petir menggelegar, masih terlihat dua-tiga orang memilah barang-barang antara plastik dan kaleng di gudang pemulung milik Giyo. Giyo sendiri merintis menjadi pengepul pemulung hampir dua belas tahun, sebelumnya dia pun menjadi pemulung sejak kecil ikut pamannya.

Anai hampir tiga tahun ikut Giyo, membantu memilah barang-barang rongsok dan kadang mengambil barang-barang dari pemulung lain. Anai ditemukan Giyo diteras toko, berbaring lemas pucat kelaparan, Giyo langsung membawanya pulang dan merawatnya.
Anai seumuran anaknya yang meninggal lima tahun yang lalu karena sakit panas. Jika masih hidup sudah sebaya Anai, sepuluh tahun usianya.

Waktu sudah jam sepuluh malam, dan malam ini semua sibuk mengemas, bertumpuk karung-karung yang akan dikirim esok pagi.

Warti, istri Giyo membenahi makanan, makan malam seperti biasanya yang sederhana, dan mereka tidak pernah protes masalah menu, yang penting nasi nya banyak. Anai pun sigap membantunya.
Riuh makan malam ini oleh suara kerupuk, diseling canda tawa. Anai nampak bersemangat, mengusir dingin tadi berjalan.

Tak terasa malam kian larut, semua pekerjaan telah selesai dan semua tampak berbaring, juga Anai diperaduannya diantara tumpukan kardus yang menghangatkan.

Jakarta, ibukota yang kini tak ramah lagi. Kerasnya kehidupan mengajarkan untuk bisa bertahan, dan semrawutnya kota mengajarkan kejelian.
Anai meski usianya anak-anak, namun kegigihannya menepis kekanak-kanakan. Dan seperti biasanya dia menggendong karung mengais tempat sampah mengambil botol dan gelas plastik minuman kemasan. Hampir seluruh waktunya untuk itu, dan hampir seluruh perasaannya diredam demi pekerjaannya.

Tampak seorang gadis kecil, keluar dari sebuah mobil mewah, menenteng tas pulang sekolah, persis dihadapan Anai saat duduk istirahat.
Sekilas gadis kecil itu melihatnya, lalu terburu masuk pintu gerbang yang sudah dibuka satpam. Anai menatap sekilas, lalu menunduk. Diamatinya sebotol minuman air putih bekal tadi pagi dalam genggaman tangannya yang kotor.

Anai menerawang jauh, saat dia kecil digendong oleh ibunya mengadu nasib di Jakarta, meminta-meminta. Dia tak pernah tahu siapa bapaknya, ibunya sedikit bercerita kalau bapaknya entah kemana perginya. Dia pun tak tahu darimana asalnya. Yang dia tahu hanyalah sekelompok orang tinggal di gubuk-gubuk kardus berdampingan dibawah kolong jembatan.

Dan hampir seharian waktu kecilnya habis mengemis dijalanan bersama ibunya, hingga suatu hari yang tak pernah hilang dalam ingatannya, terakhir melihat ibunya terkapar jatuh di perempatan jalan, dan meninggal saat sampai puskesmas terdekat.

Anai tak pernah tahu dimana ibunya dimakamkan, hanya terngiang petugas puskesmas akan dimakamkan di pemakaman umum.

Anai terhenyak, pundaknya terasa ada yang menepuk.

Hei.. ini makanan, dilihatnya Satpam sembari menyodorkan tas plastik, sambil diusap kedua matanya yang basah Anai tergagap
Ma...ma...makasih, terlihat gadis kecil berdiri didepan pintu gerbang, lalu ikut masuk bersama satpam.

Hati Anai berdegup kencang, seumuran hidup baru kali ini dia mendapatkan makanan dari orang lain. Dibukanya perlahan tas plastik itu, dia semakin terheran melihat isinya.

Wowww.... sepotong ayam yang besar dengan nasi putih serta minuman rasa jeruk dan...ahayy...ada amplop didalamnya. Anai semakin bingung, dibukanya amplop putih kecil, matanya terbelalak melihatnya, selembar uang lima puluh ribu !

Anai tiba-tiba linglung, entah apa yang harus dia lakukan. Dia masih terduduk memandangi apa yang diperolehnya. Dan seketika itu juga, suara Satpam mengagetkannya.

 Hei tong, sini ! serunya, Anai pucat pasi menolehnya
 Sini..bawa itu semua, serunya lagi, Anai menghampirinya
 Nah makan disini, jangan disitu, ntar ada mobil nyelonong bisa berabe, kata satpam menyuruhnya duduk di teras pos jaganya,  ayo dimakan
Aini menurutinya disuapkan nasi dan ayam goreng, lahap.

 Kamu tinggal dimana ? tanya satpam
 Di gang Kenari, jawab Anai terengah-engah menelan suapan.
 Ama orangtua atau kerja disitu ?
 Kerja, orangtua udah ndak ada
 Lha maksudnya ngga ada ?
 Emak Bapak udah meninggal, sendirian disitu ikut pak Giyo
 Terus kamu nyari barang rongsok dari jam berapa ?
 Jam 6 pagi sampai maghrib, kadang sampai malam
 Dibayar hasil rongsoknya ?
 Ndak dibayar, kan saya sudah numpang disitu ndak lama emak meninggal
Satpam terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ada yang memanggilnya.

 Kata Nyonya kalau jam segini, kesini lagi, ntar dikasih makan kayak tadi, kata satpam menghampirinya, Anai hanya bisa mengangguk
 Sekarang kamu mau kemana lagi ? Nyari barang lagi ? tanya satpam
 Iya mau nyari lagi, jawab Anai datar
 Ya sudah, hati-hati, jangan lupa besok kesini lagi, itu disimpan duitnya ntar hilang, jawab satpam
Anai beranjak sambil cium tangan, lalu bergegas keluar
Derai hujan masih mengguyur malam, Anai gelisah diatas tumpukan kardus, pikirannya tetap menerawang mengingatkan kejadian siang tadi. Dia tak menceritakan pada Giyo dan yang lain. Diselipkan uang pemberian tadi dalam tabung paralon disampingnya. Dalam diam dia pun selalu mengenang wajah emaknya, airmatanya meleleh, dia pun terlelap.

Pagi ini nampak lengang, hanya Giyo yang ada. Semua orang sejak subuh tadi pergi, Anai pun bersiap untuk pergi, di bawanya karung seperti biasanya.
Tong, Giyo menyapa,  kamu jangan lupa ntar pulangnya mampir ke Kang Seno
Anai mengangguk mengiyakan, melangkah keluar menyambut pagi yang mendung

Menyusuri jalanan lorong-lorong Jakarta, penuh hiruk-pikuk, Aini terus mengaduk sampah rumah-rumah, hingga disudut taman kota, terlihat beberapa orang duduk di bangku taman. Aini pun bergegas duduk di anak tangga air mancur taman.

Matahari baru sepenggalah, namun panas begitu terasa menyengat, dibukanya botol minum air putih mengusir dahaga, dia pun meraba botol rahasia yang menyimpan uang lima puluh ribu itu. Dia tak mau meninggalkannya, takut hilang.

Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seorang ibu beserta anak perempuannya yang masih kecil. Lusuh, mereka sedang istirahat, tampak raut anaknya pucat, dan sesekali ibunya membisikkan sesuatu.
Anai penasaran, dihampirinya mereka.

 Kenapa anaknya bu ? Sakit ? tanya nya perlahan, sejenak sang ibu menatap Anai
 Ya nak, badannya panas, dari kemarin belum ada rejeki, belum bisa beli obat dan makan, jawab sang ibu lirih. Anai tertegun sejenak.
 Ini saya ada uang, jawab Anai mengulurkan uang lima puluh ribu itu.
Sang ibu sontak kaget, terdiam menatap Anai dalam-dalam.
 Ini bu, pakai saja, kasian anak ibu sakit dan belum makan, tegas Anai
 Ahh...kamu beneran ? jawab sang ibu tak percaya yang terjadi
 Ya bu, ini uangnya, Anai menggapai tangan sang ibu
 Ya Allah.. terima kasih nak, terima kasih... jawab sang ibu terbata-bata menangis, lalu dia bangkit tergopoh-gopoh membenahi gendongannya

Anai menatap sang ibu hingga hilang dari pandangannya, wajahnya tersenyum, dia melupakan uang yang dijaganya.

Ragu Anai melangkah menghampiri rumah itu, rumah yang dikenalnya kemarin. Namun dia tak kuasa pergi saat satpam melihatnya dan langsung memanggilnya

 Ehhh...sini... seru satpam, Anai pun melangkah mendekatinya
 Ini udah disiapin makanannya, ayo makan, cuci tangan yang bersih, kata Satpam

Anai menurutinya, dilahapnya makanan yang seperti kemarin, ayam goreng.

 Terima kasih pak, kata Anai mengusap bibirnya
 Ya sama-sama, ini juga terima kasih sama Nyonya dan Neng kecil, jawab satpam,  nah sekarang ikut saya kedalam

Anai bergetar saat satpam mengajaknya kedalam, ditinggalkannya karung rongsoknya.
Ragu dia melangkah, terlihat sosok nyonya yang cantik tersenyum melihatnya

Sini..ngga apa-apa, kata nyonya melambaikan tangannya
Anai tertunduk menghampiri di teras samping rumah, hatinya tak keruan dan gemetar tak terelakkan
Sejenak nyonya itu memandanginya, Anai semakin salah tingkah.

Namanya siapa ? tanya nyonya
 Anai nyonya... bibir Anai bergetar menjawabnya, sang nyonya tiba-tiba tertawa
 Jangan nyonya, panggil aja Mama Opi, jawabnya
 Ya Mama Opi..
 Kata pak No kamu sendirian ya.. kata Mama Opi  Pak No itu pak Satpam
Anai mengangguk

Banyak yang diceritakan Anai sesuai pertanyaan Mama Opi, hingga terdengar suara batuk kecil dari dalam rumah, dan terlihat seorang perempuan menghampiri Mama Opi, membisikkan sesuatu
Lalu Mama Opi bergegas masuk kedalam, pak No mengikutinya, sementara Anai tetap duduk terdiam.

 Neng Opi sakitnya kambuh, kata pak No, Anai terdiam menatapnya, bingung.

Lalu terlihat Neng Opi digendong diiringi Mama Opi keluar halaman, dan masuk ke mobilnya. Anai bergegas ikut keluar halaman.

 Neng Opi sakit apa pak ? tanya Anai
 Katanya tulang sumsum belakang, harus dioperasi tapi nunggu donor yang cocok, jawab pak No

Anai tak mengerti jawaban pak No, dia hanya tahu neng Opi sakit dan dibawa ke rumah sakit. Dia terduduk sambil pandangi rumah mewah didepannya.

 Di rumah sakit mana dirawat ? Anai memecah kesunyian
" Itu di rumah sakit Sumber Sehat, ngga jauh dari sini, pak No membereskan buku-buku di mejanya
Tak lama Anai pamit pergi, pak No seperti biasanya mengingatkan esok mampir lagi

Dengan gundah Anai menyusuri jalanan, agak gusar perasaannya melihat kejadian hari ini. Apalagi melihat neng Opi dibopong tak berdaya.

Hari kian senja, dan hujan mulai mengguyur Jakarta, Anai bergegas menuju pondokan Kang Seno, seperti pesan Giyo tadi pagi mengambil karung rongsok. Giyo paham yang diambil hanyalah botol-botol dan gelas plastik minuman kemasan.
Tiba di pondokan Kang Seno, Anai dengan sigap menggendongnya sambil menenteng karungnya sendiri yang tak penuh, melangkah pulang menembus kisi-kisi hujan
Tak banyak yang dia pedulikan malam ini, beberapa orang juga terlihat santai, belum banyak barang yang datang untuk disortir. Anai pun duduk menonton televisi bersama dengan yang lain. Tampak Giyo duduk sambil merokok, Anai menghampirinya.

 Kamu ngga bawa jas hujan ? tanya Giyo
 Ndak pak, ada plastik kok, jawab Anai, ada terbersit pertanyaan
 Pak, sakit sumsum tulang belakang nunggu donor itu artinya apa pak ? Anai memberanikan diri
 Lho siapa yang sakit Tong ? Giyo heran dengan pertanyaan Anai
 Ndak pak, tadi denger orang ngobrol di taman, jawab Anai
 Sakit sumsum tulang belakang harus dioperasi, harus ada donor, maksudnya yang mau juga ngasih sumsum nya, tapi ngga sembarangan harus sama jenis dan darahnya juga harus sama, jawab Giyo, Itu yang ku tahu, ya seperti itulah kira-kira
Anai mengangguk-angguk, dalam benaknya dia masih penasaran dengan penyakit itu.

Pagi ini tak seperti biasanya Anai berangkat lebih pagi. Tujuan utamanya mencari rumah sakit Sumber Sehat seperti petunjuk pak No. Tiba disana dia bingung untuk bertanya kepada siapa, hingga seorang satpam menegurnya.

