Mohon tunggu...
Pendidikan

Melawan Media Global

12 Desember 2018   20:57 Diperbarui: 25 Desember 2018   22:30 89
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Melawan arus tidak selalu salah. Penyebaran informasi dan produksi media yang semakin gencar, akan berbanding lurus dengan tingkat filtrasi sebuah negara yang tentunya memiliki kebijakan sendiri sesuai dengan batasan-batasan Undang-undang negara tersebut.
Ekspansi bisnis produk media yang besar-besaran dan sangat ketat, tentunya membentuk kasta-kasta yang hadir sesuai dengan experience penonton.

Sampai hari ini, hegemoni perfilman barat menjadi kiblat perfilman dunia. Sadar atau tidak, secara tidak langsung adat dan pemikiran ala "Barat" ini memengaruhi pola pikir juga perilaku kita. Akhirnya dalam masyarakat kita membentuk kubu "kolot" secara pemikiran karena memegang teguh adat istiadat lokal, dan juga kubu "liberal" bagi mereka yang ikut-ikutan gaya hidup ala "Barat".

Mari mundur sedikit melihat apa yang terjadi di Indonesia ketika ekspansi bisnis media luar negeri masuk ke Indonesia. Bisnis terkadang focus terhadap untung-rugi. Ketika hegemoni demam telenovela asal Amerika Latin masuk ke Indonesia, hampir semua ibu-ibu menjadi penonton setia. Sebut saja telenovela "Esmeralda" yang melegenda di kaum era-90an. Telenovela ini menjaga icon keberhasilan Amerika Latin dalam menggambarkan liku-liku kisah cinta yang mampu membius penonton dari negara lain.

Jika kita mau menengok ke negara-negara multi bahasa, tentunya aka nada permintaan khusus untuk saluran dari negara asal mereka sebagai sarana untuk merasakan "feels like home" di negeri orang, dan di negeri yang ditinggali minim siaran yang menggunakan budaya mereka. Adanya satelit mempermudah alur distribusi produk media ke ranah pasar global.

Maka dari itu, setiap negara yang sebagian besar penduduknya beragama muslim pasti menetapkan undang-undang untuk filtrasi produk-produk barat yang masuk ke negaranya. Contoh saja Arab, Iran dan juga Indonesia. Sebagian besar yang menjadi target filtrasi adalah produk media yang di dalamnya melibatkan perempuan. Negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim tentu mempunyai standar aturan bagaimana seorang perempuan jangan sampai menjadi target eksploitasi seksual di media.

Warna baru dalam dunia bisnis media hadir ketika India menjadi salah satu negara dengan produksi film yang dinikmati oleh banyak kalangan. Drama tentang keluarga, politik, kisah mistis, hingga mitologi, dikemas apik dengan memasukkan unsur budaya di dalamnya. Demam Bollywood merebak kemana-mana dan bersaing ketat dengan Hollywood.

Sisi positif dari kecanggihan teknologi dalam distribusi produk media ke berbagai negara adalah masyarakat mampu ikut merespon wacana maupun isu-isu yang terjadi di dunia melalui ulasan di internet atau sekadar bercerita secara lisan. Selain itu, diera keterbukaan informasi saat ini, banyak masyarakat menjadi paham terhadap sebuah kondisi yang disajikan oleh produk media. namun akan menjadi masalah ketika kemampuan filtrasi sebuah masyarakat masih rendah.

Produk media tidak hanya dipakai untuk tujuan komersil semata, namun beberapa media digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan agama, paham-paham tertentu, budaya juga dipakai untuk memecah-belah sebuah koloni.

Diaspora-diaspora mapan seperti milik Arab misalnya, mereka yang berbasis di London itu mengajak negara-negara menjadi pendukung mereka dan membuat wajah Arab yang dikenal sebagai negara konservatif, menjadi negara yang kebarat-baratan. Dan mereka juga mengkampanyekan bahawa negara besar seperti AS wajib mendukung elite Arab yang berpaham moderat dan pro Barat.

Secara pertumbuhan ekonomi dan juga teknologi, peran negara besar seperti Tiongkok tidak bisa dipandang sebelah mata. Penyebaran populasi etnis Tionghoa yang hampir merata membuat Tiongkok mampu menjadi negara yang sangat banyak dimintai izin saluran oleh negara-negara yang didiami oleh etnis tersebut di luar negeri.

Hari ini ketika kita melihat produksi media di Indonesia, hampir sinetron-sinetron yang tayang di televisi menggunakan pola-pola yang diterapkan oleh negara luar yang produknya pernah booming di Indonesia. Memang banyak film Indonesia yang meraih penghargaan di luar negeri namun sepi tepuk tangan dari kalangan sendiri bahkan beberapa film akhirnya dicekal namun laris di pasaran luar. Minimnya film-film bernuansa budaya yang tampil di bioskop membuat perfilman Indonesia sulit bersaing dengan negara barat dan juga India.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun