Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) (Akademisi)

Guru Besar Tetap FEB Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Diskursus Sistem Ostracism Cleithenes

14 Juni 2018   15:44 Diperbarui: 14 Juni 2018   15:57 739 0 0

Diskursus Sistem Ostracism Cleisthenes

Ide Cleisthenes adalah  reformasi ["isonomia"] atau kesaman warga negara, terutama bidang hukum. Kata iso  artinya persamaan, dan nomos artiya aturan atau hukum. Dokrin Cleisthenes berhasil bertahan sejak 507 SM, dan dikuatkan oleh Pericles. Baru kemudian berakhir pada tahun 338 SM ketika raja Makedonia Philippos menyerbu dan mengalahkan Athena.  Maka demokrasi diresmikan dihapus di Yunani Kuna 322 SM.

Pertanyaannya pada tulisan ini, apakah ada terobosan baru bagi Indonesia yang bersifat melampaui pemikiran Sistem Ostracism Cleisthenes demi menjaga tatanan (oder) Indonesia menjadi lebih baik. Tentu saja harusnya mungkin terutama dilahirkan dari manusia Indonesia yang cerdas dan memiliki jiwa rasional terutama pada punggawa negara ini kita semua terus berharap terobosan tersebut bisa muncul secara baik dan bertanggungjawab. 

Semua ini diawali dari kemampuan diskursus, wacana, naskah akademik, dan validitas pikiran rasional dengan bertumpu pada kemampuan inspirasi negarawan Cleisthenes [Klistenes] pada peradaban Yunani Kuna kurang lebih 2.500 tahun lalu melalui pemikiran reformasinya dengan ide ["Sistem Ostracism"]

Dua kubu politik yang berbeda padangan tetang demokrasi antara Isagoras, dan Cleisthenes [Klistenes] adalah proses reformasi di Athena tahun 513-507 SM. Atau lebih banyak disebutkan sebagai reformasi pertama di Athena. Perselisihan duel habis-habisan bermutu, dengan dasar jiwa rasional dan ketegakkan keadian berani berdiri di kaki sendiri. 

Ketegangan diantara Isagoras, dan Cleisthenes pada saat kekosongan kekuasan setelah Ostracism Hippias. Tokoh reformasi itu adalah Cleisthenes memperoleh dukungan masyarakat bawah, dan berhasil menyingkirkan lawat politik Aristokrat Isagoras.

Cleisthenes merekonstruksi ulang tentang primodial komunal di wilayah dan menghilangkan pengertian geografis suku bangsa, trittyes, deme. Demikian juga pendefinisian ulang pada konsep Ekklesia, boule, heliaia, areopagos. Maka pada dasar kesadaran isonomia", isogonia, isegoria maka kekuatan demos menjadi menonjol pada reformasi Cleisthenes.

Dengan model "Demes atau demoi" Cleisthenes berhasil membuat peran aktif warga negara untuk melakukan reorganisasi dan partisipasi langsung dalam politik dan pengelolan polis Yunani. "Demes atau demoi" (people), dan power (kratos) adalah semacam pencarian manusia idea di pilih pada komposisi perwakilan rakyat. Pemilihannya dilakukan dengan undian (seperti lotre) atau disebut lotteries and elections. 

Siapa saja laki-laki dewasa memiliki probabilitas dan kesempatan yang sama untuk bisa dipilih dalam anggota Dewan. Cukup rasional bahwa anggota dewan (utusan rakyat) dipilih berdasarkan pengalaman mengalami penderitaan terutama peluang sama bagi kelas dalam masyarakat. Diharapkan dengan pengalaman penderitaan maka legislator ini mampu melakukan persuasi atau pendasaran logika retorika demi memperjuangkan kaum masyarakat marginal dan pemberdayaan mereka sendiri. Kemampuan menganalisis bagimana mekanisme kehidupan nyata itu dapat dipahami dengan baik. 

Maka Cleisthenes mengubah komposisi Dewan Rakyat versi Solon 400 anggota menjadi 500 anggota, jangka waktu tugas 10 bulan, tidak bisa dipilih dalam waktu 10 tahun kemudian, dijadwalkan bertemu tiap hari, dan ada dewan malam hari bertugas mencari ide keputusan pada siang harinya. Kemampuan Cleisthenes  menjadikan "Demes atau demoi" sebagai aplikasi pemikir ["Ionia"]. Bahwa ["Ionia"] adalah ide pengetahuan, dan inspirasi intelektual (novelty) dapat menjadi pendasaran kebaikan umat manusia dalam dokrin dan dalil kesadaran pada era zaman Archaic.

Kebijakan pengasingan atau pembuangan, adalah reformasi oleh Cleisthenes dengan sebutan Ostracism paling menonjol pada tahun 487 SM. Ostracism adalah masalah kemungkinan pemimpin atau setiap warga negara di kenakan pemakzulan warga negara atau impeachment. Sistem Ostracism adalah model pecahan genteng atau periuk sebagai statistika untuk penentuan layak tidak layaknya seseorang warga negara atau pemimpin. 

Maka jika ada warga negara dievalusi merusak masyarakat, atau masyarakat tidak percaya pada bupati, walikota, anggota DPR, Gubernur sampai presiden atau siapapun yang memiliki kekuasan public atau semua warga negara; dihitung pada kriteria jumlah 1/5 masyarakat mengumpulkan, atau terkumpul pecahan tersebut maka punggawa tersebut harus kenakan pemakzulan atau impeachment dibuang ke kepulauan seribu dan setelah 5 atau 10 tahun dan bertobat baru bisa dikembalikan menjadi warga negara kembali tanpa adanya sita harta benda dan propertinya. 

Atau dilakukan amesti setelah menjalani isolasi social warga negara. Sistem Ostracism adalah penggambaran pada semacam bentuk kemarahan warga negara diwujudkan pada sanksi social warga negara yang tidak patuh, dan taat pada konsititusi negara, dan tata kelola yang baik, atau sekaligus bentuk proteksi kemungkinan pemimpin menjadi dictator dan menyalagunakan kekuasannya atau potensi menggangu stabilitas negara.

Misalnya nama warga negara Mr. X maka pemakzulan atau Ostracism cara Cleisthenes dilakukan dengan pecahan genteng atau sejenisnya dipakai voting dengan menulis nama Mr.X. Kalendernya dalam tiap tahun dalam sidang di Agora selalu dimungkinkan adanya proses pemakzulan atau ostracism pada seseorang atau beberapa orang, dan bisanya dianggap sah jika memenuhi prasyarat terentu misalnya 6.000 keping genteng. Model pemakzulan atau ostracism warga negara ini adalah cara Cleisthenes mencari dan menemukan sesorang yang bersalah pada konsititusi negara melalui sanksi social atau pengasingan.

Demikianlah ide Cleisthenes era Yunani Kuna, cara merawat ide Republic dikelola, dipertahankan, kejayaan reformasi dalam perspektif keberhasilan menciptakan peradaban kebudayaan sebagai output pemikiran jiwa rasional (ugahari). ***

Daftar Pustaka: Kosmin, Paul., 2015. A Phenomenology of Democracy: Ostracism as Political Ritual., Classical Antiquity. Volume 34, issue 4, page 121-166.

Robinson, Jr., 1952., Cleisthenes and Ostracism., American Journal of Archaeology. Volume 56. No. 1, page 23-56