Mohon tunggu...
Ayatullah Nurjati
Ayatullah Nurjati Mohon Tunggu... Guru - penikmat seni, pencinta Aquscape, Penggiat Teater, Penikmat musik Dangdut, Pemancing Amatir

Pernah ngeleseh selama 3 tahun di Jogja, penikmat dan pengamat seni. Pernah Bergiat di teater Plonk STIBA Jakarta Internasional, dan tutor sastra pada Forum Lingkar Filsafat dan Sastra KOPLIK Ciputat, Pernah bergiat di berbagai LSM. Pernah menjabat menjadi Ketua Senat ABA YPKK-STBA Technocrat 2001-02 dan pernah pula menjabat sebagai pimpred Communicado Press (sebuah wadah penulis muda). Aktif menulis di berbagai surat kabar terkemuka di Jakarta dan daerah. Pernah menjadi Ketua wadah Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMK Jakarta Barat 2. Pernah mengajar terbang di Beberapa Kampus Terkemuka di Jakarta. Saat ini menjadi tenaga pengajar di SMK Negeri di Bilangan Jakarta Barat. Sedang menulis sebuah kumpulan cerpen (berujung besi) dan menyelesaikan Novelnya yang berjudul Cinta Cyber--Sastra

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Perjalanan Pendidikan Indonesia Masa Pandemi: Kilas Balik Lockdown hingga PPKM

5 September 2021   06:39 Diperbarui: 5 September 2021   06:48 226 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

untuk mengungkapkan penyebab munculnya Covid-19. Di mana WHO telah melakukan penyelidikan dan akan diumumkan pada pertengahan bulan ini. Kepala Misi Tim WHO Peter Ben Embarek mengatakan, hasil penyelidikan WHO ini berisi tentang asal usul virus Corona muncul di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu. "Waktu (pengumuman hasil) nya adalah 14-15 Maret," ujarnya dikutip dari Reuters, Sabtu (6/3/2021). [1]

Pada fase awal tahun 2020, seluruh dunia dikejutkan dengan wabah Corona Virus Disease atau lebih dikenal dengan istilah (Covid-19) yang dikemudian hari menginfeksi hampir seluruh negara di dunia. 

Diduga Corona Virus Disease atau Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, Provinsi Hubei pada akhir tahun 2019. Bencana non alam ini atau bencana virus ini bukan pertama kalinya dihadapi negara-negara di dunia. Penambahan dalam jumlah besar jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup tinggi dan sangat cepat dan menyebar ke luar wilayah Wuhan dan ke berbagai negara lain. Dalam kurun waktu sekitar 6 bulan, sudah menjangkiti 216 negara di dunia dengan virus ini. 

Menurut WHO, banyaknya yang terkonfirmasi dan terpapar dengan hasil pemeriksaan positif pada tanggal 05 Juli telah mencapai 183.368.584, dengan kisaran angka kematian mencapai 3.975.503 orang. [2]

Selanjutnya Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengumumkan mengenai kasus pertama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada akhir bulan Februari atau awal bulan Maret 2020 yang lalu, Indonesia kemudian dihadapkan pada masa virus yang terus menjangkit sehingga disebut pandemi. Akibat dari pandemi ini hampir seluruh sektor kehidupan mengalami lumpuh, tidak terkecuali di bidang pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kemudian bersikap dengan kondisi tersebut, yang diantara kebijakan menyikapi kondisi tersebut dengan membuat sejumlah kebijakan. [3]

Penyebaran Wabah tersebut telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Krisis kesehatan masyarakat, yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara-negara belahan dunia kita kehidupan saat ini, telah menyebabkan penderitaan manusia yang parah dan hilangnya nyawa. 

Peningkatan eksponensial pada pasien yang terinfeksi dan konsekuensi dramatis dari kasus serius penyakit ini telah membuat rumah sakit dan profesional kesehatan kewalahan dan memberikan tekanan yang signifikan pada sektor kesehatan. 

Ketika pemerintah bergulat dengan penyebaran penyakit dengan menutup menurunkan seluruh sektor kegiatan dan memberlakukan pembatasan mobilitas yang meluas, krisis sanitasi berkembang menjadi krisis ekonomi besar yang diperkirakan akan membebani masyarakat selama bertahun-tahun yang akan datang. Menurut Ekonomi terbaru OECD Outlook, bahkan skenario paling optimis pun memprediksi resesi brutal. 

Bahkan jika gelombang infeksi kedua dihindari, aktivitas ekonomi global diperkirakan turun 6% pada tahun 2020, dengan rata-rata pengangguran di The Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD (organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi) negara-negara naik menjadi 9,2%, dari 5,4% pada 2019. Jika terjadi wabah kedua yang memicu kembalinya lockdown, situasinya akan lebih buruk.

Pendidikan tidak luput dari perhatian. Penguncian telah mengganggu sekolah konvensional dengan sekolah nasional penutupan di sebagian besar OECD dan negara-negara mitra, yang berlangsung setidaknya 10 minggu di sebagian besar dari mereka. 

Selagi komunitas pendidikan telah melakukan upaya penting untuk menjaga kelangsungan belajar selama periode ini, anak-anak dan siswa harus lebih mengandalkan sumber daya mereka sendiri untuk terus belajar dari jarak jauh melalui Internet, televisi atau radio. Siswa yang kurang mampu memiliki waktu yang paling sulit untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh. 

Pengeluara pendidikan juga dapat dikompromikan di tahun-tahun mendatang. Karena dana publik darurat mungkin diarahkan ke kesehatan dan kesejahteraan sosial, pengeluaran publik jangka panjang untuk pendidikan berisiko meskipun paket stimulus jangka pendek di beberapa negara. Pendanaan swasta juga akan 

menjadi langka karena ekonomi melemah. Lebih merusak lagi, lock down telah memperburuk ketidaksetaraan di antara pekerja. Sementara teleworking sering menjadi pilihan untuk yang paling berkualitas, jarang mungkin bagi mereka dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah, banyak dari mereka telah berada di garis depan dalam menanggapi pandemi, memberikan layanan penting kepada masyarakat. [4]

Pandemi ini menyerang segala lini sektor baik formal ataupun informal baik dari segi Politik, Ekonomi, sosial dan Budaya dan lainnya tidak terkecuali di dunia pendidikan baik di negara-negara lain di belahan dunia ataupun Indonesia. 

di Indonesia sendiri akibat dampak Pandemi tersebut banyak sekali sekolah yang harus mencari solusi untuk terus mengadakan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan sistem Pembelajaran Online Semua peserta didik dan guru harus benar-benar belajar memaksimalkan teknologi dengan menggunakan platform yang ada, baik gratis, non-pemerintah, global yang sudah tidak asing lagi bagi peserta didik dan pendidik karena penggunaannya yang sangat mudah seperti platform Google Classroom, Zoom Meeting, Google Meet, whatsap, Sevima.Edlink. 

Moodle, Edmodo dan Schoology atau Platform Learning Management System (LMS) diluncurkan khusus oleh pemerintah mulai dari Rumah Belajar, TARA Online dan masih banyak lagi. [5]

Di awal fase pandemi pada bulan Maret 2020 sampai dengan Februari 2021 Hal tersebut otomatis menjadi kendala dalam Kegiatan belajar mengajar Jarak Jauh (PJJ Online), dimana ketika melakukan praktek tersebut menggunakan kuota internet baik wifi atau penyedia seluler yang cukup besar karena di dalamnya menggunakan platfoam Youtube, Google Meet atau baik bagi peserta didik ataupun para guru Agama Islam. 

Hal tersebut sudah mulai teratasi dengan bantuan pemerintah yaitu berupa quota gratis internet melalui dapodik yang disalurkan ke sekolah masing-masing melalui provider kartu seluler yang ada yang telah digelontorkan pemerintah pada tanggal 11-15 Maret, April dan Mei 2021. [7]

Selanjutnya Untuk masalah Pembelajaran Jarak Jauh/Online sudah mulai teratasi dengan adanya ketentuan baru dari Pemprov DKI Jakarta yang bakal melakukan uji coba atau pilot project sekolah tatap muka secara terbatas. 

Kegiatan ini berlangsung mulai 7 hingga 29 April 2021. Seperti yang dilangsir oleh detiknews.com yang disahkan oleh Ibu Nahdiana selaku kepala dinas Pendidikan DKI Jakarta yang menyatakan adanya 100 sekolah yang akan menjalani piloting project. 

Nantinya, setiap sekolah yang lolos asesmen diperbolehkan menyelenggarakan belajar tatap muka. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan dan didukung penuh oleh Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Iman Satria. [8]

Fakta tersebut ditopang oleh keputusan yang ditetapkan empat menteri RI melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) yaitu Empat menteri itu di antaranya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; Menteri Agama; Menteri Kesehatan; dan Menteri Dalam Negeri sudah mulai berjalan maksimal di masa-masa new normal Seperti diketahui, program Piloting atau lebih dikenal dengan Pertemuan Tatap 

Muka (PTM) sebanyak 85 sekolah di Jakarta menerapkan pembelajaran campuran (blended learning), yang terdiri dari 50 persen tatap muka dan 50 persen belajar dari rumah melalui online yang dilakukan bergantian dari jenjang 4 SD Sampai Kelas 12 SMA/SMK. [9]

Akan tetapi faktanya kemudian menjadi sangat berbeda ketika varian virus Covid Bermutasi dan menjadi momok yang sangat menakutkan dengan lonjakan gelombang kenaikan penderita dan angka kematian yang fantastis, dengan begitu Pemerintah dengan resmi terpaksa menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 3 Juli hingga 20 Juli 2021 di berbagai kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali.

 Diambilnya kebijakan ini berkaitan dengan masih tingginya angka kasus Covid-19 di Indonesia. Keputusan ini disampaikan oleh Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan pada Kamis (1/7/2021). 

Kemunduran yang harus kita sama-sama derita untuk wilayah Jawa-Bali karena memang kita tidak bisa menahan laju gelombang kedua pandemi Covid yang melanda Indonesia khususnya di Jakarta yang merupakan barometer bagi kota-kota yang ada di Indonesia dengan keragaman etnis, suku bangsa. Di dalamnya terdapat point Setidaknya ada 16 aturan PPKM darurat yang disampaikan oleh Luhut dalam konferensi pers daring pada Kamis (1/7/2021), yaitu:di point 2 yang menyatakan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar wajib online atau daring. [10]

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali tersebut telah berakhir pada Selasa (20/7/2021), setelah diterapkan sejak 3 Juli lalu. 

Tidak sepenuhnya berakhir, pembatasan kegiatan masyarakat masih terus dilanjutkan namun kini diubah menjadi PPKM Level 4. Presiden Joko Widodo melalui pernyataan yang diunggah di laman YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (20/7/2021) menyampaikan pelaksanaan PPKM ini akan berlangsung hingga 25 Juli 2021. "Jika tren kasus terus mengalami penurunan, maka tanggal 26 Juli 2021 pemerintah akan melakukan pembukaan secara bertahap," kata Jokowi. [11]

Karena Angka Penderita Covid semakin bertambah maka depan terpaksa pemerintah harus memberlakukan kembali perpanjangan waktu PPKM sampai tanggal residen Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk memperpanjang penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Keputusan itu disampaikan Jokowi dalam keterangan pers yang ditayangkan kanal Youtube Sekretariat Presiden pada, Senin (2/8/2021).

"Pemerintah memutuskan untuk melanjutkan penerapan PPKM Level 4 dari 3-9 Agustus di beberapa kabupaten/kota," ujarnya.

Seperti diketahui, dalam upaya menekan lonjakan kasus Covid-19, Jokowi mengumumkan PPKM Level 4 berlaku pada 22 Juli-2 Agustus 2021. Kebijakan itu merupakan lanjutan PPKM Darurat yang berlaku dalam kurun waktu 3 Juli hingga 20 Juli 2021.

Selama PPKM Level 4, pemerintah memberikan sejumlah pelonggaran. Misalnya, warung makan yang berada di tempat terbuka boleh menerima pengunjung yang makan-minum di tempat, tetapi waktu bersantap dibatasi maksimal 20 menit.        

Pada hari terakhir PPKM Level 4, Senin (2/8/2021), terdapat tambahan 22.404 kasus baru Covid-19. Dengan demikian total kasus Covid-19 mendekati 3,5 juta atau tepatnya 3.462.800. Sementara itu kasus sembuh naik 32.807 (total 2.842.345) dan kasus meninggal bertambah 1.568 (total 97.291). [12]

Saat ini hal seperti ini kejadiannya maka kita harus flashback kembali ke masa sebelum "New Normal" dan PPKM tetap berimbas dengan kondisi yang sama dalam pendidikan maka akan didapati Sistem Pembelajaran jarak jauh (PJJ)/Online yang sarat akan kelemahan diantaranya yaitu:

  • Keterbatasan akses internet
  • Salah satu kekurangan metode pembelajaran e-learning adalah terbatasnya akses internet. Jika Anda berada di daerah yang tidak mendapatkan jangkauan internet stabil, maka akan sulit bagi Anda untuk mengakses layanan e-learning. Hal ini tentunya masih banyak terjadi di Indonesia mengingat beberapa daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) masih belum terjangkau akses internet. Selain itu, harga pemakaian data internet juga masih dirasa cukup mahal untuk beberapa kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan kemampuan untuk memanfaatkan e-learning masih dianggap sebagai suatu keistimewaan.
  • Berkurangnya interaksi dengan pengajar
  • Beberapa metode pembelajaran e-learning bersifat satu arah. Hal tersebut menyebabkan interaksi pengajar dan siswa menjadi berkurang sehingga akan sulit bagi Anda untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai materi yang sukar dipahami.
  • Pemahaman terhadap materi
  • Materi yang diajarkan dalam e-learning direspon berdasarkan tingkat pemahaman yang berbeda-beda, tergantung kepada kemampuan si pengguna. Beberapa orang mungkin dapat menangkap materi dengan lebih cepat hanya dengan membaca, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama sampai benar-benar paham. Bahkan ada juga yang membutuhkan penjelasan dari orang lain agar dapat memahami materi yang dipelajari.
  • Minimnya Pengawasan dalam Belajar
  • Kurangnya pengawasan dalam melakukan pembelajaran secara daring membuat pengguna e-learning kadang kehilangan fokus. Dengan adanya kemudahan akses, beberapa pengguna cenderung menunda-nunda waktu belajar. Perlu kesadaran diri sendiri agar proses belajar dengan metode daring menjadi terarah dan mencapai tujuan.

[1]

C. I. Lidya Julita S, 06 Maret 2021. [Online]. Available: CNBC Indonesia. [Diakses 07 Mei 2021].

[2]

WHO, "WHO," WHO Coronavirus (COVID-19) Dashboard, 07 July 2021. [Online]. Available: https://covid19.who.int/. [Diakses 07 July 2021].

[3]

A. Purwanto, "KOMPASPEDIA," KOMPAS, 03 July 2020. [Online]. Available: . [Diakses 05 July 2021].

[4]

OECD, "OECDiLibrary," OECD, 18th July 2020. [Online]. Available: .. [Diakses 06 August 2021].

[5]

Ismiyatun, "Memaksimalkan Pemanfaatan Akun Pembelajaran Kemendikbud untuk Mendorong Pembelajaran Berbasis Teknologi di Satuan Pendidikan," KEMENDIKBUD, 27 June 202. [Online]. Available: . [Diakses 07 July 2021].

[6]

Syafnidawaty, "APA ITU PEMBELAJARAN JARAK JAUH?," Universitas Raharja, 17 November 2020. [Online]. Available:  [Diakses 19 May 2021].

[7]

Dandy Bayu Bramasta Editor Sari Hardiyanto, "Kuota Gratis Kemendikbud Cair Pagi Ini, Berikut Cara Cek, Syarat, hingga Kuota yang Didapatkan," KOMPAS, 11 May 2021. [Online]. Available: . [Diakses 21 June 2021].

[8]

T. A. Azzahra, "Pilot Project Sekolah Tatap Muka di Jakarta Dimulai 7 April," detiknew.com, 31 March 2021. [Online]. Available: Detik. [Diakses 21 June 2021].

[9]

Fitriyandi Al Fajri | Editor: Hertanto Soebijoto, "Piloting Pembelajaran Tatap Muka di Jakarta Dilakukan untuk Bangun Kepercayaan Orangtua," WartaKotalive.com, 8 April 2021. [Online]. Available:  [Diakses 23 May 2021].

[10]

Maulana Ramadhan | Editor Maulana Ramadhan, "Resmi Berlaku, Ini Alasan Pemerintah Terapkan PPKM Darurat Jawa-Bali," Kompas.com, 03 July 2021. [Online]. Available: . [Diakses 05 July 2021].

[11]

Luthfia Ayu Azanella. Editor Sari Hardiyanto, "kompas.com," 21st July 2021. [Online]. Available:  ].

[12]

C. G. Asmara, "CNBC INDONESIA," 2nd August 2021. [Online]. [Diakses 3 August 2021 ].

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan