Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... Dosen - PENULIS

Dosen Tamu, pengampu Mata Kuliah Filsafat di Program Pasca-sarjana Interdisiplin Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Filsafat dari Sudut Filsafat (2)

1 Agustus 2021   19:45 Diperbarui: 1 Agustus 2021   19:55 62 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Filsafat dari Sudut Filsafat (2)
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Filsafat, cinta kebenaran berawal dari Nafsu mau tahu. Nalar cari tahu. Naluri senang karena sudah tahu. Nurani tenang karena pakai pengetahuan itu dengan baik dan benar. (4N, Kwadran Bele, 2011). 

Filsafat itu biasa sekali, tidak luar biasa. Berpikir cari kebenaran, itu namanya berfilsafat. Temukan kebenaran lalu senang dengan kebenaran, itulah filsafat, cinta kebenaran. 

Anehnya di mana? Hebatnya di mana? Biasa sekali. Setiap orang yang cari tahu dan tahu itu, filsuf. Cara berpikir yang banding-banding satu  pendapat dengan pendapat lain untuk temukan yang benar dan lebih benar, itu berfilsafat. 

Pikir dalam sedalam-dalamnya itu bukan ukuran yang mutlak. Dalam tidaknya itu tergantung dari orang yang berpikir itu. Hari ini dia bilang begini dan dianggap itu hasil pemikiran yang terdalam. Besok bisa lain lagi karena ada orang lain lagi yang pikir sedalam-dalamnya dari sudut yang lain dan temukan kebenaran baru. 

Filsafat itu tidak kaku dan tidak baku. Tiap orang dengan pendapatnya sendiri. Tiap waktu, tiap tempat, tiap kelompok manusia, ada filsafatnya sendiri. Kebenaran itu satu. Tapi cara pandangnya berbeda.  Ada orang yang fanatik dengan pendapat orang ini atau orang itu, maka lahirlah aliran pendapat ini, pendapat itu. Bisa saja. 

Karena aliran-aliran itu ditulis dan disebarkan dalam bahasa Inggris, maka yang tidak kuasai bahasa Inggris, anggap itu yang paling hebat dan pendapat yang sama yang ada dalam bahasanya sendiri, diremehkan. 

Bahasa Inggris, Yunani, Latin atau Jerman, bukan ukuran untuk berfilsafat. Di sini letak asingnya filsafat, paling kurang di kalangan kita orang Indonesia ini. 

Sayang sekali. Kita makan ubi tapi pikiran di roti. Ubi kampungan, roti gedongan. Filsafat ibarat nasi di piring, lebih mulia, pikiran sendiri ibarat ubi di tempurung, hina, kelas dua. Kita sendiri yang membeda-bedakan sampai nasi di piring  dibuang dan genggam spaghetti.

Pemahaman dan cita-rasa tentang filsafat harus dirubah. Yang kita miliki ini kebenaran, hasil pemikiran kita. Kebenaran tidak ada pabriknya di Yunani atau Italia. Kebenaran ada dalam diri setiap orang. Saya, anda, dia, kita ada dan miliki kebenaran. Mau pikir sedalam-dalamnya, bukan urusan dan bukan kewajiban. Pokoknya berpegang pada kebenaran pokok, cukup. Kebenaran pokok itu apa? Cinta pada kebenaran dan SUMBER KEBENARAN, yaitu TUHAN. 

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x