Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Buruh

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

PLTA Tertua di Indonesia Ini Ternyata Masih Perkasa

14 Mei 2016   15:52 Diperbarui: 14 Mei 2016   21:04 1114 38 39
PLTA Tertua di Indonesia Ini Ternyata Masih Perkasa
Gerbang {LTA Jelok (foto: dok pribadi)

Berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Salatiga, terdapat harta peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang sarat sejarah. Harta tersebut bernama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tertua di Indonesia. Bagaimana kabarnya sekarang? Berikut penelusuran saya.

Sabtu (14/5) siang, sekitar pukul 13.00 bersama pasangan abadi, saya berangkat ke PLTA Jelok. Karena jalur utama ke arah Bringin macet akibat perbaikan jalan, saya mengambil rute melewati Kecamatan Tuntang. Kondisi jalan relatif bagus, beberapa kali melintasi hutan karet yang mampu membangkitkan romantisme masa lalu. Sehingga tak terasa, sepeda motor sudah memasuki kawasan Jelok.

Dari pintu gerbang Jelok, terlihat PLTA itu berada di ujung dusun paling bawah. Melewati jalan menurun yang curam, akhirnya tiba juga di tujuan. Sayangnya, penjagaan sangat ketat, sehingga kami tidak diijinkan memasuki areal PLTA. “ Kalau mau masuk, harus mengajukan ijin tertulis dulu pak. Tanpa ijin terlebih dulu, memang aturannya tak boleh masuk,” kata Kisman (45) karyawan Indonesia Power yang menjadi pengelola PLTA Jelok.

PLTA Jelok berada di antara lembah (foto: dok pribadi)
PLTA Jelok berada di antara lembah (foto: dok pribadi)
PLTA Jelok, berada di Desa Delik, Kecamatan Tuntang , Kabupaten Semarang atau 30 menit perjalanan dari Kota Salatiga. Pemandangannya eksotis, posisinya yang berada di bawah lembah ditambah  dukungan keramahan warga yang tinggal di sekitarnya membuat siapa pun betah tinggal di sini. Keberadaan perusahaan  penghasil setrum yang memanfaatkan air dari Rawa Pening ini, dibangun oleh Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) alias pengelola listrik di jaman itu.

ANIEM sendiri merupakan perusahaan asal Amterdam yang oleh pemerintahan kolonial diberi hak penuh mengelola listrik sejak tahun 1909. Dalam kondisi jaman yang serba susah, ANIEM juga mempunyai wewenang membangun PLTA. Tahun 1938, dipilih lokasi Jelok untuk didirikan PLTA pertama di Indonesia. “Sebelumnya sudah ada PLTA di Susukan, entah dibangun tahun berapa yang jelas sebelum PLTA Jelok dibangun. Tempatnya di situ,” jelas Kisman menunjuk lahan belukar yang hanya berjarak 10 meter.

7-jpg-5736e66f3cafbd770ecf66e7.jpg
7-jpg-5736e66f3cafbd770ecf66e7.jpg
Memanfaatkan air yang melimpah dari danau alam Rawa Pening, di kawasan sungai Tuntang dibuat dam untuk mengalirkan air melalui pipa raksasa. Dengan dukungan dua pipa berdiameter sekitar 1,5 meter, tekanan air mampu menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik sebesar 93 GWh per tahun. Tenaga yang dihasilkan oleh dorongan air itu memang cukup dahsyat, pasalnya posisi air tingginya mencapai 144 meter. “Turbin yang dipakai buatan Werk Spoor Escher Wyss Holland type Francis poros datar yang mampu menggerakkan generator buatan AG Brown Hemaf Oerlikon dalam putaran 600 rpm,” kata Kisman.

Dua pipa raksasa yang mengalirkan air dari Tuntang (foto; dok pribadi)
Dua pipa raksasa yang mengalirkan air dari Tuntang (foto; dok pribadi)
Rumah Dinas Dijual Rp 300 Juta

Keberadaan PLTA Jelok di jaman pemerintahan kolonial Belanda memegang peranan sangat vital. Di mana, dari lokasi yang relatif pelosok ini, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang hingga Kota Semarang memperoleh pasokan setrum. Kendati jatah rumah pribadi hanya dicatu sekitar 60 watt, namun, di masa itu aliran listrik menjadi simbol status sosial masyarakat. Selain warga Eropa, juga golongan ningrat saja yang mampu menikmati listrik.

Paska kemerdekaan, pengelolaan PLTA Jelok diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang ditugaskan mengelola jaringan listrik, belakangan merasakan kapasistas PLTA Jelok sudah tidak memadai lagi. Terkait hal tersebut, tahun 1957 dibangun PLTA Timo yang berjarak sekitar 4 kilo meter. Air yang sebelumnya dipakai menggerakkan turbin di Jelok, ditampung di Kolam Tandu. Selanjutnya melalui pipa berdiameter 3 meter dialirkan menuju PLTA Timo.

dsc01044-jpg-5736e587b47e61a50c1a36ea.jpg
dsc01044-jpg-5736e587b47e61a50c1a36ea.jpg

Dari PLTA Timo yang mempunyai tiga generator, mampu dihasilkan listrik sebesar 12 megawatt. Sebelum air dimanfaatkan menggerakkan turbin, di Kolam Tandu air tersebut juga digunakan sebagai tempat memelihara ikan yang setiap orang boleh memancingnya. Syaratnya, selain membayar juga wajib mematuhi berbagai tata tertib. Bila Hari Minggu atau hari libur, biasanya banyak warga yang memancing sembari melepas penat di sini.

Kembali ke PLTA Jelok, menurut Kisman, saat ini penghasil setrum tersebut dikelola oleh Indonesia Power selaku anak perusahaan PT PLN. Kosekuensi pengambilalihan  itu, para karyawan PT PLN yang sebelumnya berdiam di Jelok terpaksa harus hengkang. Hal itulah yang menyebabkan situasi areal PLTA Jelok semakin sepi. Bahkan, beberapa rumah dinas peninggalan Belanda, terlihat tak terurus.

Salah satu rumah besar yang diduga dulunya dihuni oleh kepala PLTA, terlihat kosong melompong. Kaca- kacanya raib, bangunan yang didominasi bebatuan tersebut, menurut kabar sudah dibeli oleh warga Salatiga. Padahal, rumah seluas hampir 300 meter persegi dan menempati lahan 1.000 meter persegi ini, semisal dirawat sangat eksotis. Dari ruangan dalam, pemandangannya wow! Teramat indah.

5-jpg-5736e624cf7a61710756355b.jpg
5-jpg-5736e624cf7a61710756355b.jpg
Menurut salah satu warga Salatiga, rumah itu memang tidak ditempati karena pemiliknya hidup di luar negeri. Saat ini, bangunan yang harusnya termasuk cagar budaya tersebut akan dijual. Jangan kaget, harganya sangat murah. Sebab, pemilik hanya mematok harga Rp 300 juta!, untuk bangunan berikut tanahnya. Itulah sedikit cerita tentang PLTA tertua di Indonesia, meski nafasnya tersengal, namun tetap dibutuhkan hingga sekarang. (*)