Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (D)
Prof. Dr. Apollo (D) Mohon Tunggu... ***

*

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Ontologi pada Filsafat Hegel

28 Maret 2020   20:39 Diperbarui: 28 Maret 2020   20:51 44 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ontologi pada Filsafat Hegel
Ontologi pada Filsafat Hegel | dokpri

Pada tulisan tentang Ontologi Pada Filsafat Hegel saya meminjam pemikiran Hegel's Ontology dan Theory of Historicity ( Bahasa Jerman : Hegels Ontologie und die Grundlegung einer Theorie der Geschichtlichkeit ) adalah buku 1932 tentang filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan teorinya tentang historisitas oleh filsuf Herbert Marcuse. Itu dipengaruhi oleh filsuf Martin Heidegger;

Buku ini mendapat ulasan positif setelah dipublikasikan dalam terjemahan bahasa Inggris pada tahun 1987. Buku ini dianggap penting untuk memahami perkembangan intelektual Marcuse selanjutnya. Namun, buku itu telah dikritik karena kegagalan Marcuse untuk mendefinisikan istilah "historisitas".

Kenyataan adalah tidak lain adalah roh mutlak atau absolut, yang menjelma menjadi sintesis dialektika antara alam dan logika. Manusia dan substansi duniawi lainnya adalah fase dalam penjelmaan roh absulut itu; Catatan. Pengertian "roh" disini bisa dimaknai logika, kesadaran, system berpikir, mental, jiwa, rasionaltas, dan hal-hal lain yang dianggap mampu dipahami secara umum atau penggunaan fakultas akal budi, fakultas kesan indrawi, dan tema lain yang relevan;

Sifat-sifat mana saja merupakan mengadanya pengada-pengada. Segala perbedaan di antara sifat-sifat pengada akhirnya adalag fase-fase atau momen-momen dalam dialektika terjadinya Roh yang tunggal, Maka dalam seluruh proses itu tetap ada kesamaan fundamental;

Kenyataan merupakan proses penyadaran Diri bagi Roh Mutlak, melalui dialektika pikiran rasionalitas intern, sehingga menghasilkan kesadaran murni [pure reason]; permanensi baru tercapai pada akhir proses itu. Semua pengada terbatas, sebagai momen atau fase dalam proses itu, mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri;

Kontradiksi ini sebagai gerak atau motor untuk mencapai taraf yang lebih tinggi. Semua fase dan momen [orang, benda, peristiwa] diangkat diatasi pada langkah berikutnyaitu, yang menjadi perlangsungan diri mereka, namun juga sudah bukan diri mereka lagi.  Dengan demikian tidak ada apa-apa yang sungguh akan musnah, tetapi semua dilarutkan dalam Roh Absolut itu;

Dalam kenyataan ini sebab dan akibat saling memuat, begitu juga kebebasan adalah penerimaan keharusan; Kenyataan adalah penghayatan Roh Mutlak, yang memikirkan Dirinya sendiri sebagai Idea Absolut, dalam proses dialektis. Tidak ada misteri didalam kenyataan itu; seluruhnya jelas bagi dirinya sendiri, Kehendak dan nilai hanya merupakan tahap persiapan bagi pemahaman;

Semua pengada secara dialektis direalisasikan Roh Mutlak; maka tidak ada kekurangan dalam pengada-pengada actual. Kekurangan kebenaran dan kebaikan itu merupakan melulu fase atau tahap masa lalu; oleh karena itu sintesis actual telah lebih tinggi, maka setiap fase, actual fase yang lampau menjadi kekurangan. Tetapi oleh karena telah diangkat dalam sintesis baru dalam aktualitas sudah bukan mengalami kekurangan lagi;

Hubungan antara Mengada, dan Tiada itu mengkonstitusikan hakikat kenyataan. Mengada yang murni, dan Tiada yang murni sama saja.

Sebetulnya Mengada, dan Tiada itu hanya bertentangan satu sama lain pada taraf pemikiran tertentu. Pada taraf pemahaman yang benar mereka hanyalah beroposisi secara realif. Pada taraf itu [dan itulah realitas sebenarnya], mereka merupakan prinsip-prinsip atau akar akar postif yang sama-sama mewujudkan "menjadi"; Keuda prinsip ini disamakan dengan "Sendiri, dan "yang lain";

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x