Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Piye Kabare, Isih Penak Jaman-Ku Ta?

14 Juli 2021   09:20 Diperbarui: 14 Juli 2021   09:26 32 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Piye Kabare, Isih Penak Jaman-Ku Ta?
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bacaan Rabu 14 Juli 2021

Mat 11:25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Renungan

Menurut Wikipedia, "Piye kabare, isih penak jamanku ta" -- bagaimana kabarnya, masih enak zaman saya kan? -  merupakan slogan Jawa untuk menyatakan bahwa zaman pemerintahan presiden Suharto lebih enak dari pada sekarang. Kerinduan akan masa lalu ini pada awalnya dipromosikan Tommy Suharto saat mendirikan Partai Berkarya. Hasil survei Indo Barometer, 39% responden menyatakan bahwa Suharto adalah presiden paling berhasil. Bagi para penentangnya, Suharto dinilai menimbulkan keterpurukan ekonomi dan pelanggaran hak asasi manusia.

Jika dengan slogan yang sama, Ahok kini menanyakan kepada penduduk DKI Jakarta, jawabannya pasti juga dua macam, tergantung posisi masing-masing. Model jawabannya akan dipengaruhi relasi dan posisi yang diambilnya, oposisi atau koalisi, pro atau kontra.

Bacaan Injil hari ini menarasikan siapa bersikap pro atau kontra terhadap Yesus,  dan bagaimana mereka  dapat menolak atau menerima-Nya. Sejak awal kehidupan Yesus, sudah tergambar siapakah yang berada pada posisi kontra dan menolak Yesus. Saat kelahiran-Nya, Herodes tampil sebagai penguasa yang menolak kehadiran Sang Raja baru. Kekuasaan dan kepentingannya terancam digerogoti. Maka dengan kekuasaannya, diperintahkan membunuh bayi laki-laki umur dua tahunan di Betlekhem.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya sampai akhir kehidupan-Nya, mereka yang bersikap oposisi, melawan Yesus adalah kaum pemuka agama, ahli-ahli Taurat, imam-imam kepala, imam besar, mahkamah agama ditolak. Sebagai kaum religius, mereka ini seharusnya, lebih peka, cepat tanggap dan gampang memahami pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah, kehadiran-Nya. Namun nyatanya mereka justru bebal. Karena kepentingannya sebagai pemuka agama tergusur, pengaruhnya terhadap jemaat semakin hilang redup oleh kehadiran Yesus. Mereka, para tokoh agamalah yang gencar menyebarkan hoaks, memanipulasi, memprovokasi, mendatangkan saksi palsu, menjadi "loudspeakers" teriak "Salibkan Dia, Salibkan Dia!".  Para penguasa politik dan penguasa agama, para cerdik pandai bijak pada jamannya, kerasukan virus kebencian, berselingkuh menghabisi Yesus. "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil"

Siapakah orang kecil itu? Pada awal kelahiran-Nya, gembala-gembala di padang menyambut-Nya. Selanjutnya, orang banyak mengikuti-Nya. Kemudian Yesus memilih dua belas murid-Nya, sebagai kelompok inti. Mereka para nelayan, pemungut cukai, orang-orang sederhana, yang dalam dunia nyata tidak akan didatangi liyan diminta jadi narasumber,  konsultan kehidupan keagamaan. Namun kepada mereka, Yesus berkenan membuka dan menyatakan diri, mewahyukan siapa Allah, siapa manusia, rencana dan kehendak penyelamatan-Nya. Lewat proses jatuh bangun, akhirnya mereka mengenal Bapa sebagai  Allah benar, Yesus datang dan berasal dari Allah, Anak Allah memanggil mereka mendatangkan, menghadirkan kerajaan-Nya, mewujudkan persatuan dengan Allah, sesama dan alam ciptaaan. "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu"

Sebelas dari dua belas murid-Nya, begitu mengalami hadirat Allah dalam Yesus. Mereka bertahan dalam kerapuhannya, terpanggil dan terpilih sebagai saksi-saksi Allah yang hidup dalam diri Yesus Nazaret.  Mereka, orang-orang kecil, kepadanya Yesus mewahyukan diri-Nya yang sejati. Mereka memanggil Allah dengan sebutan Bapa, tanpa pernah memikirkan jenis kelamin. Mirip sebutan "bapa angkasa" dan  "ibu pertiwi", tak pernah para penyebutnya memperdebatkannya sebagai perempuan atau lelaki. Mereka mengenal dan mengalami Yesus yang datang dan berasal dari Aallah sebagai Anak Allah. Sebutan "Anak Allah" ini pun tak pernah terlintas di benaknya perihal jenis kelamin Allah. Sebagaimana mereka yang menyebut "anak tangga" tak pernah berpikir jenis kelamin tangga?

Para murid, orang kristiani, mengenal dan mengalami Yesus sebagai Allah yang mengejawantah. Jika Allah berkuasa menjadi buku, maka Allah berkuasa pula untuk menjadi manusia. Logis dan masuk akal sehat kan? Siapakah gerangan manusia kok berani melarang Allah menjadi manusia?

Bahwa Allah turun sebagai manusia, "nuzul insan", hadir sebagai sesama, merupakan karunia belaka. Yesus itu Allah sekaligus manusia. Yesus, bukanlah manusia yang menjadi Allah, tetapi Allah yang menjadi manusia. Berkat Yesus dan kuasa Roh-Nyalah yang memampukan setiap orang kristiani mengaku Yesus itu Tuhan. "Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN