Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Nenek Ini Ubah Tong Kardus Bekas Jadi Kursi Cantik

22 Februari 2017   16:06 Diperbarui: 22 Februari 2017   20:39 0 45 32 Mohon Tunggu...
Nenek Ini Ubah Tong Kardus Bekas Jadi Kursi Cantik
Beragam kursi tong kardus buatan nenek Rosa (foto: dok pri)

Rosalina, nenek berusia 60 tahun warga Jalan Muwardi Nomor 32, Kota Salatiga memang kreatif. Untuk mengisi hari-harinya, ia membuka kios untuk menjajakan tong kardus bekas wadah obat dan berinovasi dengan mengubahnya menjadi seperangkat kursi cantik yang biasa digunakan di berbagai kafe maupun teras rumah.

“Sebenarnya yang memulai adalah anak saya yang bernama Andreas Joseph. Setelah anak saya bekerja di Jogja, saya meneruskannya karena sudah ada tukang yang menggarapnya,” ungkap Rosalina yang biasa disapa Bu Rosa, Rabu(22/2) siang di rumah sekaligus kiosnya.

Ini bahan bakunya (foto: dok pri)
Ini bahan bakunya (foto: dok pri)
Awalnya, Rosa hanya menyediakan beragam tong kardus bekas obat yang dijualnya secara eceran. Hingga empat bulan lalu, tebersit ide untuk membuat kursi yang berbahan baku tong yang sama. Hal tersebut segera didiskusikan dengan putranya yang gemar mengutak-atik berbagai barang. Setelah dibuat desain, akhirnya diproduksilah beberapa contoh.

Beberapa contoh kursi sengaja saya pajang di kios, ternyata banyak orang yang tertarik sehingga mereka melakukan pesanan yang menggunakan desain sendiri,” kata Rosa.

Tong kardus sengaja dipilih karena menurut Rosa, kendati berbahan baku kardus, mampu menahan beban 100 kilogram. Meski begitu, dirinya enggan mengambil risiko kerusakan sehingga bagian dalamnya perlu ditopang kayu yang tentunya menjamin lebih awet.

Agar semakin kuat, bagian dalam dibuat penopang (foto: dok pri)
Agar semakin kuat, bagian dalam dibuat penopang (foto: dok pri)
Bila tong kardus bekas per buah biasanya dijual Rosa antara Rp 35.000 hingga Rp 85.000 bergantung ukurannya, setelah dipermak menjadi seperangkat kursi yang terdiri 4 buah dan 1 meja, ia mematok harga Rp 750.000. “Satu set kursi biasanya diselesaikan dalam waktu tiga hari kerja, tetapi bila jumlah pesanan banyak, kami bisa merampungkan lebih cepat karena tukangnya juga kami tambah,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Andreas Joseph mengakui bahwa ide pembuatan kursi dari tong kardus merupakan kolaborasi antara ibunya dengan dirinya. Karena idenya dirasa cukup rasional dan dianggap tak sulit merealisasikannya, rencana tersebut langsung dieksekusi sejak empat bulan lalu. Usai diproduksi beberapa contoh, ternyata pasar meresponsnya secara positif. "Sekarang ini buat kesibukan beliau, saya hanya memantaunya dari jauh," ungkap Joseph.

Ibu Rosa dikiosnya tengah menghitung laba (foto; dok pri)
Ibu Rosa dikiosnya tengah menghitung laba (foto; dok pri)
Pesanan Kafe

Untuk membuat seperangkat kursi, lanjut Rosa, biasanya yang mendesain adalah putranya. Setelah pola gambar disetujui calon konsumen, ia segera menyerahkannya ke tukang langganannya. Demikian pula untuk mejanya, pemesan boleh memilih meja berbahan baku tong kardus atau meja kayu yang dibuat menggunakan kayu jati Belanda.

Dalam menggarap kursi, Rosa menggunakan cara sederhana. Dari berbagai kursi yang tersisa di kiosnya, terlihat badan tong ada yang dibalut dengan oscar, stiker, maupun disemprot cat. Meski desainnya berbeda-beda, dirinya tetap mematok harga yang sama, yakni satu set Rp 750.000. Konon, hanya orang-orang yang berjiwa seni saja yang menjadi pelanggannya.

Salah satu kursi yang dibalut oscar (foto: dok pri)
Salah satu kursi yang dibalut oscar (foto: dok pri)
Mayoritas konsumen yang menggunakan produk Rosa adalah kafe-kafe, kendati begitu, tak sedikit warga yang memanfaatkannya untuk kursi teras. “Belum lama ini saya baru saja mendapat pesanan dari Malang Jawa Timur sebanyak 24 set kursi berikut mejanya, katanya akan digunakan di kafe,” ujarnya.

Untuk pesanan kafe, kata Rosa, pihaknya memasang harga lebih murah. Pasalnya, pesanan biasanya tanpa melalui proses finishing, artinya desain gambarnya akan dibuat sendiri pemesan. Harga satu kursi tong kardus polosan tersebut, dihargai Rp 60.000 sedangkan meja berbahan kayu jati Belanda dihargai Rp 150.000.

Diakuinya, kursi-kursi berbahan baku tong kardus bekas, sebenarnya mampu bertahan bertahun-tahun. Sebab, kardus yang digunakan merupakan kardus keras buatan Taiwan. Sedangkan kelemahannya bila terkena air, alamat umurnya relatif pendek. “Makanya jangan sampai terkena air secara terus-menerus, misalkan tersiram air, segera dikeringkan,” pesan Rosa serius.

Penampakan kursi tong setelah jadi (foto: dok pri)
Penampakan kursi tong setelah jadi (foto: dok pri)
Rosa memang enggan menjelaskan berapa penghasilannya dari memodifikasi tong kardus bekas menjadi kursi yang cantik. Meski begitu, langkahnya layak diapresiasi. Pada usia senjanya, ia tetap berupaya mencari kesibukan yang positif untuk merawat otaknya agar tidak terkena virus kepikunan. Dan, satu hal yang penting lagi, dirinya tak pernah melarang orang meniru desain kursi-kursi buatannya.

“Kalau dirasa buatan kami dianggap mahal, silakan membuat sendiri dengan tong kardus bekas. Soalnya cara membuatnya bisa melihat kursi yang ada di sini,” jelasnya sembari memperlihatkan penopang kayu di bagian dalam kursi miliknya.

Begitulah kisah kreatif dari Kota Salatiga. Nenek Rosa yang mulai sepuh, ternyata tetap saja sarat kreativitas. Sembari momong cucu- cucunya, ia menghabiskan waktunya menunggu barang dagangannya yang inovatif. Kalau orang yang telah berkepala enam saja masih mau berupaya, kenapa yang lebih muda malah memelihara otaknya yang beku? Ayo bergerak, kobarkan semangat inovasi agar tak tergerus zaman. (*)