Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Buruh - Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Diamputasi Kaki dan Tangan Kirinya, Afi Tetap Ingin Sekolah

19 Maret 2018   14:09 Diperbarui: 19 Maret 2018   14:23 2681
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Afi sepulang dari RSUP Karyadi Semarang (foto: dok Theresia)

Afifatul Aliyah (12) gadis cilik berparas cantik warga  Dusun Plaosan RT 05 RW 09,Desa Dadapayam, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang  layak diapresiasi. Kendati sudah kehilangan tangan dan kaki kirinya akibat terkena setrum kabel listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN), namun, dirinya tetap antusias meneruskan sekolahnya. Seperti apa  cerita pilu anak petani ini ? Berikut kisahnya.

Afi, demikian biasa disapa, adalah anak bungsu pasangan Parjan (48) dan Damiah (47) yang bekerja di perkebunan kopi di Sumatera. Karena faktor ekonomi, bocah cantik tersebut ditinggal di desanya, ia hanya ditemani kakak perempuannya yang bernama Emi (16). Tentunya, pengawasan sang kakak terhadap segala polah adiknya kurang maksimal. Maklum, ia juga masih bersekolah. Sedangkan Afi, duduk di bangku kelas III Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Tersenyum saat mencoba jam tangan barunya (foto: dok pri)
Tersenyum saat mencoba jam tangan barunya (foto: dok pri)
Seperti galibnya anak- anak usia 8 tahunan, Afi memang cenderung suka bermain di luar rumah bersama teman- temannya. Hingga 13 Desember 2013, siang, merupakan hari yang tak mungkin dilupakan seumur hidupnya. Pasalnya, tanggal tersebut petaka dahsyat menimpanya sehingga harus kehilangan tangan kiri, kaki sebelah kiri dan ibu jari kaki kanannya. Ya, organ tubuh itu terpaksa diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya.

Sebelum kejadian, Afi yang baru saja pulang sekolah, berjalan kaki dengan  Masitoh (8). Hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya, terdapat pohon kersen (bahasa Jawa disebut Talok) yang tengah berbuah. Dasar anak- anak, mereka tertarik untuk mengambil buahnya yang berasa agak manis tersebut. " Afi dan Masitoh memanjat pohon yang tidak begitu tinggi itu," kata Damiah.

Karena posisi buah banyak yang berada di bagian pucuk, Afi belakangan mengambil batang almunium sepanjang sekitar 1, 5 meteran. Kebetulan di dekat lokasi terdapat home industri pembuatan perabot berbahan baku almunium. Sembari terus memanjat, tangan mungilnya berupaya meraih buah kecil- kecil yang tak laku dijual itu. Langkahnya ini, merupakan awal petaka bagi dirinya. Sayang, bahaya besar yang tengah mengintainya tidak disadari.

Tepat di atas pohon kersen, tertutup dedauan, sebenarnya terdapat kabel listrik tegangan tinggi. Kendati begitu, Afi mau pun Masitoh tak menyadari adanya maut yang siap menyergapnya. Afi tetap berupaya meraih buah kersen, akibatnya fatal. Ujung almunium ternyata menyentuh kabel bermuatan setrum. Dan, tubuh kecil itu langsung tersengat hingga pingsan di atas pohon. Begitu pun Masitoh, dirinya yang ikut tersengat ikut tidak sadarkan diri.

Duh, sungguh mengenaskan kondisi bocah cantik itu. Tubuhnya nyaris terpanggang, khususnya di bagian tangan kiri dan dua kakinya. Sementara Masitoh lebih beruntung, kendati ikut pingsan, namun tak mengalami luka berarti. Warga yang mengetahui keberadaan dua anak ini, berupaya mengevekuasinya setelah aliran listrik mati.

Menebar senyuman dalam kondisi seperti sekarang (foto: dok pri)
Menebar senyuman dalam kondisi seperti sekarang (foto: dok pri)
Operasi Lima Kali

Setelah berhasil diturunkan dari pohon kersen, Afi langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Salatiga untuk mendapatkan pertolongan medis. Sayang, minimnya peralatan di tempat itu, membuat pihak dokter merujuknya ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Karyadi Kota Semarang. Emi bersama kerabat lainnya yang mendampingi sang adik, dipaksa lintang pukang mengurusinya.

Sungguh celaka, di RSUP Karyadi ternyata ruang isolasi luka bakar dalam kondisi penuh. Akhirnya, untuk menyelamatkan nyawa Afi, ia dilarikan ke salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Semarang. Sembari menunggu orang tuanya tiba dari Sumatera, Afi diperam di ruang isolasi. " Karena lukanya sangat parah, akhirnya tangan kirinya diamputasi dan menelan biaya sebesar Rp 21 juta," tutur Damiah.

Tagihan Rp 21 juta bukanlah angka yang kecil bagi pasangan Parjan dan Damiah, pasalnya, di Sumatera mereka hanya buruh pemetik kopi. Dengan cara meminjam ke beberapa kerabatnya, akhirnya seluruh tagihan mampu dilunasi. Atas saran pihak RS swasta tersebut, Afi dirujuk ke RSUP Karyadi dengan menggunakan fasilitas Jamkesda. " Berbeda dengan BPJS sekarang, Jamkesda hanya menjamin biaya pengobatan sebesar 50 persen dari total tagihan," ungkap Damiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun