Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... Dosen - PENULIS

Dosen Tamu, pengampu Mata Kuliah Filsafat di Program Pasca-sarjana Interdisiplin Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Filsafat dari Sudut Filsafat (4)

2 Agustus 2021   16:21 Diperbarui: 2 Agustus 2021   16:37 50 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Filsafat dari Sudut Filsafat (4)
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Tiap pribadi manusia adalah filsuf. Manusia terlahir sebagai filsuf. Bayi yang menetek didorong oleh Nafsu untuk memenuhi rasa lapar dan haus. Nalar dari si bayi ini bekerja sehingga mulutnya mencari tetek ibu. 

Naluri bayi mendorong dirinya untuk mendekap dada mama. Nurani bayi tenteram dalam gendongan ibu. Inilah kerjasama empat unsur dalam diri manusia, Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani.(4N, Kwadran Bele, 2011).

Saya mengobservasi cucu-cucu saya. Nino, usia empat tahun, adiknya Ibe, dua tahun. Keduanya pun sudah berfilsafat. Mereka filsuf-filsuf cilik. Nino membagi kue di tangannya kepada Ibe, adiknya. 

Ini dorongan Nafsu yang seharusnya dimakan sendiri tapi karena Ibe adiknya melihat tangan kakaknya, maka Nino merasa terdorong dan memberikan sepotong kue itu kepada adiknya. 

Nalar Nino bekerja, tidak memberi semua, tetapi membagi. Naluri Nino bekerja sehingga dengan membagi kue itu dirinya senang, adiknya Ibe pun senang. Sehabis makan kue, keduanya duduk melanjutkan permainan mereka dengan tenang dan damai, tidak bertengkar. Ini karya Nurani. 

Filsafat itu karya empat unsur, 4N dalam diri kita manusia. Hasilnya jelas, senang (Nafsu), gembira (Nalar), puas (Naluri) dan bahagia (Nurani). Setiap kita manusia ini, saya, anda, dia, kita ada untuk nikmati hidup dengan empat sisi ini, senang+gembira+puas+bahagia. Setiap kita manusia ini harus saling menyenangkan +menggembirakan+memuaskan+membahagiakan. 

Bukan sebaliknya.  Ini filsafat hidup. Apakah ini asing? Untuk memahami dan mengamalkan filsafat ini apakah kita harus berguru pada filsuf Yunani, Jerman atau Inggris? Apakah istilah-istilah dalam bahasa Indonesia tidak cukup sehingga harus selalu mengutip istilah seperti 'existence', 'humanity', 'reality' dan 'theism' dan lain-lain istilah yang untuk para pemilik itu biasa, tapi untuk kita, asing, aneh dan penuh makna gaib.

Kita harus menyadari bahwa kita ini filsuf, kita berfilsafat yang terikat pada waktu dan tempat tertentu. TUHAN tidak menyuruh kita untuk hidup baik sesudah lulus kursus filsafat di Roma atau Paris. 

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x