Mohon tunggu...
Balya Nur
Balya Nur Mohon Tunggu... Wiraswasta - Yang penting masih bisa nulis

yang penting menulis, menulis,menulis. balyanurmd.wordpress.com ceritamargadewa.wordpress.com bbetawi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Siapa Lagi Berani Mengaku Telah Berbohong?

4 Oktober 2018   09:33 Diperbarui: 4 Oktober 2018   09:43 892
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sungguh sulit diterima akal sehat. Bagaimana mungkin seorang bisa berbohong begitu "telanjang" hampir bisa dipastikan sangat sulit untuk menutupi kebohongan itu? Harus ada yang menjadi kambing hitam. Setan sudah terlanjur terlaknat, kepadanyalah muara segala tuduhan. RS mengaku entah setan dari jenis mana yang membisikinya.

Selama ini setan punya cara berbohong yang rapi, terencana, sangat meyakinkan, hingga butuh waktu yang sangat panjang untuk membongkar kebohongan itu. Kebohongan yang diberi sampul indah, disusun dengan bahasa yang indah hingga membuat banyak orang yang terbuai.

Setan dungu mana yang telah membisikkan kebohongan ke telinga RS. Setan tanpa visi yang jelas itu pasti setan pendatang baru, yang entah datang dari mana.

Barangkali para setan senior sedang membentuk tim pencari fakta mencari tahu setan dungu mana yang telah iseng membisikan kebohongan ke telinga RS. Masa menggoda manusia yang telah menjadi visi misi klasik nan sakral dijadikan pekerjaan iseng. Tapi bisa jadi RS sedang mengkambing hitamkan setan. Kita tunggu saja hasil tim pencari fakta para setan. 

 Itu urusan dunia lain yang ghaib. Kita bicara yang kelihatan saja. RS telah mengaku dia telah berbohong, dan dia tidak tahu kenapa dia berbohong. Mengaku telah berbohong sebelum bibir yang berbohong kering bukan pekerjaan mudah. Apalagi kalau sampai menghancurkan citra diri yang telah dibangun puluhan tahun, jatuh hanya sekedipan mata saja. Tidak ada hasil secuil pun dari kebohongan itu yang bisa membuatnya tenang selama mengurung diri dari dunia luar nantinya.

 Semua manusia pernah berbohong. Dari mulai yang bohong kecil-kecilan kepada lingkungan terbatas sampai bohong besar-besaran pada lingkungan yang sangat luas. Tingkat kebohongan yang paling luas dampaknya adalah membohongi rakyat, tapi yang dibohongi malah tidak merasa dibohongi. 

 Kebohongan yang dikemas sampul manis berisi kata-kata indah meninabobokan. Tapi seberapa manis pun sampul itu, seberapa indah pun kata-kata itu. Tidak akan bisa membohongi "musuh-musuhmu" yang selalu meneliti dengan cermat janji-janjimu, yang selalu menghitung tiap langkahmu.

 Apa yang diucapkan oleh mulut, bertentangan dengan suara hati. Ini cuplikan puisi dari penyair besar,Hamid Jabar yang wafat saat membacakan puisi. Puisi ini berjudul "istighfar." Coba renungi puisi ini.

 ------------
Astagfirullah astagfirullah astagfirullah astagfirullah
Astagfirullah hari-hari huru-hara diriku duhai astagfirullah

 Tak selesai pada sekedar caci-maki ataupun haru-simpati.
Astagfirullah jungkir-balik salah-kaprah telah berlaku
Astagfirullah, telah berlaku terbeli terjual, namun bukan
Sekedar salah-cetak kiranya bila tiba-tiba laba jadi bala.
Astagfirullah bila bala jadi bola jadi loba jadi besar jadi sebar

 Jadi kabar jadi bakar. astagfirullah. memang ragam jadi
Garam, tapi astagfirullah betapa perihnya teramat parah
Tersebab hati tertukar tahi. maka jika padat menjadi dapat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun