Cerpen

Syukuran Merah Padam

13 Januari 2019   23:45 Diperbarui: 13 Januari 2019   23:59 344 0 0

Pensiun atau masa pensiun. Itulah hal yang paling dibenci oleh Darno. Itu seperti momok yang sangat menggelisahkan dan mencabik ketenangan jiwanya. Sehingga setiap ia mendengar siapapun yang membicangkan hal-hal yang berkaitan dengan masa pensiun, ia langsung menyumpal telinganya rapat-rapat. Bahkan melarikan diri darinya cepat-cepat.

Tak berpenghasilan lagi. Dua anak yang masih kuliah. Angsuran rumah BTN yang belum lunas. Usia yang makin menua. Tenaga yang kian melemah. Bisakah dapat pekerjaan lagi? Yang muda saja masih banyak yang menganggur. Apalagi yang pensiunan. Logika Darno yang logis itulah yang mengharamkannya bicara tentang pensiun. Baginya itu absurd dan bahkan seperti harakiri.

Namun tiga tahun ke sini, Darno sudah jauh lebih tenang dan nyaman dengan kehidupannya sekarang ini. Majikannya, yang bernama Bonggo Pribadi dan istrinya, kini sikapnya makin hari makin baik terhadapnya. Dalam tiga tahun ini saja, gajinya sudah naik dua kali. Setidaknya, itu yang membuat semangat kerjanya makin menggelora.

Apalagi istrinya sudah dua tahun ini, punya usaha sendiri kecil-kecilan. Marta dan Markus pun (meski belum kelar kuliahnya), juga sudah dapat pekerjaan sambilan. Artinya mereka sudah bisa biayai kuliahnya sendiri. Dan tahun depan cicilan rumahnya juga akan  lunas. Pendeknya, kehidupan mereka sekarang ini sudah lumayan aman dan sejahtera.

Kenyamanan itu membuat Darno makin enggan pensiun. Ia merasa masih bersemangat dan produktif. Masih bisa melakukan hal-hal yang bermaslahat. Baginya, pensiun hanya akan membuatnya cepat pikun.

Sebelumnya, ia takut pensiun karena hidupnya masih ngos-ngosan. Kini, enggan pensiun karena hidupnya sudah lumayan nyaman.

                        ***

"Pak Darno, saya pengin bicara hal penting kepada Anda.....," ujar majikan Darno.

"Oh iya.........ada apa Bapak?"

"Pertama, saya dan ibu, tahun  depan akan pulang kampung. Artinya tidak akan tinggal di kota ini, dan di rumah ini lagi. Satu tahun lagi saya sudah berumur tujuh puluh tahun. Saya dan ibu ingin menghabiskan sisa hidup kami di kampung halaman saja."

Artinya setahun lagi ia harus benar-benar purna tugas. Darno pun menangis sejadi-jadinya dalam kebisuan. Mengapa kenyamanan yang baru direguknya, dan spirit kerjanya yang sedang berkobar itu harus berakhir tahun depan? Padahal ia merasa masih sehat dan masih kuat. Meski usianya sudah mencapai lima puluh sembilan tahun, ia masih sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir pribadi. Tapi mengapa..................

"Pak Darno..........," suara Ny. Bonggo menyentak kegalauan hatinya.

"Jangan keburu nelangsa dulu ya, Pak! Pasti Pak Bonggo dan saya, tidak akan lepas tangan begitu saja! Kami pasti ikut memikirkan masa depan Sampean. Kami sudah berencana memberikan pesangon untuk Sampean. Kami ingin agar pesangon itu nantinya bisa dipakai sebagai modal usaha Sampean atau istri Sampean."

                                    ***

Setahun kemudian, ketika umur Darno memasuki tahun ke enam puluh, masa purna tugas itu memang benar-benar harus dijalani. Segala kegamangan dan kecemasan yang sebelumnya pernah selalu menghantuinya itu, kini justru berubah menjadi sebuah kebebasan yang membahagiakan.

Penyebabnya karena pesangon yang diterima dari majikannya, jumlah nominalnya sangat fantastis baginya. Seratus juta rupiah! Seumur-umur Darno dan istrinya belum pernah memegang uang sebanyak itu. Memimpikannya pun belum pernah. Dan itu masih ditambah lagi dengan kiriman dari Agung dan Dinar (putra-putri Pak Bonggo), yang sedang kuliah sambil kerja di Australia.  Masing-masing mengirim dua puluh lima juta rupiah.

"Sungguh tidak sia-sia lima belas tahun aku mengabdi pada keluarga yang berhati mulia itu." Gumamnya kepada dirinya sendiri.

Jika digabung dengan dua puluh juta rupiah uangnya sendiri yang ada di tabungan, maka saat ini Darno dan isterinya memiliki dana segar seratus tujuh puluh juta rupiah. Dan itu baru dicapainya setelah ia baru saja memasuki masa pensiunnya. Barangkali inilah yang disebut sebagai 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian'.

Dengan kepala tegak dan senyuman bangga ia menatap masa tuanya. Pensiun bukan lagi masa suram, tapi masa yang memerdekakan jiwa dan raga. Tugas berikutnya adalah bagaimana cara mengisi kemerdekaan itu. Selamat datang masa pensiun!

                                    ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4