Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Disini duduk menunggu Langganan

Tak punya pilihan, memilih linear lalu sembunyi

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Rindu SBY

26 Februari 2021   10:31 Diperbarui: 26 Februari 2021   10:34 194 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rindu SBY
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dalam video arahan kepada pimpinan dan kader Partai Demokrat yang dirilis pada Rabu (24/2/2021).(Dokumentasi/Partai Demokrat) Sumber: kompas.com

Sosok fisik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang penah nostalgik hadir kembali kemarin lewat video yang disiarkan untuk para kader tingkat pusat dan tingkat ranting. Inilah penampilan SBY yang paling romantik, sehabis cukup silam semenjak kepergian isteri tercinta Ani Yudhoyono , merunut bahkan mungkin semenjak SBY yang begitu setia mendampingi belahan jiwanya dalam perjuangan melawan sakit. Rindu SBY terobati sejenak menyaksikan gambar SBY yang masih 'dignity' sebagai mantan presiden dibandingkan dengan para mantan sejenis. Pula masih terlihat aura 'genuine' dari seorang jendral dibandingkan dengan jendral sejenis. Mengingatkan SBY dimasa 'langitnya' saat menjadi pilihan.

Mengingatkan 'rising star' TNI dalam krisis reformasi, saat publik membutuhkan serdadu rakyat dimana kala itu TNI telah terformat ke dalam politik Orde Baru. Mengingatkan pula krisis Presiden Gus Dur vs DPR, ketika SBY mundur dari jabatan Menko untuk ogah terlibat benang kusut tapi tampak mulia. Mengingatkan pula ketika menjadi 'victimized' saat keluar kabinet Gotong Royong presiden Megawati, untuk 'quantum leap' memenangkan pilpres 2004 bersama Demokrat yang saat itu potensial lalu mengganti supir handalnya.

Mengelola krisis adalah SBY, seorang 'Jendral yang Berpikir', yang piawai berlayar diantara dua bahkan tiga gelombang besar lalu memanfaatkan ombak untuk melajukan perahunya. Seorang pembaca kisruh politik yang mumpuni, berhitung cermat. Itu khas SBY yang tidak dimiliki oleh lain orang sekelasnya.

Histori tiga krisis besar masing-masing mengamplifikasi SBY tidak saja menjadi jendral pintar, namun juga pujaan orang dan 'media daring' pada setiap merindu di masanya.

Namun jaman berganti, seperti gunung yang jauh indah dipandang, begitu kita kerap mendakinya, menjadikan keindahan itu melandai di kerutinan. Semua begitu, kekaguman pudar ketika prosentasi politiknya gede. Tapi benang merah SBY sebagai pengolah manajemen krisis masih mumpuni. Kita menunggu, sehabis pernyataannya soal Gerakan Pengambilalihan Kekuasan Partai Demokrat --GPKPD yang menyasar Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko, diluar sepengetahuan presiden Jokowi. Masih ditambahkan pula adanya pencatutan Prof Mahfud, Yasona, Listyo Sigit dan Budi Gunawan.

Membaca dari berita dan gesture, susah dibobotkan apakah situasi sudah demikian gawat bagi Partai Demokrat, mengingat segelintir internal kader dan mantan kader yang disebut sebagai pelaku GPKPD yang kemudian muncul di publik adalah orang-orang yang sudah jarang didengar kabar beritanya. Agak susah ditelan nalar bahwa seorang Moeldoko yang garam politiknya belum asin, lagi membawa gerbong internal kecil dan lawas merencanakan 'kudeta' Demokrat yang masih dalam keadaan masif di tangan SBY. Dan 'ngeri kali' ketika dimetamorfosakan sebagai halilintar di siang bolong. Ada sesuatu yang tidak 'link and match'.

Penyebutan diluar pengetahuan Jokowi dan pencatutan nama beberapa petinggi mentri dan setingkat mentri terkait dengan yang dilakukan Moeldoko bisa saja ambigu. Penyebutan Moeldoko dan berhenti disitu harusnya sudah cukup, karena sudah sangat jelas menyiratkan bahwa posisi Moeldoko di lingkungan kabinet kepresidenan beserta efeknya, tanpa harus menyebut presiden dan lainnya. Ada kesan absurditas, ketika Demokrat akan dengan mudah menyingkirkan kerikil tapi seperti menggusur gunung. Dilihat dari perkembangan terbaru jawaban Moeldoko bahwa dia tidak mengetahui perkembangan Partai Demokat serta jangan menekan jika tak ingin dia mengambil langkah sebagai hak yang diyakini. Langkah yang diucap Moeldoko, bisa menjadi hal serius dan membuka kotak pandora isu soal Demokrat, apakah kotak yang berisi atau kotak pepesan kosong. Hal yang enggak serius menjadi serius merupakan salah satu makna dari suatu manajemen krisis, dimana mungkin Moeldoko akan menjadi tidak penting lagi atau 'batu loncatan' bagi putra SBY, AHY untuk identifikasi parta lambang 'Benz' ini.

'Pujian' integritas untuk presiden Jokowi dan mentri, karena tidak bersangkut dengan isu 'kudeta' Moeldoko, juga merupakan hal aneh, tentu saja mereka orang yang berintegritas karena memegang ketinggian level untuk ratusan juta rakyat. Bisa dibayangkan jika seorang kepala KSP termundurkan, goncangan kabinet berlipat dibandingkan jika hanya mentri yang keluar, aransemen lagu bisa dimulai dari kosong lagi, irama kabinet mesti mengikuti birama baru atau revisi. Mungkin seperti servis besar atau turun mesin. Akan mengganggu kerja, persis seperti yang diutarakan Moeldoko di awal bahwa jangan bawa-bawa istana. Bisa jadi, kerugian yang didapat Demokrat tidak sebanding dengan yang dibayarkan. Atau hanya membakar uang.

Rindu SBY sebagai juara dalam posisi mengatasi krisis nasional seperti jaman silamnya sangat dinantikan, entah itu masalah Covid atau masalah 'major' lain, ketimbang masalah yang notabene soal intern 'keluarga'.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x