Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kuatkanlah Hatimu, Aku Telah Mengalahkan Dunia!

17 Mei 2021   09:42 Diperbarui: 17 Mei 2021   09:49 144 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kuatkanlah Hatimu, Aku Telah Mengalahkan Dunia!
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bacaan,  Senin 17  Mei  21    (Yoh 16:29-33)

Yoh 16:29 Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata bahwa akan tiba saat-Nya bahwa Ia tidak lagi berbicara dengan memakai kiasan. Maka kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. 30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah." 31 Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang? 32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. 33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

             

Renungan

Menurut Wikipedian,  Raden Ngabehi Rangga Warsita pujangga keraton Surakarta menulis karya sastra Kalatidha tahun 1860. Bait syair yang paling dikenal orang Jawa dari karya sastra ini berbunyi : Amenangi zaman dan, wuhaya ing pambudi, mlu dan nora tahan, yn tan milu anglakoni, boya kaduman mlik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang ling lawan waspada. (Berada di zaman gila, serba salah dalam bertindak. Ikut-ikutan gila tidak akan tahan, tetapi kalau tidak mengikuti arus, tidak kebagian, (lalu) jatuh miskin pada akhirnya. Tetapi Allah Mahaadil. Sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada)

Bacaan Injil hari ini menarasikan hal serupa. Bahwa pada akhirnya lewat jatuh bangun orang beriman, yang ling dan waspada  akan keluar sebagai pemenang. Pada awalnya, murid-murid Yesus untuk menjadi beriman kepada-Nya, memerlukan waktu untuk bertumbuh.  Yesus  memproses kesejatian iman mereka. Selama ini para murid belum memahami, tidak memahami, gagal memahami salah memahami tentang siapa dan bagaimana Yesus dan Bapa. Ketika Yesus berbicara tanpa kiasan mereka  sedikit mengerti bagaimana Yesus mengenal Bapa, Allah benar yang kasih-Nya tanpa batas. Bahwa Yesus datang dari Bapa, sebagai Utusan Bapa telah mewartakan rencana dan kehendak Allah yang benar. Yaitu keselamatan, yang tidak lain merupakan  persekutuan manusia dengan Allah yang berdampak pada persekutuan dengan sesama dan alam semesta tanpa batas. "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."

Meski akhirnya murid-murid-Nya pada percaya, namun Yesus segera menyatakan resiko dari iman kepercayaannya. Mereka jangan mengandalkan diri sendiri. Sebab sebentar lagi mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri Yesus ditangkap dan dibantai pemuka agama Yahudi. Mereka akan seperti anak-anak ayam yang induknya disikat dan dimakan musang. Mereka akan lari meninggalkan-Nya, tercerai berai ketakutan bagai anak-anak domba berhadapan dengan kebuasan dan kebrutalan serigala yang sebulan tidak makan. Sekalipun murid-murid-Nya tidak bertahan, lari tunggang langgang menyelamatkan diri, Yesus tetap maju tak gentar bersama Bapa, Allah benar yang kasih-Nya tanpa batas.

Justru pada saat kritis iman kepercayaan para murid-Nya dipertanyakan kesungguhan dan kesejatianya. "Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku".

Namun anehnya justru karena mengalami hal yang demikian itu, Yesus menjanjikan kedamaian sejati, sebagai harga mahal yang harus dibayar bagi para pengikut-Nya. "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku". Di tengah-tengah dunia yang kerasukan setan, justru yang jahat,  keliru, palsu, semu, saru, begitu laku. Yang ngawur, sesat, bejat, nekat sebagai bangsat seakan tidak mengalami kiamat.  

Sedangkan kebaikan, kebenaran, kejujuran, keindahan kelembutan belas kasih di-emoh-i, jadikan alergi  dan disingkirkan. Yesus mengingatkan untuk tidak gentar dan takut. "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." Iman kristiani berkualitas tinggi justru teruji saat berhadapan dengan situasi kondisi intoleransi, persekusi, dibulli, dicaci maki, diancam, ditindas, disiksa  bahkan dieksekusi mati. Bukan karena korupsi, kolusi kejahatan dan kebusukan  manipulasi, melainkan karena hidup benar sebagai manusia benar yang mengandalkan Allah benar yang kasih-Nya tanpa batas.  

Pada akhirnya yang keluar sebagai pemenang, yang memiliki relasi harmonis penuh kedamaian sejati dengan Allah dan sesama, bukanlah gerombolan bangsat, manusia sesat, bejat dan jahat. Dengan gagah perkasa, seorang diri menghadapi kebengisan manusia dengan kasih Bapa, Allah benar yang kasih-Nya tanpa batas. Dengan kebangkitan-Nya, Yesus keluar sebagai pemenang. Jangan takut. Jangan gentar. Yesus telah teruji dan terbukti, tidak lari menghadapi semangat jahat dunia. Yesus tidak ikut edan di jaman manusia dirasuki kejahatan yang menggila. Yesus telah mengalahkan kejahatan dunia, sejak dua puluh abad yang lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan