April Perlindungan
April Perlindungan lainnya

pemuda desa, menyusuri lorong sunyi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Bertahan

14 November 2011   02:37 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:42 97 0 0

Perasaanku sudah lebih dari dua jam, tubuh ini merayap dari rumah menuju rawa-rawa. Padahal dalam keadaan biasa, cukup menghabiskan waktu lima belas menit untuk sampai disana. Seperti yang kulakukan sebulan lalu. Tapi kini tinggal tenaga di kedua tangan dan otot perut, yang menggerakan tubuh ini. Sementara kaki sudah tak kuasa lagi menopang beban tubuh yang nyaris tak berdaging.




Pandangan mulai kabur, ku gerakan otot leher untuk memperjelas penglihatan. Sia-sia ! tiap kali melakukan gerakan, kepala ini serasa di hantam godam. “ Sial ! tak kusangka malaria sedahsyat ini”. Gerutuku dalam hati. sesekali aku menyerah dalam detik-detik itu. Namun bayangan rawa yang di tumbuhi kangkung terus mendominasi seluruh otak. Selanjutnya otak memerintahkan otot tangan dan perut ini untuk terus merayap. “ ayo bergerak ! disana ada kangkung “.


***


Setahun lalu, aku bersama ratusan kepala-keluarga transmigran jawa bermukim di tempat ini. Nampak alami hamparan belantara yang harus kami buka demi bertahan hidup di tempat ini. “ Lipat Kain”, nama tempatnya. Tanah yang tidak dikenal dan terisolir .


Umumnya penduduk jawa yang rindu akan tanah harapan, tak heran jika dalam waktu seminggu belantara itu sudah di perawani. Dengan sisa bekal dari kampung halaman, dan dengan segala keahlian, hari-hari dihabiskan untuk membuka ladang. Menumbangkan pohon sebesar kebo itu dengan gergaji, kapak, patik. Hal sama, dengan penuh semangat, bersama tetanggaku, Soman, aku mulai melakukan tebasan. Istri cukup menyediakan makanan ala kadarnya, sedangkan kedua anakku mulai mengakrabi suasana rimba. Mereka mulai berani membuntutiku membuka belantara.


“ Apa yang akan kau tanam Yus ?” tanya Soman singkat, ketika kami sama-sama memandang hamparan yang sebentar lagi berbentuk ladang.


“Singkong !”. singkat pula aku menjawab.


“kenapa ? padahal kepala UPT nyuruh kita tanam jagung”. Susul Soman.


“ jagung sebagian, sisanya tetap singkong. Pucuknya bisa dimakan, ubinya jadikan oyek. Selanjutnya kita tanam padi dan palawija”.


Soman terdiam mendengar penjelasanku. Kami memang jarang membuka obrolan ketika memandang calon ladang. Pikiran kami banyak menerawang masa depan di tanah ini. Mimpi kami terlalu indah untuk dibuyarkan dengan percakapan.


***


Sembilan bulan kemudian...


Seperti daun yang gugur dari pepohonan, tubuh-tubuh lemas itu pasrah tertiup angin kemarau. Di bagian lain, sayup-sayup masih terdengar isak tangis.


Pertama kali, aku kaget melihat kematian. Seperti ketika Soman melepas nyawanya dengan lemas, disusul istri dan anak semata wayangnya. Genagn kedua tangan yang bergetar, Soman ku kuburkan  di belakang pemukiman, karena tetangga lain tak ada yang sanggup lagi menggali. Mereka kehilangan tenaga.


Mengenang Soman, butuh waktu dua hari aku memandang singkong yang tinggal batang. hari-hari berikutnya kembali menjadi biasa.


Kemudian kematian berlanjut, setiap hari, setiap jam....tak ada pertolongan, sekian lama Kepala Unit Pengelola Transmigrasi-KUPT sebagai penanggung jawab tempat ini tak menampakan batang hidung. Jatah sembako yang dijanjikan sembilan bulan silam tak kunjung datang. Warga pun tak dapat menghindar dari malaria dan lapar. Sementara, singkong yang kutanam, satu persatu hilang bersama palawija lain akibat hama. Tetangga pun bernasib sama. Hari-hari, kami yang tersisa mulai menjerat babi, “menuak” ikan rawa, setelah tak ada lagi babi yang terjerat, dan tak ada lagi ikan yang bisa dimakan. Kematian menjadi hal yang biasa untuk disaksikan...


Melindungi selembar nyawa, dengan lemas  kutuntun tangan istriku. Si kecil kugendong dengan kain sarung . Si Jalu dengan sisa tenaganya kubiarkan berjalan di depan. Sepanjang jalan, aku melihat mayat-mayat. Anak –anak menangisi mayat orang tuanya,  orang tua  menangisi mayat anaknya. Diantara mereka, ada yang memohon agar anak-anaknya yang lunglai itu di bawa dalam perjalananku. Tapi aku harus menepis sisi kemanusiaan itu, jangankan membawa mereka, menggendong si kecil pun saat itu terasa mengendong seekor gajah.


kami tiba Simpang Koran. Setelah seluruh barang berharga  dijual, hasilnya cukup untuk membeli satu tiket pulang ke Jawa. Negosiasi dengan sang kondektur hanya membolehkan istri dan kedua anakku ikut kedalam Bus. Dengan satu tiket, terpaksa harus melepas mereka menempuh perjalanan ke Jawa tanpa penjagaanku.


Setelah kulepas meraka, antara sadar dan tidak, langkah ini menuntunku kembali ke Lipat Kain. Memastikan diri, kelak jika nyawa ini tercabut, ragaku ingin di dekat kuburan Soman. namun sebelum  bergegas, kutitipkan pesanpada penjaga warung.” Bila bertemu dengan pihak berwajib tolong tengok Lipat Kain!”. Pesanku. Penjaga hanya mengangguk.


****


Kangkung-kangkung itu melambai, seperti salad yang tersaji di restoran. Kubangan rawa nampak seperti piring raksasa yang menampung berbagai jenis makanan. Aku ingin terjuan ke piring raksasa itu, melahap semua yang ada. Ya..aku ingin terjun...aku terjun ke piring raksasa “ Byurrrrrrrrrrrrrrrrr!!!


Lipat Kain-Riau, 1988.