Mohon tunggu...
Bagas Prabowo Adi
Bagas Prabowo Adi Mohon Tunggu... Teologi | Pemuridan

Studying at Surakarta Christian University, Faculty of Theology | Instagram : @bagasprabowo | YouTube Channel : www.youtube.com/Bagas Prabowo Adi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Komunikasi dalam Keluarga (Amsal 27 : 1-6)

24 Oktober 2020   01:45 Diperbarui: 24 Oktober 2020   02:43 56 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Komunikasi dalam Keluarga (Amsal 27 : 1-6)
todaysparent.com

Sudah barang tentu bahwa komunikasi sangat diperlukan dalam sebuah relasi entah itu relasi antara 2 orang sahabat, pasangan bahkan antar anggota keluarga. Sebuah komunikasi yang baik mampu membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik.

Dalam keluarga tentu kita perlu menjaga sikap dan cara bicara. Berbicara dengan baik dan tidak menyinggung perasaan antar anggota keluarga yang lain adalah sebuah hal yang perlu dilatih. Karena, terkadang ketika kita telah sangat akrab kita cenderung mengesampingkan rasa sungkan dan kesadaran akan penghargaan terhadap otoritas.

Melalui Amsal 27 : 1-7 kita belajar bagaimana sebuah perkataan dapat sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga. Pertama-tama, mari kita melihat pada ayat yang pertama. Dalam ayat yang pertama ini penulis ingin menyampaikan bahwa sebuah perkataan yang berpusat pada diri sendiri dapat merusak sebuah hubungan.

Kesukaan memuji diri sendiri seakan dapat melakukan segalanya adalah sebuah hal yang perlu dihindari. Para orang tua perlu menghindari kata-kata seperti "dulu ayah/ibu begini saja bisa melakukan hal ini, ayah/ibu bisa melakukan hal ini dan itu" dalam mendidik anak-anaknya, begitupun pula dengan anggota keluarga yang lain.

Kita perlu menyadari bahwa tantangan setiap zaman selalu berubah dan tidak pernah sama, oleh sebab itu memuji diri sendiri sebagai salah satu cara untuk memberi didikan atau motivasi adalah sebuah hal yang kurang tepat. Karena itu ayat 2 berkata "Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu".

Menimbulkan sakit hati dengan bersikap bodoh juga dapat merusak hubungan (ay 3). Alkitab sering mengaitkan dengan tidak takut akan Allah. Allah saja tidak ia takuti dan hormati, apalagi orang lain, lalu siapakah yang dapat tahan mengahadapi orang yang demikian.

Selanjutnya marah yang tak terkendali. Seringkali amarah memengaruhi kita saat berkata, seseorang menjadi tidak peduli tentang apa yang dikatakannya dan dilakukannya. Untuk itulah kita perlu meredakan amarah terlebih dahulu sebelum berbicara.

Sebagai orang tua mungkin kita marah melihat anak-anak melakukan kesalahan, begitupula sebaliknya mungkin sebagai anak kita marah jika orang tua kita melakukan kesalahan. Rasa marah mungkin adalah sikap alami, tetapi kita perlu dengan segera memagari diri terlebih dahulu sebelum kita mengucapkan kata-kata dalam kondisi hati yang marah.

Orang tidak akan tahan dengan kita bila amarah menguasai diri kita seperti orang yang bodoh. Untuk itulah ayat 5 mengajarkan kita bahwa teguran yang baik itu diperlukan alih-alih memarahi untuk melampiaskan rasa kekesalan.

Dalam ayat yang kelima ini kita juga belajar untuk :

1)       Kesalahan tidak seharusnya ditanggapi dengan kemarahan tetapi dengan teguran yang jelas dan menunjuk pada kesalahannya disertai dengan bahasa yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x