Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis, editor, dan konsultan. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini menjabat sebagai Ketua Umum Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia), Direktur Institut Penulis Indonesia, serta Direktur LSP Penulis dan Editor Profesional.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Masa Depan Buku Setelah Covid-19

27 Oktober 2020   05:35 Diperbarui: 27 Oktober 2020   09:29 379 24 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masa Depan Buku Setelah Covid-19
Creativa Images/Canva Pro

Saya bukanlah futuris yang berkemampuan bak ahli nujum---dapat meramalkan apa yang terjadi pada masa depan. Namun, buku karya Jason Schenker bertajuk The Future After COVID mendorong saya menulis esai semiringkas ini tentang apa yang mungkin terjadi pada dunia penerbitan buku.

Buku Schenker terdiri atas esai-esai pendek tentang prediksi apa yang terjadi di berbagai bidang pasca-COVID-19. Namun, Schenker tak menyentuh soal penerbitan buku. Biarlah ini menjadi urusan saya sebagai tukang buku keliling.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pandemi corona atau oleh WHO disebut secara resmi COVID-19 telah mengharu biru (mengacaubalaukan) berbagai tatanan kehidupan, tidak terkecuali dunia usaha dan dunia industri. 

Penerbitan buku juga terkena imbas ketika penjualan buku cetak (baca: buku kertas) secara langsung di berbagai saluran penjualan mandek sejak Februari 2020 hingga kini (Oktober 2020).

Penerbit buku pendidikan yang seharusnya menuai laba pada tahun ajaran baru, tahun ini berdarah-darah. Sekolah dan perguruan tinggi tiba-tiba harus mengubah pemelajaran tatap muka menjadi pemelajaran jarak jauh (PJJ). 

Buku teks tak lagi dapat digunakan secara normal, digantikan oleh modul-modul mandiri yang dikembangkan oleh guru atau dosen dalam situasi darurat. Pemerintah pun memaklumkan kurikulum darurat yang "memutilasi" kompetensi dasar sehingga buku teks berbasis K-13 terasa berat digunakan pada masa pandemi.

Demikian pula penerbit buku religi Islam yang biasanya memanen fulus pada saat menjelang Ramadan dan musim haji, juga harus menerima takdir terhempas. Ramadan saat COVID-19 adalah Ramadan yang benar-benar sunyi dan syahdu menyisip harus, termasuk dari penjualan buku. 

Penerbit buku umum yang biasa berjaya dengan tema baru dan tren, otomatis juga mati kutu karena kutu-kutu buku juga berpuasa membeli buku. 

Pameran dan bazar buku yang biasa menyemarakkan bulan-bulan kehidupan kita, kini digantikan dengan pameran daring yang bagi sebagian kutu buku dianggap garing. 

Dua pameran buku terbesar di Ibu Kota yakni Pesta Buku Jakarta dan Indonesia International Book Fair harus diselenggarakan secara daring melalui kerja sama dengan pemilik lokapasar (marketplace).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x