Mohon tunggu...
Ayah Farras
Ayah Farras Mohon Tunggu... mencoba menulis dengan rasa dan menjadi pesan baik

Tulisan adalah bagian dari personal dan tak terkait dengan institusi dan perusahaan

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

"Hilal Telah Tampak", Mata Berkaca-kaca Sadari Lebaran di Depan Mata

23 Mei 2020   01:38 Diperbarui: 23 Mei 2020   01:28 60 7 1 Mohon Tunggu...

"Hilal telah tampak" dan semua mesti dipersiapkan untuk datangnya tamu agung " Iedul Fitri". Detik-detik berjalan khusyuk dan penuh kesakralan. Gema takbir mengucap nama kebesaran Allah SWT menggema. Gema di masjid maupun di hati sembari mengingat betapa penuh dosa hambamu ini ya Allah.

Kesejukan itu bertambah di kala wejangan atau nasihat tentang hidup dan agama bertaburan dan aku hanya duduk setengah menunduk di depan si Mbah. Baik Mbah kakung ataupun Mbah Putri selalu tak lelah beri semangat dan nasihat agama yang diharapkan agar aku bisa menjalankan.

Entah berapa banyak dosa yang sudah kubuat sebagai manusia yang lemah tak berdaya. Hilal telah tampak tanda mulainya seruan kebesaran nama Allah ( Allahuakbar..Allahuakbar...Allahuakbar) yang sontak melelehkan hati semua yang menjalani ajaran agama Islam.

Kopiah itu aku ingat dengan bahan beludru hitam namun ada yang sudah sangat usang hingga sedikit ada warna kuning. Kopiah itu lekat dengan Mbah kakung saat kita berkumpul dalam suasana lebaran. Angin tak menang melawan hembusan nasihat Mbah. Hembusannya begitu terasa sangat mengusap kalbu dan aku menyimpannya dalam rongga hati yang memang perlu diperluas.

Aku ingat diantara takbir yang terus bergema aku terus ambil kesempatan memetik harapan baik dari pengalaman-pengalaman si Mbah yang tak ada dalam kurikulum kuliah atau mata pelajaran sekolah. Sandaran Mbah putri dalam setiap kesempatan menjadikan aku bocah tua yang senang bermanja ria. Tak banyak waktu yang bisa kunikmati di sela kesibukan bertahan hidup di kota Jakarta.

Daster Mbah putri sepertinya aku hapal semua warna yang dipakai. Apakah aku sebegitu dekatnya atau memang aku yang ingin didekati si Mbah putri. Tangannya disorongkan kepadaku dan kutahu ada yang diminta yaitu pijatan aku untuk tangan si Mbah Putri. Sebelumnya segelas teh tubruk manis dihidangkan di permukaan atas dinding teras yang bisa juga diduduki saat bincang-bincang. Balsem ku gosok halus ke tangan Mbah putri dan aku beraksi memberikan pijatan terbaik. 

Kembali tak henti ataupun lelahnya si mbah saat pijatan tangan sedang berlangsung terurai nasihat-nasihat ajaran agama dan kehidupan disertai pengalaman hidupnya. Aku pun tak jemu-jemu mendengarkan karena memang bermanfaat dan jadi bahan bakar semangat dan pegangan ketika nanti kembali ke Jakarta saat usai lebaran.

Tak lama datang Mbah kakung dan duduk bergabung untuk bincang-bincang bersama. Wah, tambah seru nih kata aku dalam hati. Mbah Kakung lebih lepas dan banyak "guyon" dan bisa buat aku terpingkal-pingkal tertawa saat cerita-cerita lucu disampaikan Mbah kakung. Tak ada kata penghakiman untuk aku sekalipun Mbah tahu kesalahan dan keteledoran aku dalam kehidupan. 

Semua cerita dibalut kiasan yang sesungguhnya aku tahu itu merujuk ke aku. Aku menerima dengan senang hati setidaknya jadi obat hati yang perlu terus diterapkan agar tidak muncul lagi sikap salah dan semua dalam kebaikan.

Tibalah momen sungkeman dan ungkapan rasa bersalah dan meminta maaf langsung dalam anggota keluarga. Pecahlah tangis dan haru biru yang mengalir secara alami hingga semua merasa plong.  

Sarung dan kopiah si Mbah kakung sangat khas dikenakan sehari-hari tak hanya dalam momen lebaran. Tak kalah juga Mbah putri yang anggun dan cantiknya mengenakan setelan baju terusan panjang warna krem dan merah dan kerudungnya. Senyumnya sangat indah sekali Mbah putri dengan hidung yang kuingat bentuknya khas dan mirip dengan kakak-kakaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN