Ayu Hendranata
Ayu Hendranata Financial planner

Financial planner & Enterpreneur

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Berkaca dari Kasus Bunuh Diri Desainer Kate Spade, Hindari Depresi dengan Bahasa Kasih

6 Juni 2018   14:23 Diperbarui: 6 Juni 2018   19:23 2028 13 3
Berkaca dari Kasus Bunuh Diri Desainer Kate Spade, Hindari Depresi dengan Bahasa Kasih
(sumber: huffingtonpost.de)

"Yu, gemes deh sama suami gw kok ga romantis banget ya jadi orang," begitu curhatan seorang teman dipenghujung telpon beberapa hari lalu.

Kemudian sebuah pesan melalui WhatsApp juga masuk ke handphone saya "Yu, gw sebel deh kenapa nyokap gw sama sekali ga pernah mengerti gw ya," dan curhat-curhatan lainnya yang pernah saya terima dan mungkin juga pernah saya rasakan.

Atau juga kita coba ambil kasus yang baru saja terjadi, Desainer Kate Spade diketahui menderita depresi. Dia memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya memakai scarf dari brand Kate Spade, di apartemennya di New York, Selasa (5/6/2018) sekitar pukul 10.20 waktu setempat.

Bicara depresi dan bagaimana bisa menjaga hubungan baik, tidak hanya spesifik mengenai hubungan kita dengan pasangan semata, tapi juga bisa menyangkut hubungan dengan orang tua, keluarga, teman dan lingkungan sekitar.

Ada sebuah pepatah yang pernah saya dengar "terkadang orang terdekat kitalah yang paling sering membuat kita terluka."

Apakah pembaca Kompasiana pernah merasakannya?

Sebuah lembaga di Harvard juga telah melakukan penelitian terhadap 724 remaja selama 75 tahun (sejak 1938). Pertanyaan tunggal dan "sederhana" yang mau dijawab: Apa yang membuat orang bahagia?

Dari 724 orang yang diteliti tersebut sekarang  masih hidup hanya sekitar 60 orang. Dan Kini studi tersebut dilanjutkan dengan meneliti 2000 orang keturunan mereka.

Kesimpulan studi terpanjang yang pernah terjadi itu sangat simple: Orang bisa bahagia jika memiliki hubungan yang baik (good relationship) dengan keluarga, teman, komunitas. That's it!

Sangat jelas dan sangat sederhana.

Definisi bahagia bukan karena punya uang banyak, terkenal, kerja keras, dan semua hal lain yang bukan having good relationship.

Bagaimana sih sebenarnya cara supaya kita bisa menjaga hubungan baik dengan siapapun? Jawabannya mungkin mencoba memahami "Bahasa Kasih" setiap personal yang kita temui.

Menurut Dr. Gary Chapman, ada lima jenis bahasa kasih (dikenal dengan The Five Love Languages):

1. Kata-kata penguatan (Words of Affirmation)

Bahasa kasih ini biasanya digunakan dengan memberikan pujian ke pasangan atau lawan bicara kita, memotivasi orang lain dengan membangun kata-kata yang positif dan penuh semangat. 

Dalam memberikan pujian (harus tulus tentunya ya). Sebisa mungkin jangan menghina atau mencela karena itu akan sangat mematahkan semangatnya, apalagi jika melakukan kekerasan secara verbal.

2. Tindakan melayani (Acts of Service)

Biasanya tipe orang-orang dengan bahasa kasih ini selalu mengutamakan "Tindakan nyata lebih baik daripada kata-kata" atau : "Action speaks louder than words". 

Contohnya suami saya, dia tipe yang sangat jarang untuk mengungkapkan kata kata romantis, tetapi lebih ke action. Misal: tak segan membantu saya dalam melakukan pekerjaan rumah tanpa diminta atau tiba-tiba memperbaiki sepatu saya yang copot haknya,  dan hal-hal lain yang sifatnya "handy man" banget. 

Mereka biasanya adalah tipe orang yang murah hati dalam memberikan pertolongan dan peka terhadap kebutuhan orang lain.

3. Pemberian hadiah (Receiving Gifts)

Biasanya tipe orang ini lebih suka mengekspresikan kasihnya dengan memberikan hadiah di hari-hari spesial seperti ulang tahun, anniversary, graduation dll. Memberikan hadiah menjadi kekuatan bagi mereka untuk lebih merasa dicintai.

4. Waktu yang berkualitas (Quality Time)

Bagi orang-orang dengan tipe bahasa ini, hal paling penting adalah perhatian penuh (undivided attention). Mereka sangat bahagia bisa menyediakan waktunya bersama orang-orang yang dicintai, berbagi, menjadi pendengar yang tulus, dan mendengarkan kisah hidup mereka. Orang-orang ini adalah biasanya pendengar yang baik dan sangat "pas" dijadikan partner curhat.

5. Sentuhan fisik (Physical Touch)

Adakah pembaca Kompasiana yang lebih suka saat berjalan bersama pasangan selalu digandeng tangannya, dirangkul ataupun sentuhan fisik lainnya? Biasanya tipe orang ini senang memberikan sentuhan fisik kepada lawan bicara mereka. 

Saya salah satu tipe yang sangat bahagia jika pasangan bisa mengekspresikan bahasanya dengan berpegangan tangan setiap kami jalan, rasanya seperti merasa dilindungi. Dan sentuhan fisik dapat berbicara lebih "dalam". Tentu saja yang dimaksud sentuhan fisik di sini adalah sentuhan yang sopan ya. Terkadang saat kita menangis pun yang diperlukan hanyalah sebuah pelukan tanpa kata-kata.

Psikolog DePauw University, Matt Hertenstein juga pernah mengungkapkan dalam NPR.com bahwa ketika kita berpelukan, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin yang mampu membuat tubuh merasa bahagia, hangat dan nyaman.

Lalu termasuk tipe bahasa kasih manakah anda semua?  Sudahkah anda berbahagia hari ini dan memberikan energi positif untuk orang lain?

Jika belum, bersegeralah. Karena bahagia itu perlu!

Love
~ Ayu Hendranata ~