Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... PENULIS

Dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang - Kupang, Timor, Nusa Tenggara Timur.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Guna dari Sudut Filsafat

1 Agustus 2020   22:14 Diperbarui: 1 Agustus 2020   22:25 19 5 0 Mohon Tunggu...

Guna apa engkau di sini. Tidak ada guna engkau ada di  sini. Kau punya hidup tidak ada guna sedikit pun. Ini penolakan seseorang terhadap seseorang. Ini alat ada guna untuk saya.

Binatang peliharaan ada guna untuk kita manusia. Manusia dilihat sebagai manusia yang ada guna untuk kepentingan manusia lain. Itu sama seperti pemilik barang  yang dilihat sebagai sekedar alat yang ada guna untuk digunakan sesuka hati pemiliknya.

Manusia bukan milik sesama manusia. Jadi adanya manusia karena ada guna untuk sesama manusia itu tidak benar. Manusia ada bukan karena ada guna baru ada.

Kalau manusia dilihat dari ada guna atau tidak, maka derajat manusia diturunkan sama seperti binatang atau lebih rendah lagi, sebagai alat, benda mati, seperti parang yang mempunyai guna  untuk memotong atau pisau untuk menikam. 

Guna tidak bisa diartikan sebagai manfaat yang berlaku bagi manusia sehingga manusia ada karena ada guna untuk manusia lain. PENCIPTA pun tidak menciptakan manusia karena ada guna untuk DIRINYA.

Manusia ada bersama manusia lain bukan karena ada guna, tetapi ada karena kehendak PENCIPTA Yang menciptakan bagi DIRINYA rekan penerus ciptaan yang sama dalam karya (NAFSU), cita (NALAR), rasa (NALURI), citra (NURANI). (4N, Kwadran Bele, 2011). Manusia bertanya pada diri, apa gunanya saya hidup? Kalau saya sudah tua, masih ada guna atau tidak?

Siapa mau gunakan tenaga anak kecil untuk pekerjaan berat di pabrik? Tenaga perempuan tidak ada guna untuk angkat barang-barang berat di pelabuhan. Manusia dianggap ada arti sejauh masih ada guna untuk manusia lain.

Manusia dilihat dari guna tidaknya bagi apa saja, pekerjaan atau jabatan apa pun merupakan satu pandangan yang sangat keliru karena atas dasar pandangan inilah berbagai kejahatan kemanusiaan bisa muncul.

Negara gunakan tenaga-tenaga kuat dan terlatih untuk menjadi tentara guna mempertahankan negara. Otak orang ini sangat encer, dia ini manusia serba-guna. Lagi-lagi manusia dilihat dari segi gunanya, bukan adanya. Saya ada belum tentu berguna.

Ada guna atau tidak, ditentukan oleh diri manusia untuk dirinya dan oleh manusia untuk manusia lain. Sudut pandang manusia atas dasar guna dan tidak ada guna inilah yang melahirkan anggapan manusia normal dan abnormal atau cacat, manusia sehat dan sakit, manusia tua dan muda, manusia kuat dan lemah.

Manusia tidak boleh dinilai atau digolongkan atas dasar besar kecilnya guna manusia itu untuk ini dan itu. Manusia ada bersama sesama dalam DIA untuk hidup sesuai keadaannya, bukan hidup untuk ini dan itu yang ditegaskan dengan kata 'guna'. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x