Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Widi Utami, Blogger dan Kompasianer Tuna Rungu Asal Salatiga

8 November 2018   16:43 Diperbarui: 8 November 2018   20:32 1099 40 29
Widi Utami, Blogger dan Kompasianer Tuna Rungu Asal Salatiga
Widi Utami, perempuan tangguh yang pantang mengeluh (foto: dok pri)

Widi Utami (26) ibu muda warga Klampeyan RT 01 RW 03, Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, adalah sosok cerdas dan tangguh. Perempuan penyandang tuna rungu tersebut merupakan seorang blogger sekaligus Kompasianer yang menempuh pendidikan di sekolah umum. Seperti apa perjuangannya dalam meraih kehidupannya, berikut catatannya.

Sebagai sesama Kompasianer, saya mengenal Widi sebatas dirinya adalah seorang penulis yang produktif. Kendati sama- sama tinggal di Kota Salatiga, interaksi di antara kami dilakukan melalui dunia maya. Hingga akhirnya, Senin (5/11) sore,  secara tak sengaja saya mampir ke rumah Bekti Umiyati yang ternyata merupakan kakak kandungnya.

"Widi adik kandung saya yang paling bungsu," kata Bekti sembari memanggil Widi yang rumahnya berdekatan.

Seperti galibnya dua sahabat yang bertemu, kami langsung berjabatan erat seraya mengobrol. Nah, baru beberapa kalimat, saya tertegun dan penuh tanya. Kenapa setiap saya berbicara tanpa bertatap muka, Widi sepertinya kebingungan.

Baru setelah kakaknya memberitahu bahwa Widi sejak bayi tuna rungu, saya jadi mafhum adanya. "Widi harus melihat gerak bibir lawan bicaranya," jelas Bekti.

Dua sahabat akhirnya bertemu di dunia nyata (foto: dok pri)
Dua sahabat akhirnya bertemu di dunia nyata (foto: dok pri)
Duh, maafkan sahabatmu ini Widi yang terlalu naf sehingga tak mampu membaca gesturmu. Begitu mengetahui Widi penyandang tuna rungu, saya langsung merengkuhnya.

Sungguh tak menyangka, perempuan cerdas yang di dunia maya sangat komunikatif ini, ternyata tidak sedari bayi tidak bisa mendengar apa pun.

Saya pun semakin mengapresiasi keberadaannya, sebab, sebelumnya saya hanya berinteraksi tanpa bertatap muka.

Tertarik dengan sosok Widi, akhirnya saya berupaya menggali lebih detail tentang dirinya. Hasilnya, perjuangan perempuan kelahiran tanggal 15 Febuari 1992 sangat luar biasa.

Bagaimana tidak? Ia yang tuna rungu, menolak bersekolah di SDLB (Sekolah dasar Luar Biasa), dia memilihi menempuh pendidikan di SD umum tanpa menggunakan alat bantu dengar (ABD).

"ABD tak membantu Widi, jadi dirinya secara  otodidak belajar berkomunikasi  sendiri," ungkap Bekti.

Menurut Bekti, pihak keluarga baru mengetahui bahwa Widi mengalami gangguan pendengaran saat dirinya akan memasuki bangku SD. Setelah memastikan anak bungsu itu tuna rungu, keluarganya mulai melatihnya berkomunikasi.

"Dia sering ngamuk karena tak paham, tapi keluarga memaksanya. Satu kosa kata, harus diulang berulangkali agar dirinya mengerti," ungkap Bekti.

Widi didampingi Waluyo, kakak iparnya (foto: dok pri)
Widi didampingi Waluyo, kakak iparnya (foto: dok pri)
Diterima di Sekolah Favorit

Hanya untuk berbicara saja, Widi membutuhkan perjuangan yang keras. Di mana, gerak bibir lawan bicara menjadi fokus memulai suatu pembicaraan. Hingga akhirnya ia bersekolah di tingkat SD, kemampuannya berkomunikasi semakin terasah setelah bisa membaca buku. Sebab, dari buku pelajaran itulah otaknya terisi beragam kosa kata. Praktis, masa pendidikan dasar 6 tahun berhasil dilewatinya dengan mulus.

Hingga tahun 2004, Widi lulus dari bangku SD, tentunya ia pantang berpuas diri mengantongi ijasah SD. Oleh kakak iparnya yang bernama Waluyo, dirinya didaftarkan ke SMP Negri 1 Kota Salatiga. Padahal, ini adalah sekolah lanjutan paling favorit di Salatiga.

"Dia diterima, tetapi kami tidak memberitahu pihak sekolah bahwa Widi tuna rungu," kata Waluyo yang ikut berbincang.

Bila sebelumnya hanya berkumpul dengan teman- temannya yang jumlahnya terbatas (satu kelas), begitu memasuki bangku SMP, Widi harus berinteraksi dengan ratusan rekan barunya. Sebab, di SMP favorit ini, muridnya mencapai sekitar 12 kelas.

"Ada yang sudah mengetahui Widi tuna rungu, namun banyak yang tidak tahu. Akibatnya di awal sekolah, Widi kesulitan berinteraksi," imbuh Waluyo.

Kendati banyak menemui kendala sewaktu duduk di bangku SMP, khususnya pada mata pelajaran bahasa Inggris, namun Widi mampu menamatkan sekolahnya tanpa halangan apa pun. Bahkan untuk bahasa Inggris, nilai yang didapatnya mencapai angka 8.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3