Mohon tunggu...
Azizah Herawati
Azizah Herawati Mohon Tunggu... Penyuluh

Pembelajar yang 'sok tangguh'

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kalau Virus Ini Harus Ditularkan

16 Juli 2020   22:50 Diperbarui: 16 Juli 2020   22:46 68 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kalau Virus Ini Harus Ditularkan
koleksi pribadi

Virus lagi, virus lagi! Bikin ambyar sak kabehane! Virus apa sih? Sampai hampir lupa. Itu lo, virus yang viralnya mengalahkan gosip selebritis. Apapun kondisinya, virus yang satu itu jangan membuat kita paranoid. Tetap taati protokol kesehatan. Tetap semangat dan optimis. Semoga virus yang viral dan mengguncangkan dunia itu segera pulang ke hadirat Yang Maha Kuasa. Amin.

Tapi, saya dapat virus baru lo! Dan virus yang satu ini harus terus ditularkan. Iiiih serem! Eit, santuy saja! Virus ini aman kok. Malah bikin keren. Yang ganteng tambah ganteng, yang cantik tambah cantik plus dapat bonus glowing!hehe.

Hemm, kepo ya? Virus apa lagi nih? Itu lo, virus yang disebarkan teman-teman penulis dan pegiat literasi! Apalagi kalau bukan virus menulis. Dulu ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul perintah pertama adalah iqra', bacalah!. Perintah membaca tidak bisa dilepaskan dari menulis. 

Sehingga tidak mengherankan kalau akhirnya virus membaca dan menulis diikuti dan ditularkan turun temurun oleh para sahabat dari masa ke masa. Pada akhirnya, kita juga mewarisi penularan virus tersebut dengan warisan mushaf Alqur'an yang kita baca setiap hari. Begitu juga kitab-kitab hadis dan ribuan kitab-kitab fenomenal yang lain.

Kemarin di whatsapp grup profesi saya, ada obrolan tentang pemilihan ketua pokja. Masing-masing mengusulkan kandidatnya. Dari yang serius, guyon dan ada juga yang bernada bullying. Untung saja yang di-bully juga jago mem-bully. Jadilah, yang mem-bully malah jadi korban bully. Ternyata ada juga yang nge-chat saya melalui jalur pribadi. Entah itu bully atau sekedar ngetes. Diawali dengan obrolan tentang kandidat yang kami jagokan hingga prediksi kemungkinan yang terjadi kalau yang dijagokan itu akhirnya benar-benar menjabat.

Temen saya bilang begini,"Mbak Zi aja!". "Tapi jangan terus kon gawe tulisan!",(Tapi jangan disuruh buat tulisan terus!) tambahnya. Wah wah, ternyata mindset teman-teman saya tentang saya adalah tentang tulisan. Ya, asal tahu saja, di forum kajian karya tulis ilmiah, saya termasuk orang yang ditakuti kalau menanggapi, terutama terkait tata tulis dan tehnik copy paste yang masih belum cantik, secantik yang menanggapi. Ups, pede banget! Hahaha. 

Sampai ada selorohan, "Mbak Zizah moderator wae, ndak mengko takon wae!". (Mbak Zizah moderator saja, biar nanti tidak tanya terus!"). Hemmm, apa saya sudah seseram hantu Suzanna ya?? Sampai bikin parno yang mau presentasi. Saran seorang teman, kalau kajian saya tidak usah bertanya, cukup ambil dan baca naskahnya. Dikoreksi dan diberi masukan pakai coretan dan tulisan di dalam naskah. Yah, layaknya dosen pembimbing tesis itu lo, seenaknya corat coret. Hehe, boleh juga, langsung eksekusi!

Kembali ke obrolan. Selain saya jawab kalau saya sudah kebanyakan pekerjaan, saya komentari terkait keengganan kalau saya akan meminta teman-teman membuat tulisan. Saya langsung garis bawahi komentar itu dengan jawaban,"Lha itu, aku ajak nulis dan nulis!". Diapun dengan sigap menimpali,"Tulis di wa, ya Mbak?". "Iya, berawal dari situ!", jawab saya enteng. 

Alhamdulillah, teman saya yang glowing ini mengirim stiker perempuan imut berjilbab yang mengacungkan dua jempol dan nada tulisan "Okey, sip!". Uuuuh, rasanya berbunga-bunga. Melebihi dapat surat cinta yang pertama. Ups, ketahuan tuwir-nya! Mengalami jaman surat-suratan! Hahaha. 

Dengan gembira saya katakan padanya,"Iya, tidak usah jadi ketua pokja, saya tetap ingin mengajak teman-teman untuk menulis dan menulis. Menulis apa saja. Pokoknya, santai saja deh!". Lagi-lagi dia membalas dengan stiker, kali ini lebih oke! Mbak-mbak berjibab kekinian, berkacamata hitam dan masih dengan ekspresi yang sama dengan stiker pertama tadi, mengacungkan dua jempol dan ada tulisan "Keren!".

Haduuuuuh, beneran deh! Saya melayang-layang di udara. Serasa menemani Upin dan Ipin terbang di antara paha ayam goreng yang beterbangan. Begitu gembira. Bagaimana tidak? Selama ini, teman-teman saya sudah parno sama menulis. Padahal pekerjaan kami juga menuntut untuk menulis dan menulis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x