Bagus Permadi
Bagus Permadi Pedagang

pedagang, pembelajar yang suka travelling dan mendongeng untuk ketiga bidadari cantikku

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Kisah Sukses Seorang Wanita Saudagar Kopi

9 November 2017   21:57 Diperbarui: 9 November 2017   22:08 643 1 1
Kisah Sukses Seorang Wanita Saudagar Kopi
credit: https://www.referensibisnis.com

Perjalanan pulang sejauh 67,9 km dia lalui dengan berjalan kaki karena modal yang dimilikinya pas-pasan, hanya cukup untuk berangkat dan membeli barang dagangan. Tapi tekadnya memang kuat, demi menghidupi kedua anaknya yang masih kecil dia siap melakukan apapun asalkan halal. Semua kekuatannya bersumber dari rasa cintanya kepada keluarga. Inilah kisah perjalanan Khomsiah yang memulai perjalanan usahanya berdagang hanya dengan modal Rp 150,- dan akhirnya berhasil menjadi seorang saudagar kopi.

Temanggung di tahun 1970, merupakan kota kecil yang nyaman dan hawanya sejuk karena lokasinya yang tepat berada di kaki gunung Sumbing dan Sindoro, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Namun bagi Khomsiah yang menghidupi 2 orang anak sendirian tanpa seorang suami dan dengan kondisi pas-pasan, membuatnya tidak bisa berdiam diri. Dia memulai berdagang dengan membeli beberapa kilogram beras dari sebuah pasar di dalam kota Parakan dan menjualnya di luar kota tepatnya di Pasar Sukorejo, Kendal. Setelah seluruh barang dagangannya habis terjual, dia menyempatkan untuk membeli hasil perkebunan disana untuk kemudian dibawa pulang dan dijual kembali di Parakan. Karena modalnya terbatas maka dia memutuskan untuk melalui  perjalanan pulang sejauh 67,9 km menuju kota Parakan dengan berjalan kaki.

credit: https://www.indotravelers.com
credit: https://www.indotravelers.com

Parakan memang dikenal sebagai kota dengan hasil pertanian seperti beras, bawang, jagung dan kedelai. Sedangkan Sukorejo terkenal dengan hasil perkebunan seperti kopi, cengkeh atau kapulaga. Jeli memang insting berdagang Khomsiah, dia yakin bahwa ada peluang yang bisa diperdagangkan antara kedua kota tersebut. Aktifitas berdagangnya walaupun menghasilkan keuntungan yang tipis tetap dikerjakannya dengan sungguh-sungguh dan serius, berat dan tantangan pun tidak dia keluhkan. Bahkan tidak jarang para lelaki hidung belang meremehkan statusnya yang janda, karena saat berdagang memang mengharuskan dia berinteraksi dengan banyak orang, apalagi parasnya pun masih cantik. Namun Khomsiah tetap melindungi kehormatannya dengan bertindak tegas dan keras. Suatu sifat yang bertentangan dengan jiwanya yang lembut dan pengasih.

10 tahun berlalu, usaha dilaluinya dengan pasang surut. Sampai akhirnya terkumpul modal yang cukup untuk menyewa sebuah rumah di depan Pasar Ngadirjo. Disinilah dia membangun kiosnya sendiri, dan usahanya pun menjadi semakin berkembang dan maju. Dia tetap memegang teguh prinsip-prinsip berdagang yang mengutamakan kejujuran dan komitmen, bahkan sampai suatu ketika usahanya pun mengalami kerugian. Tapi gulung tikar dan menyerah kalah tidak ada dalam kamusnya, dia tetap berusaha untuk bangkit kembali. Perjalanan panjangnya selama ini seakan justru memberikan semangat dan hikmah bahwa keberhasilan itu bukan hadiah melainkan ada dibalik kesulitan. Maka setiap kesulitan yang ditemui justru dihadapinya dengan kuat dan yakin bahwa sebentar lagi pintu keberhasilan akan terbuka.

Demikian hingga datanglah sebuah peluang dari seorang teman yang menitipkan barang untuk dijualkan kembali. Sekarung berisi gagang cengkeh, namun apa yang terjadi. Sesampainya di rumah dan dibukanya karung tersebut ternyata di dalamnya tidak hanya ada gagang cengkih namun juga tercampur dengan biji kemukus, komoditas yang saat itu sedang tinggi-tingginya harganya di pasaran. Bagi kebanyakan orang mungkin inilah yang dinamakan rejeki nomplok, tapi tidak baginya. Semalaman dengan tekun dia pisahkan biji kemukus tersebut dan keesokan harinya dengan bersegera biji kemukus tersebut dia kembalikan kepada sang pemilik. Prinsip jujurnya selalu dipegang teguh dan tidak dibutakan oleh keuntungan sesaat.

Setelah kejadian ini, bisnisnya berkembang semakin pesat. Kepercayaan orang kepadanya semakin meningkat dan dia juga makin dipercaya oleh berbagai kalangan petani, sesama pedagang, perusahaan kopi dan bahkan eksportir. Karir berdagangnya pun meningkat menjadi broker hasil bumi dan jaringannya semakin luas hingga berkenalan dengan pengusaha kopi. Seiring dengan itu dia tetap menjadi Khomsiah yang sederhana,modal kejujuran dan disiplin tinggi dalam menepati amanah tetap menjadi pegangan utamanya dalam berdagang.