 Hei jangan disini, pergi sana, hardik satpam melihat Anai dikira akan mencari barang rongsok
 Anu pak...saya cuma mau nanya Neng Opi dirawat disini, Anai gelagapan. Takut
 Neng Opi siapa ? jawab ketus satpam
 Itu yang rumahnya di seberang jalan itu, anaknya Mama Opi,
 Ngga ada namanya neng Opi, udah sana pergi ! bentak Satpam, Anai bergegas pergi

Anai sambil menoleh ke rumah sakit itu, penasaran. Lalu dia bertekad menemui pak No.
 Pak No... pak No, seru Anai terengah-engah, dibukanya pintu gerbang oleh pak No.
Anai menceritakan kejadian di rumah sakit, lalu sambil minum air putih, dia kembali bertanya pada pak No
 Pak No katanya neng Opi mau dioperasi perlu donor, Anai menatap pak No
 Iya betul, memang kenapa kamu nanya gitu ? jawab pak No heran
 Kalau memang perlu donor, saya mau jadi donor, jawab Anai datar
 Hahhh ?!!  sontak pak No kaget   Kamu ngomong apa Tong ???  
 ii...ya pak No, saya ngomong benerr.. jawab Anai terbata-bata
 Eh Tong, kamu serius ngomongnya ?? pak No masih belum percaya
 Serius pak, Anai semakin tegas

Anai merasa tercekat tenggorokannya saat Mama Opi bertanya dengan pendangan tajam kearahnya.
 Anai, sakit Opi ngga main-main, dan jadi donor sumsum tulang belakang juga ngga sembarangan bukan untuk main-main, katanya
 Iyy...yaa... saya juga ndak main-main, jawab Anai sambil tertunduk
Tiba-tiba Mama Opi memeluknya, mencium kepalanya, ada kehangatan Anai rasakan
 Kamu tinggal sama orangtua asuh ? Kalau memang kamu serius, saya harus bicara juga dengan mereka kata Mama Opi

Giyo dan istrinya hanya terdiam, terpaku memandangi Anai, saat Mama Opi dan suaminya serta pak No datang, sambil mengantar Anai.
 Tong, kamu udah pikirkan masak-masak ? tanya Giyo
 Iya pak sudah, kasian neng Opi, saya ingin membantunya biar sembuh, jawab Anai lirih
Terdengar isak tangis Warti, istri Giyo, dia memeluk Anai menciuminya
 Ya Allah... Gusti... kamu masih kecil mulia hatimu nak, isak Warti
Giyo tak bisa berkata lagi, diturutinya kemauan Anai, bersama-sama mereka ke rumah sakit.

Siang itu mencekam, tak seorangpun yang hadir saling bicara. Giyo dan Warti, sesekali duduk berdiri, berharap cemas, mata mereka tak sekejappun tak lepas memandang pintu bertuliskan Ruang Operasi.
Diseberangnya duduk Mama Opi memejamkan mata sambil berdoa dan tampak kegelisahan juga pada suaminya.
Dua jam menjelang, tiba-tiba pintu terbuka, semua mata terhenyak menatapnya. Seorang dokter keluar, menanyakan keluarga pasien
 Bersyukur operasi berjalan lancar, pasien stabil, namun pedonor masih belum stabil, tunggu saja nanti saya sampaikan lebih lanjut lagi katanya singkat

Mama Opi terkulai lemas, entah apa dalam perasaan dan pikirannya. Sementara Giyo dan Warti menangis mengharap semua akan baik-baik saja.

Sejam berlalu, tiba-tiba pintu terbuka lagi, dan kali ini dua orang berpakaian seragam dokter datang menghampiri mereka.
 Kami atas nama tim dokter operasi, pertama sampaikan bahwa pasien telah benar-benar stabil dan sesuai prosedur operasi berjalan dengan baik dan lancar. Fungsi sumsum dalam kondisi normal dan baik.

Namun kami juga telah berusaha sebaik mungkin untuk pendonor, hanya Tuhan berkehendak lain, kami turut berduka cita sedalam-dalamnya, kata dokter

Pecahlah tangis di ruangan itu. Giyo, Warti, Mama Opi dan Suaminya terhenyak lemas.

Ada satu pesan dari pendonor sebelum operasi tadi menuliskan sesuatu untuk keluarga, mohon diterima. Lanjut dokter sembari menyodorkan sehelai kertas, pesan dari Anai yang ditulis sebisanya.

Saya senang bisa menolong Neng Opi, dan saya pun senang bisa ketemu emak di surga

...........
Apokayan, enamfeb duaribuduapuluh

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x