Pendidikan

Ketika Shalat Diartikan Sempit

17 Mei 2018   21:43 Diperbarui: 17 Mei 2018   21:55 128 0 0

Mengawali artikel ini, berikut disuguhkan Kidung Pemut atau Kidung Pengingat.

Pawelingku dho elingo iblis penggoda niro

Pancen setan lan iblis iku musuh iro sanyoto

Katon manis gebyar -- gebyar endahing alam ndonyo

Sing dho waspodho godane iblis biso nemah ciloko

Terjemahan bebasnya.

Pesanku ingatlah bahwa iblis itu penggodamu

Karena setan dan iblis itu memang musuhmu yang nyata

Tampak manis dan indah gemerlap didunia ini

Waspadalah godaan iblis dapat membuatmu celaka

Kidung Pemut ini menekankan  agar  manusia selalu  ingat, terhadap godaan iblis, setan dan sebangsanya, karena memang mereka adalah musuh manusia yang senyatanya dan selalu berusaha keras menjadikan manusia sebagai temannya, yang pada dasarnya mereka itu adalah ahli neraka.

Mereka bertekat akan menjerumuskan manusia, ke jurang kenistaan dan jurang kesengsaraan dengan berbagai cara. Diantaranya mereka berusaha agar perbuatan buruk dan maksiat dimuka bumi ini, tampak indah dan bergemerlapan bak fatamorgana, dimata manusia yang rendah kadar ketaqwaannya. Kecuali orang -- orang yang muchlis, yaitu mereka yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah Swt.

Surat Al Hijr ayat 39. Iblis berkata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau  telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Al Hijr ayat 40 menyatakan : kecuali hamba -- hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka. 

Lalu bagaimana cara agar manusia tidak terjebak oleh tipu daya iblis, setan dan sebangsanya? Tiada cara lain, kecuali manusia harus selalu ingat kepada Tuhan. Mudah bukan? Namun semudah itu pulakah mewujud-nyatakan kedalam tingkah laku, perbuatan dan tutur kata dalam kesehariannya? Tidak! Hal ini disebabkan karena pada umumnya, orang menyama - artikan sembayang dengan shalat, dan pemahaman seperti itu sudah berjalan secara turun temurun dari orang tua, walau orang tua tidak mendapat petunjuk-Nya. Dan sayangnya generasi penerus, dengan serta merta mengikutinya tanpa mau peduli dan mengkaji makna pelaksanaannya.     

Surat Al Maa-idah ayat 104. Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti rasul. Mereka menjawab: Cukuplah kami apa yang kami dapati bapak -- bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa -- apa dan tidak ( pula ) mendapat petunjuk.

Surat Al Baqarah ayat 170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab (tidak), tetapi kami  hanya  mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. ( Apakah mereka akan mengikuti juga ), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

Mari disimpulkan sendiri, apakah akan mengikuti kebiasaan pendahulunya yang mengartikan shalat sama dengan sembayang seperti yang berjalan selama ini? Atau mau mengkaji untuk memperoleh kebenaran hakikinya. Bila tidak ada kepedulian untuk mengaji ulang, alangkah malangnya hidup ini. Karena hidup manusia sekarang ini, tidak ada bedanya dengan hidup manusia di zaman ke Nabian dahulu. Atau dengan kata lain hidup manusia sekarang ini, tidak ada bedanya dengan hidup manusia di zaman jahiliah dahulu.

Sebagai generasi penerus mestinya mau peduli dan mengaji kembali Al Qur'an, melalui rasa yang merasakan ( Jawa = roso pangroso ). Dan bukan berdasarkan perasaan, agar tidak terjebak dengan rasa suka dan tidak suka ( like and dislike). Bila memang pelaksanaan firman Tuhan yang dilakukan selama ini sudah benar, mari dijaga dan ditingkat -- kembangkan kebenarannya. Tetapi bila belum benar dan belum tepat dalam memahami perintah dan petunjuk-Nya, mari dikaji ulang pelaksanaan firman Tuhan tersebut. Agar dapat mewariskan Al Qur'an sebagai pedoman hidup bagi anak - cucu dengan benar dan tepat, tanpa harus menyalahkan orang atau kelompok lain.

Karena sesungguhnya ada persamaan dan ada perbedaan nyata, antara sembayang (sembahyang) dengan shalat. Andaikan shalat dimaknai sama dengan sembayang, artinya shalat diartikan sempit. Umat Islam diwajibkan shalat dalam satu hari satu malam 5 waktu. Selama ini, kalau melaksanakan 1 kali shalat wajib memerlukan waktu 5 menit, misalnya. Diantara 2 shalat wajib, shalat atau tidak? Tidak. Kalau diantara 2 shalat wajib, shalat lagi, shalat lagi dan lagi, terus kapan waktu untuk bekerja mencari sandang, pangan dan papannya?  

Untuk memudahkan, kita sepakati saja. Setiap shalat wajib diperlukan waktu 12 menit. Jadi selama satu hari satu malam, umat Islam diwajibkan shalat selama 60 menit alias 1 jam. Mari dirasakan dan jujur mengatakan dalam diri sendiri. Apakah kiranya sudah mengandung kebenaran dalam memahami perintah dan petunjuk Tuhan, yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. bahwa umat Islam dalam waktu satu hari satu malam (24 jam) hanya diwajibkan mengingat Tuhan selama 1 jam. Lalu yang 23 jam, tidak wajib ingat Tuhan? Karena itu seusai shalat, lalu diisi dengan melakukan perbuatan tercela dan tidak terpuji, karena beragapan sudah tidak wajib ingat kepada Tuhan.

Bila pemahaman selama ini demikian, lalu mana pengamalan atau pewujud--nyataan surat Ali Imran ayat 191 yang penggalan kalimatnya sebagai berikut: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring ....... Untuk memahaminya, mari kita gunakan kejujuran, bisa merasa dan menurunkan gengsi, dalam memahami perintah dan petunjuk-Nya.

Surat Thaahaa ayat 14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. 

Dalam  ayat tersebut terdapat 2 ( dua ) perintah yaitu, sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Untuk jelasnya. Sembahlah Aku untuk mengingat Aku, ini perintah dan petunjuk-Nya yang pertama. Pelaksanaannya, yang dikenal dengan sembayang ( sembahyang ). Tata cara sembayangnya orang Islam, sebagaimana tuntunan Nabi. Diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tata cara sembayang ini, merupakan pewujud-nyataan keberadaan manusia, sekaligus merupakan  pengakuan dan persaksian, bahwa ghaib manusia  berasal langsung dari Allah Tuhan Yang Maha Suci. Dan kesanalah kita semua akan kembali.

Dari kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya sembayang merupakan ritual dalam membangun hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Sering kita dengar dengan sebutan "hablumminallah".   

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku, ini perintah dan petunjuk-Nya yang kedua. Hanya bedanya, shalat merupakan pewujud-nyataan sifat ke - Illahian manusia ( dijelaskan dalam artikel di Kompasiana terdahulu dengan judul Siapa Aku ).

Pelaksanaannya bagaimana? Pelaksanaannya dengan mewujud -- nyatakan sifat -- sifat Allah Swt. Tuhan Yang Maha Suci, kedalam perbuatan, tingkah laku dan tutur kata dalam keseharian kita (ketika shalat diartikan luas). Dengan demikian, penganut Islam sesungguhnya diberi petunjuk dan diperintahkan untuk mengingat Tuhan secara terus menerus tanpa terputus, baik dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring.

Surat Ali Imran ayat 190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda -- tanda bagi orang yang berakal, 

Surat Ali Imran ayat 191. ( yaitu ) orang -- orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit  dan bumi (seraya berkata) :" Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia -- sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Artinya, selama sehari semalam umat Islam diwajibkan selalu ingat kepada Tuhan baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring, dengan cara melakukan sembayang wajib 5 (lima) waktu;  Dan diantara 2 sembayang wajib, mendirikan shalat. Jadi pada hakekatnya sembayang dan shalat adalah sama, yaitu sama -- sama mengingat Tuhan; Hanya cara melakukannya yang berbeda.