Lagi-lagi karena dia jujur, dan menjauhi dusta dan khianat maka kemudahan demi kemudahan datang bertubi-tubi kepadanya. Yaitu saat harga kopi di pasaran naik mendadak, ia pun tak segan-segan membayar kekurangan harga kopi yang telah ia beli dari para petani dan pedagang sesuai dengan kenaikan harga tersebut. Ia juga sudah mengenal dan memahami jenis dan kualitas kopi yang diinginkan setiap perusahaan kopi. Jika ada kekurangan, baik dalam jumlah maupun kualitas kopi yang akan ia kirim, pasti ia informasikan sebelum pengiriman. Bahkan, begitu percayanya para pengusaha kepada ibu dua anak tersebut, tidak segan-segan mereka membayar di muka pada saat pemesanan. Hal yang jarang terjadi dalam berdagang.

Kini meskipun Khomsiah telah berhasil menjadi seorang miliader di kota Temanggung. Kesederhanaan tetap menghiasi kehidupannya. Salah satu contoh adalah ketika ia diajak umroh oleh para eksportir, ia mendapat tempat ruang tidur VIP, sebagaimana petinggi lainnya. Namun ia memilih tidur di kamar hotel biasa bersama para istri eksportir.

Para istri eksportir yang belum pernah bertemu dengannya menyangka bahwa dia hanyalah seorang pembantu yang dipekerjakan untuk melayani mereka. Wajar saja mereka berpendapat demikian karena penampilan Khomsiah begitu sederhana tanpa perhiasan satu pun di kulitnya. Belum lagi ia bebas keluar-masuk kamar VIP sehingga makin memperkuat dugaan bahwa ia adalah seorang pembantu. Mereka akan berkata dengan sinisnya, "Apa sih posisi seseorang yang bisa dengan mudahnya masuk ruang VIP, selain dua kemungkinan, yaitu orang yang sangat penting atau pembantu?"

Para istri eksportir itu tidak menyadarinya bahwa Khomsiah adalah orang penting yang memiliki akses eksklusif untuk bolak-balik ruang VIP. Di kamar hotel biasa, Khomsiah disuruh memijit, mengerik punggung, serta menyiapkan makan dan minum para istri kaum eksekutif tersebut. Diperlakukan seperti itu, ia sama sekali tidak tersinggung. Ia melakukan semuanya dengan senang hati. Salah seorang dari mereka menyeletuk, "Enak sekali kamu jadi pembantu. Diajak umroh segala ..." Akan tetapi, Khomsiah hanya menanggapinya dengan senyuman.

Para istri eksportir itu memang tidak pernah bertemu sebelumnya dengan Khomsiah. Mereka mengenalnya hanya sebatas nama. Akan tetapi, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Khomsiah, yang disangka pembantu, duduk bersama para pengusaha Arab dan pengusaha papan atas di kursi kehormatan ketika jamuan makan malam di hotel tersebut berlangsung.

"Ketika kita bertindak atas dasar keimanan dan ketakwaan, akan tumbuh sifat jujur dalam diri. Namun, sifat jujur ini harus disertai kedisiplinan, seperti mengirim pesanan tepat pada waktunya. Itulah modal agar klien percaya kepada kita" ungkah Khomsiah ketika ditanya tentang modal kesuksesannya.

Demikianlah kisah Khomsiah, kisah ini hanya satu dari 55 kisah nyata penuh hikmah dari buku berjudul "Shiddiq - Jujur" yang ditulis Amalia Husna dan diterbitkan oleh Penerbit Inti Medina, yang hampir setiap malam aku bacakan kisahnya satu demi satu kepada kedua bidadari cilikku sebelum mereka tidur, disertai iringan doaku dalam hati semoga mereka meneladani kesederhanan, kejujuran dan kedisiplinannya serta menjadi wanita shalehah yang cerdas, berprestasi dan suatu saat kelak kalian akan menjadi ibu terbaik bagi anak-anak kalian. Selamat tidur nak, doa ayah dan ibu selalu menyertaimu.

dokpri: sampul depan buku Shiddiq - jujur
dokpri: sampul depan buku Shiddiq - jujur

dokpri: sampul belakang buku Shiddiq - Jujur
dokpri: sampul belakang buku Shiddiq - Jujur

Buku ini secara tidak sengaja aku temukan saat mengantar anak pertamaku Ara ke Perpustakaan Daerah Jawa Timur, dan aku bersyukur sekali menemukannya karena sekaligus menjadi solusi bagiku yang sedang mencari jalan keluar untuk melawan "candu" gadget yang sering dimainkan anak-anakku. 

Alhamdulillah seiring waktu mereka bahkan tertarik membaca sendiri buku ini dan tetap ingin dibacakan ulang di malam hari menjelang tidurnya, dan demikian pula ketertarikannya pun perlahan-lahan teralihkan dari gadget. Terima kasih mbak Amalia Husna atas buku yang istimewa ini, yang menghidupkan suasana indah dan kebersamaan pada malam-malam sebelum tidur bersama kedua bidadari cilikku.