Giorgio Babo Moggi
Giorgio Babo Moggi Pegiat Media Sosial

Dream is My Life's Keyword...

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Selain Keunggulan Teknologi dan Keamanan, Ini Alasan Restoran Wajib Pertimbangkan E-Cash

7 Februari 2019   19:54 Diperbarui: 9 Februari 2019   09:10 279 6 1
Selain Keunggulan Teknologi dan Keamanan, Ini Alasan Restoran Wajib Pertimbangkan  E-Cash
Ilustrasi (Sumber: Tabloidbintang.com)

Era digital ada kenyataan yang sudah ada di depan mata. Maka digitalisasi di berbagai sektor bukan lagi sebuah keniscayaan. Itu nyata adanya. Dunia pun menjadi dunia baru. Dunia serba digital.

Restoran sebagai salah satu jenis bisnis (kuliner) harus sudah siap menerima dampak teknologi digital. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, para pebisnis harus beradaptasi dengan tuntutan era digital. Salah satu dampak dari penerapan teknologi digital adalah diberlakukannya uang elektronik (e-cash).

E-cash bukan lagi hal baru di dunia usaha. Saat ini hampir semua usaha atau bisnis mulai menerapkan transaksi menggunakan e-cash. Awal dari impian uang elektronik adalah penggunaan Electronic Data Interchange (EDI) dan Transfer Dana Elektronik (EFT) pada akhir 1970-an. 

Penggunaan internet memberikan dorongan yang tidak terbayangkan untuk penggunaan komputer untuk transaksi moneter. Di Amerika Serikat saat ini, 90% dari total transaksi moneter dilakukan melalui sistem pembayaran berbasis komputer. Fakta ini cukup untuk membuktikan semakin populernya e-cash daripada uang tunai (streetdirectory.com, akses 01/02/2019).

Dengan demikian, bidang usaha seperti restoran tak perlu ragu lagi menerapkan sistem pembayaran e-cash. Menurut Lavu.com (27/07/2018) mengemukan 4 alasan restoran-restoran di berbagai negara memberlakukan pembayaran atau transaksi menggunakan e-cash. Empat alasan ini bisa dijadikan alasan dan pertimbangan restoran-restoran yang ada di Indonesia untuk menerepakan transaksi e-cash.

Pertama, menolak pembayaran uang tunai menghindari resiko perampokan atau pencurian.

Bukan hal yang baru terjadi atau pun tak pernah terjadi bahwa restoran kerap menjadi sasaran perampokan dan pencurian. Insting para perampok atau pencuri begitu tajam mengendus keberadaan uang di meja kasir restoran.

Misalnya, sebuah unit usaha caf dan bar, Park Caf & Coffee Bar, di Baltimore, sering menjadi langganan para perampok. Tak hanya sekali atau dua kali, para perampok memberondong tempat usaha tersebut. Bila dihitung sudah lima kali tempat usaha ini dirampok. Berangkat dari pengalaman itu, sang pemilik membuat kebijakan untuk tidak menerima pembayaran dengan uang tunai.

Keputusan yang ditempuhnya tak mudah diterima kebanyakan pelanggannya. Tak ada pilihan lain selain cara tersebut untuk mencegah perampokan dan pencurian. Awal mulanya beberapa pelanggan pada awalnya merasa kecewa karena pihak restauran menolak uang cash, tapi kemudian mereka memahami setelah dijelaskan oleh sang pemilik. 

Restoran lain yang menjalani transisi tanpa uang tunai mengklaim bahwa bisnis tidak akan dirugikan karena lebih dari 90% penjualan mereka dibayar dengan kartu. Sementara pemilik bar tersebut sedang mempertimbangkan cara untuk mengakomodasi pelanggan tanpa kartu kredit atau debit. 

Transaksi sistim barter makanan ditukar dengan plastik sebagai pengganti uang tunai merupakan metode yang teruji dapat mengurangi tindakan kejahatan. University of Missouri melakukan riset selama kurung waktu 1990-2011, menemukan fakta bahwa transaksi tanpa uang tunai mengurangi kejahatan di seluruh negara bagian mencapai 9,2%.

Kedua, e-cash adalah transaksi bisnis masa depan. 

Sejalan dengan kemajuan teknologi. Transaksi pembayaran menggunakan uang tunai mulai ditinggalkan apalagi di dunia usaha yang telah bertransformasi menggunakan teknologi digital. Selain alasan kejahatan dan perampokan seperti pada point pertama, alasan lain adalah inovasi. Teknologi e-cash merupakan inovasi transaksi tanpa batas.

Beberapa restoran di San Francisco telah mengadopsi kebijakan bebas tunai. Roti Split dan Melt, misalnya, dibuka dengan kebijakan pembayaran tanpa uang tunai. The Melt bahkan melangkah lebih jauh, memulai debutnya dengan pemesanan online, mobile, dan QR-code seperti dilansir oleh Lavu.com (27/07/2018)

Ketiga, biaya lebih mudah dibukukan daripada uang tunai.

Dengan bantuan sistem point-of-sale modern, biaya menjadi lebih mudah untuk dilacak. Transaksi dapat ditinjau di satu tempat guna meminimalkan kesalahan manusia dan pencurian di rumah. Selain itu, tanpa uang tunai, pemilik bisnis tidak perlu lagi melakukan penyetoran di bank.

Keempat, uang kotor yang digunakan dalam transaksi terkontaminasi penyakit. 

Tak dapat dipungkiri bahwa uang kertas mengandung kuman penyakit. Hal ini disebabkan adanya perpindahan uang dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Lalu ada klaim yang mengatakan uang kertas membawa lebih banyak kuman. Kiranya alasan terakhir ini, menjadi dasar penolakan restoran menerima pembayaran uang tunai.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa sebagian besar Dolar AS terkontaminasi jejak kokain Lavu.com (27/07/2018). Menyentuh uang dan kemudian menangani makanan tidak ideal untuk sanitasi. Setiap restoran yang disebutkan sejauh ini sudah termasuk kebersihan sebagai manfaat dari kehilangan uang tunai.

Kesimpulannya, uang elektronik bukan lagi sebuah impian. E-cash adalah teknologi pembayaran masa depan. Di Indonesia, beberapa perusahaan seperti Grab telah menyediakan layanan pembayaran menggunakan uang digital.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2