Mohon tunggu...
Banyu Wijaya
Banyu Wijaya Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

#nusantaraindonesiatrulyuniversa

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Penciptaan Kera Berdasi Goyahkan Iman

4 September 2012   06:41 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:56 398 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Penciptaan Kera Berdasi Goyahkan Iman
13467349672040540655

Tulisan ini berusaha memahami konsep penciptaan di dalam kitab suci secara ilmiah dan memahami teori evolusi secara teistik sehingga diharapkan antara sains dan agama tidak mempunyai jurang perbedaan dan pemisah yang tajam, frontal, dan ekstrim. Dengan perspektif tersebut, tulisan ini sebenarnya tidak sedang membandingkan model penciptaan manusia antara yang dinarasikan Alkitab dengan yang dinarasikan al-Quran. Kedua teks tersebut dijadikan sebagai pijakan berpikir teologis tentang bagaimana kitab suci menarasikan tentang asal-usul manusia yang nantinya akan dipadukan dengan penjelasan dari teori evolusi. Demikian pula, tulisan ini tidak memaksakan kitab suci untuk disesuaikan dengan penjelasan ilmiah (teori evolusi) atau sebaliknya teori evolusi diharuskan disesuaikan dengan konsep pemahaman kitab suci. Dua otoritas tersebut, yakni sains dan kitab suci, diusahakan untuk didudukkan dalam proporsi yang sebenarnya. Oleh karena itu, varian pemikiran tentang konsep kemunculan manusia yang bersumber dari kitab suci tersebut dengan berbagai varian konteksnya dan khususnya dalam konteks teori evolusi dielaborasi secara proporsional dalam tulisan ini. Baru setelah itu, akan dibahas titik temu antara konsep penciptaan dalam kitab suci dengan teori evolusi. (dok.  http://stainpress.wordpress.com/2008/07/03/kera-berdasi/) Judul: Kera Berdasi. Intrepretasi Ilmiah tentang Penciptaan Manusia di dalam Bible dan al-Qur'an ISBN: 979-3655-57-7 Penulis: Suparjo, M.A. Editor: Suwito NS. Penerbit: STAIN Press, Purwokerto, 2007 +++ Pertama kali saya membaca buku hasil tesis yang penulis pertahankan di Progra Studi Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini di sebuah perpustakaan, lupa waktunya, sepertinya 3-4 tahun silam, lupa juga tempatnya, entah di Perpustkaan Kota Yogyakarta (Jl. Suroto, Kotabaru) atau Perpustakaan Provinsi DIY (Badran, Yogyakarta) atau UPT Perpustakaan II Universitas Gadjah Mada (utara Mirota Kampus UGM, kini sudah berpindah ke gedung perpustakaan baru di selatan Balairung UGM). Membaca buku, yang ditulis dengan sangat bagus ini, perasaan saya bagaikan teraduk-aduk tidak karuan. Serasa bentukan keyakinan saya ambyar, berserakan, sekaligus membuat iman saya goyah. Walaupun sempat mempertanyakan sebagian kalimat yang termaktub di dalam buku, karena keterbatasan pemahaman saya, tetapi secara umum saya harus berterima kasih kepada penulis atas bukunya yang sangat bermanfaat lagi bermutu. Lebih-lebih, saya harus mengucapkan thank You, Alloh SWT, Alhamdulillah buku itu tidak membuat saya murtad dari agama Islam. Keyakinan saya sebelumnya terbentuk sejak kecil hingga masa-masa belajar di pusat budaya Jawa, Yogyakarta laiknya rollercoaster, naik-turun, kemudian menjadi mantap mencapai puncaknya setelah membaca dan menonton sekian buku dan film, terutama karya Harun Yahya yang sangat fenomenal. Perkenalan dengan Harun Yahya berawal dari hadiah kado dari teman-teman terbaik saya pada Desember 2003. Kemudian saya teruskan dengan membaca buku dan tulisannya yang berserakan di internet. Kemudian kegoyahan iman menyergap saya lagi saat membaca buku karya Suparjo, M.A. ini. Saking penasarannya saya dengan buku ini, maka saya bernadzar harus membeli buku ini. Maksudnya dengan memilikinya maka lebih leluasa untuk membaca sekaligus merenungkan dan mencerna kata per kata. Alhamdulillah saya mendapatkan buku ini sekitar setengah tahun yang lalu pada bursa buku terbatas di Pusat Antar Universitas UGM. Kebetulan pengikut bursa sekaligus si pedagang buku itu cukup saya kenal. Memang saya cukup sering membeli buku-buku "murah dan bermutu" kepada alumni FE UGM itu. Setelah membeli buku itu saya membacanya kembali meskipun tidak sampai selesai hingga kini saya menuliskannya di Kompasiana ini. Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa perdebatan kebenaran sains dengan kitab suci, wabil khusus Al-Qur'an, akan ada sepanjang masa, karena itu disuarakan oleh manusia, makhluk yang memiliki keterbatasan-keterbatasan. Sementara bagi Allah SWT tidak ada perdebatan semacam itu. Pendukung masing-masing mengklaim sebagai yang paling benar, itu sah-sah saja, namanya saja manusia. Justru seringkali perdebatan-perdebatan akan memicu kelahiran "penemuan-penemuan baru". Namun demikian masing-masing pun memiliki risiko dan konsekuensinya kelak di kemudian hari. Bagi saya pribadi sebagai Muslim, Islamlah yang memiliki Al-Qur'an sebagai satu-satunya pedoman harus saya yakininya terus-menerus meskipun saya juga terus-menerus memantau perkembangan sains. Bagaimana pun saya mengakui bahwa sains sangat membantu bentukan keimanan saya. Banyak hal saya terlebih dahulu membaca Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijtihad baru mencarinya di sains, ataupun sebaliknya. Alam semesta ini masih terus-menerus mengalami perubahan. Sains, meski kadang dengan dalih tanpa kitab suci, menemukan teori A yang dianggap sebagai yang tersahih, kemudian hari ditumbangkan dengan teori B, demikian seterusnya. Padahal "penemuan" teori baru itu bukanlah hal baru, karena sebenarnya sudah sejak dahulu ada, hanya saja manusia melalui sains baru menemukan. Sebagai contoh, gaya gravitasi Bumi sudah ada sejak Bumi ada, tetapi baru diketemukan oleh manusia melalui sains belakangan sehingga akhirnya tercipta rumus perhitungannya. Oleh karenanya, secara tegas saya mengatakan bahwa sains berasal dari pembacaan terhadap kitab suci, karena di kitab suci informasi itu ada. Hanya karena sebab-sebab tertentu oleh oknum-oknum tertentu maka sains seakan minyak dan air. Padahal, sains pun berasal dari Tuhan sebagaimana contoh "penemuan" gaya gravitasi itu. Keimanan saya memutuskan bahwa yang benar dan paling benar adalah Allah SWT. Walaupun diakui bahwa pengetahuan mengenai kebenaran itu pun berasal dari manusia yang memiliki keterbatasan, tidak sempurna. Justru karena ketidaksempurnaan itulah manusia, yang berderajad unggul dibandingkan makhluk lainnya, sehingga tongkat kekhalifahan diberikan-Nya kepada Adam dan seterusnya diestafetkan kepada keturunannya yang juga manusia, sangat bergantung kepada dzat yang lebih unggul segala-galanya dari manusia. Kesempurnaan memang hanyalah milik-Nya sehingga apa pun yang berasal dari-Nya adalah kebenaran. Wallahu a'lam... *) kalimat Wallahu a'lam adalah bentuk pengakuan akan keterbatasan manusia, sekaligus pengakuan akan kesempurnaan Allah SWT, terutama memang diakui oleh Muslim ketika membahas persoalan penciptaan dan hal-hal lain yang sangat sulit dijangkau nalar, meskipun sebenarnya itu tergelar, tetapi tidak semua manusia memahaminya. ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al-Mujadilah[58]: 11).

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan