Azam Putra Lewokeda
Azam Putra Lewokeda Guru Pelosok

Guru Madrasah Adonara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cinta dalam Kesederhanaan

11 Februari 2019   18:26 Diperbarui: 11 Februari 2019   19:23 161 0 0
Cinta dalam Kesederhanaan
profitmedia.sk

Cinta adalah seperangkat perasan yang melilit raga. Siapa, kapanpun itu akan teguk lutut bila meneguk madu cinta. Kadang memeras raga kapan dan dimana ia hadir, pasrah mereguk mesranya cinta. Begitu manisnya madu cinta sampai manusia begitu termabuk olehnya. Kadang  maut berhelatan begitu sengit, adapula kehancuran begitu besar dibuatnya.

Tapi mencintai dalam sebuah makna rasa itu kebahagiaan surga yang diperiodikan di dunia.

Tanjung Bunga, November 2016.

Sore itu, langit menudung mendung, gerimis perlahan menelanjangi bumi, tak kala smilir menyayat sampai kerusuk, sampai raga kaku  ditotok gigil. Tidak bagi ama Kopong, tak seperti para perjaka tulen. Ia dengan jantannya menelanjang dada di alam bebas, memamerkan keperiaannya sambil berhujanan.

Umurnya kira-kira angkatan 2000an, pasti dia sedang berpesta puber, yaa..sebab dia masih labil. Berlarian diatas pungung aspal yang berair dengan sebuah ban sepeda motor, digulingnya begitu ngebut, mungkin secepat rintik hujan, itu dijadikan sebagai perangsang gembiranya. 

Ia nampak bahagia, dari air mukanya ada seonggok perasaan yang dipendam begitu tenang, seperti gumpalan bening air di jalan itu. Sesekali bibir tipisnya menyipit senyum khas ketampanannya.

Ia nampak amat bahagia sore itu.

Ama kopong adalah seorang pemuda tampan dari sebuah pelosok, tak banyak orang mengenalnya. Hanya kedua orang tuanya dan warga sekampungnya. 

Kebiasaan ia di musim hujan hanya bermain air hujan. Meskipun itu dilarang orangtuanya dan juga para bidan, bahwa bermain hujan pasti akan sakit, tetapi bagi Ama Kopong dan kawan-kawannya berhujanan itu memilih berkah yang dijatukan tuhan lewan bulir-bulir air.

Tahun ini, merupakan tahun terakhir kopong menamatkan kisah remajanya, dengan mengakhiri ujian jenjang SMP. Ia amat sangat bahagia, waktu menerima hasil bahwa ia lulus.

Karena di desanya belum ada lembaga pendidikan tingkat Atas, ama Kopong terpaksa keluar dan melanjutkan pendidikannya di kota kecamatan. Awalnya ia amat gugup, karena baru juga berpisah dari lingkup kedua orangtua. Namun dengan mimpi dan tekadnya, ama Kopong memberanikan diri meleburkan diri di alam barunya.

Larantuka, Januari 2017.

Hari ini, hari pertama Ama kopong mengenakan seragam SMA. Hari pertama mengikuti Masa Orientasi Siswa(MOS), dengan percaya diri, ia beranjak dari kosannya menuju ke alam barunya. Tubuhnya mendadak diam, disengat arus minder yang tak dapat ia bendung. Waktu SMP ama Kopong di klasifikasikan sebagai siswa yang bermetal baik, tapi mengapa di SMA ia amat sangat gugup, mungkin masih baru.

Sudah dua hari Ama Kopong melewati masa awalnya, dan kali ini adalah hari terakhir ia mengikuti MOS. Sebagai tradisi sekolah, para instruksi atau pembimbing memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampiakan pesan dan kesannya, salah satunya Ama Kopong. 

Awalnya ia gugup tetapi karena hal ini sudah menjadi kebiasaannya waktu SMP, ama Kopong dengan gagah menyampaikan pesan dan kesannya di hadapan semuah peserta serta para instuksi. Dari situ ama Kopong bisa sadar meskipun ia dari kampung tetapi mentalnya tidak kampungan.

Kegiatan belajar mengajar berjalan sebagaimana biasanya di sebuah lembaga pendidikan. Ama Kopong tumbuh sebagai seorang pria dewasa, tidak berhujannan lagi waktu hujan, juga tidak berbalapan ban motor dengan rintuk hujan, ia tampak sederhana. Ia sangat akrab dengan semuah orang, baik dari kaum hawa ataupun adam ia akrabkan diri. 

Dari kesekian banyak temannya Kopong sangat akrab dengan seorang wanita, mereka sekelas, satu bangku, wanita itu disapa Ina Somi. Kadang mereka bertukar pikiran, berbagi pengalaman baik di bidang pendidikan maupun humaniora atau sosial. Keduanya nampak sebagai sedang berpacaran namun hanya sahabat. Keduanya begitu romantis bermesraan sepanjang masa pembelajaran tahun pertamanya.

Larantuka, Januari 2018

Liburan panjang baru saja uasai, semua siswa kembali kerutinitas sebagai seorang pelajar. Begitupun halnya Kopong. Namun kali ini, Kopong tidak hanya sebagai seorang siswa yang kesekolah pulang dan tidur, melainkan ia mencoba membiasakan diri dengan menulis. 

Jika dulu waktu SMP ia sangat senang bermain hujan, kali ini, di jenjang SMA Kopong amat sangat senang bermain dengan kata-kata. Menghabiskan waktunya dengan mematutkan diri dihapan huruf mungil, dan meluapkan isi hatinya di atas kertas. Begitupun hubungannya dengan Ina Somi, semakin dekat dan rapat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3