Cara melakukan shalat, bagaimana? Cara melakukannya adalah, dengan mewujud -- nyatakan  atau mengaktualisasikan sifat -- sifat Yang Maha Suci, kedalam tingkah laku, perbuatan dan tutur kata kita sehari -- hari. Jadi bukan hanya diucapkan dibibir, tanpa diikuti dengan pelaksanaan atau perbuatannya.

Misal. Ada  orang  minta -- minta ( pengemis ) datang, malah   mau  dimaki -- maki. Tetapi  karena kita ingat ( Jawa = eling ) bahwa Tuhan Maha Pengasih, lalu kita mengedepankan sifat pengasih. Tidak jadi memaki -- maki si pengemis, malah memberikan sesuatu yang dimiliki dengan iklas, tanpa mengharap imbalan. Karena jengkel, lalu mau menempeleng orang. Tetapi karena kita ingat ( Jawa = eling ) bahwa Tuhan Maha Penyayang, lalu kita mengedepankan sifat penyayang. Tidak jadi menempeleng orang. Mentang -- mentang bukan saudaranya, yang seharusnya menerima pembagian hasil kerja banyak, malah diberi sedikit. Sedangkan saudaranya yang hanya melihat  saja,  malah  akan diberi banyak. Kita ingat Tuhan Maha Adil, lalu mengedepankan sifat adil. Akhirnya memberikan pembagian hasil kerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing - masing, tanpa melihat seseorang itu saudaranya atau bukan.

Dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya, mari dikembangkan sendiri sesuai dengan sifat Yang Maha Suci. Yang penting, shalat ( mengingat Tuhan ) itu hendaklah diwujud -- nyatakan kedalam tingkah laku, perbuatan dan tutur kata kita sehari -- hari. Apapun situasi dan kondisi yang sedang dihadapi saat itu.  Jadi  dengan  mengingat  Tuhan  secara  terus  menerus  tanpa terputus, pada hakekatnya akan mencegah ( bersifat preventif )  perbuatan -- perbuatan yang tidak baik.                                           

Surat Al 'Ankabuud ayat 45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab ( Al Qur'an ) dan diri kanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari  ( perbuatan -- perbuatan ) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah ( shalat ) adalah lebih besar (keutamannya dari ibadat -- ibadat yang lain ). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Langkah nyata seperti ini yang mestinya digelorakan, untuk melakukan perang suci atau jihad melawan hawa nafsu. Demi keselamatan diri sendiri, baik didunia maupun dikehidupan kelak kemudian hari.                  

Surat Al 'Ankabuut ayat 6Dan barang siapa yang berjihad,  maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar -- benar Maha Kaya ( tidak memerlukan sesuatu ) dari semesta alam. Demikian mestinya memaknai jihad itu.

Dari kenyataan tersebut, hendaklah mendirikan shalat itu dimaknai dengan pewujud-nyataan sifat dan kehendak Tuhan. Kedalam tingkah laku, perbuatan dan tutur kata kita sehari -- hari. Dilaksanakan secara terus menerus tanpa terputus diantara 2 sembayang wajib, baik dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Mengaktualisasikan sifat dan kehendak-Nya dalam keseharian hidup  kita  sebagaimana  uraian tersebut,  hakekatnya  adalah membangun hubungan manusia dengan alam semesta umumnya, dan khususnya membangun hubungan antar manusia. Sering kita dengar, dengan sebutan "hablumminnannas".

Bila setiap orang telah memahami hakekat hablumminallah dan  hablumminnannas, serta mengamalkan atau mewujud - nyatakan dengan baik shalat dalam arti luas, mudah -- mudahan kedepan kita sudah tidak melihat lagi; Kegiatan seusai sembayang lalu melakukan perbuatan tercela: Seperti demo, dimana masjid digunakan sebagai tempat berkumpul para pendemo. Tidak lagi melihat orang melakukan: korupsi, berbohong, memfitnah orang, melakukan teror, menjelek -- jelekkan orang, dan lain-lain perbuatan tidak terpuji. Insyaallah, amiin.