Mohon tunggu...
Mutawif Ilmi Muwaffiqih
Mutawif Ilmi Muwaffiqih Mohon Tunggu...

Geological Engineering UGM | Business Development Team of Cicil.co.id Jogja | Rumah Kepemimpinan Scholarship Awardee Batch 9

Selanjutnya

Tutup

Film

Memandang Sudut Pandang Lain "Sexy Killers"

3 Mei 2019   20:58 Diperbarui: 3 Mei 2019   21:28 0 0 0 Mohon Tunggu...

Suatu diskusi menarik yang telah diselenggarakan oleh teman-teman setelah hari keluarnya film dokumenter ini. Mengetahui lebih dalam mengenai seluk beluk politik di Indonesia dan orang-orang dibalik layarnya. Apalagi saat ini merupakan tahun politik yang sedang berada pada puncak tertingginya. 

Menurut saya film ini akan menampilkan suatu kondisi masyarakat Indonesia di suatu wilayah dalam satu sudut pandang saja. Tapi memang mungkin itulah tujuan utama dibuatnya film dokumenter ini yakni untuk menunjukkan lebih mendalam kepada masyarakat Indonesia mengenai kedua pasangan calon pemimpin bangsa ini. 

Tapi kali ini yang saya bahas bukanlah dari sisi politik yang ada, namun yang akan saya bahas adalah mengenai permasalahan teknis yang seharusnya dapat diatasi dengan bijak. Pada artikel ini saya akan mengedepankan mengenai permasalahan dari lubang bekas tambang dan hidrologi daerah sekitar.

Dalam film Sexy Killers ini yang disorot utama adalah lubang bekas tambang yang tidak ditutup kembali. Memang cara terbaik dalam mengelola masalah ini adalah dengan menutup kembali lubang tembang tersebut. Namun perlu diperhatikan lebih lanjut adalah mengenai lapisan humus pada bagian atas dari tanah yang dulunya dikaruk dari daerah tersebut. 

Hal inilah yang harus ditekankan karena menutup lubang tambang tidak hanya mengenai menutupnya saja kemudian masalah akan selesai. Namun juga harus dapat mengembalikan dampak kesuburan lahan yang nantinya akan berpengaruh ke masalah ekonomi ataupun masalah lingkungan hidup agar biota daerah tersebut dapat kembali seperti sediakala.

Lubang tambang sepertinya juga memiliki solusi lain dalam pengelolaannya. Pemerintah juga pernah mencetuskan mengenai pengelolaan pariwisata di daerah bekas tambang. Namun itu bukanlah perkara mudah. 

Lubang bekas tambang mengandung sangat banyak bahan-bahan yang sangat berbahaya bagi kehidupan. Apabila akan dibangun suatu tempat wisata maka harus ada perlakuan yang dilakukan untuk air, tanah dan semacamnya yang ada di lubang bekas tambang tersebut. Dan ini juga akan memakan biaya yang sangat besar. Maka haruslah ada pertimbangan yang matang apabila akan digunakan untuk pariwisata, terutama mengenai break even point dari pemasukan pariwisata ke depannya.

Selain mengenai masalah lubang tambang, hidrologi yang terdampak akan adanya pembukaan lahan tambang. Apabila akan dilakukan adanya pengerukan tanah dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini dikarenakan pengerukan dalam jumlah yang sangat besar akan memotong garis muka air tanah yang ada sehingga akan terjadi dampak minimal adalah penurunan muka air tanah. Hal ini tentunya akan bermasalah apabila ada sumur warga disekitarnya karena akan mengalami kekeringan. 

Cara yang termudah adalah menentukan berapa debit yang akan keluar apabila kita memotong muka air tanah tersebut. Setelah diketahui berapa besar debit yang keluar maka selanjutnya adalah dilakukan rekayasa keteknikan bagaimana agar debit tersebut tidak menyebabkan terjadinya penurunan muka air tanah yang signifikan, namun daerah sekitar proyek juga dalam kondisi kering. 

Solusi mudahnya adalah dengan membuat bendungan yang akan mengamankan proyek dari penggenangan. Fungsi bendungan ini juga akan mengatur keluarnya debit air sehingga muka air tanah tidak mengalami penurunan yang signifikan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x