Mohon tunggu...
aulya rachmah putri
aulya rachmah putri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN "Veteran" Yogyakarta

Memiliki minat pada bidang sosial serta segala sesuatu yang berhubungan dengan perempuan, self love, dan kesehatan mental.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Hubungan Rusia-Turki dalam Bidang Hankam dan Lika-Likunya

27 September 2022   18:24 Diperbarui: 1 Oktober 2022   19:05 326 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://www.gettyimages.com/photos/putin-erdogan

Awal tahun 2022, Erdogan, Presiden Turki, sempat memberikan sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan. Beliau menyatakan bahwa Turki siap untuk menjamin keamanan Ukraina. Hal tersebut tentunya berlawanan apabila melihat dari sejarah kerjasama antara Rusia dan Turki.

Ternyata pernyataan tersebut dilontarkan bukan dengan tujuan untuk menyerang Rusia, melainkan untuk menjadikan Turki sebagai tuan rumah dalam pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Sebagai negara yang berhubungan baik dengan Rusia dan Ukraina, Turki berusaha untuk menjadi penengah dalam konflik keduanya.

Dalam sejarahnya, Rusia dan Turki telah menjalin kerjasama sejak tahun 1994 lalu. Dimulai dengan Kerjasama di bidang gas kemudian berlanjut hingga bidang pertahanan dan keamanan yang dimulai pada tahun 2010. Hubungan politik antara Rusia dan Turki ini berkembang pada tahun 2000 dimana Rusia menerapkan kebijakan yang lebih longgar terhadap Turki. Hal tersebut dilakukan guna mendinginkan ketegangan yang terjadi antara kedua negara.

Rusia dan Turki sempat mengungkapkan kesiapan mereka dalam melawan aksi terorisme internasional setelah tragedi 11 September terjadi. Kedua negara ini membahas kondisi di Eurasia disambung dengan mempertegas pendekatan yang akan mereka ambil dalam mengatasi isu terorisme dan solidaritas dunia internasional. Pertemuan kemudian berlanjut dengan ditanda tanganinya dokumen yang Bernama "Action Plan to Develop Cooperation between the Russian Federation and Turkey". Dokumen tersebut berisikan tentang hubungan antara Rusia dan Turki yang dipercaya dapat membantu penyelesaian konflik politik, stabilitas, dan pembangunan ekonomi, bahkan Rusia pun menyatakan kesiapannya untuk mendukung Turki pasca aksi terorisme di Istanbul.

Pada masa kepemimpinan Putin, Rusia sempat melakukan kunjungan resmi ke Turki tahun 2004 lalu. Putin yang didampingi oleh Menteri Pertahanan Rusia dan beberapa pengusaha besar Rusia melakukan diskusi dengan Presiden Turki, Ahmet Necdet Sezer yang didampingi oleh Erdogan, Perdana Menteri Turki saat itu. Topik yang dibahas adalah seputar konflik antara Rusia dengan masyarakat Chenchen serta dampaknya terhadap Turki, kemitraan di Kaukasus dan Asia Tengah, serta isu Teror PKK.

Sebuah deklarasi Kerjasama yang disebut Joint Declaration between the Republic of Turkey and the Russian Federation on Progress towards a New Stage in Relations and Further Deepening of Friendship and Multidemensional Partnership pada tahun 2009. Diteruskan dengan Rusia yang mlakukan kunjungan resmi ke Turki selama 3 hari. Sekitar 17 perjanjian kebijakan disepakati dalam kunjungan tersebut.

Salah satu kebijakan yang disepakati dalam kunjungan tahun 2010 adalah mengenai penerapan bebas visa antar kedua negara. Penerapan kebijakan ini kemudian meningkatkan jumlah wisatawan dari Rusia ke Turki hingga sebanyak 3 Juta. Pada tahun 2013, sebuah Forum Hubungan Global dijalankan di Istanbul dan Carneige Moscow Centre yang kemudian menghasilkan kelompok-kelompok kerja yang dipersembahkan untuk menggali potensi kerja regional Rusia dan Turki.

Hubungan kerja sama Rusia dan Turki berjalan baik khususnya di bidan Pertahanan dan Keamanan. Hingga pada tahun 2015 terjadi tragedy penembakan pesawat Sukhoi-24 milik Rusia oleh pesawat F-16 milik Turki. Hal tersebut kemudian menciptakan ketegangan hubungan antara kedua negara tersebut.

Pada proses penyelesaian konfliknya, Rusia sempat meminta dukungan kepada NATO guna menyelesaikan permasalahan keamanan negaranya. Namun, setelah presiden Turki memutuskan untuk menyatakan permohonan maafnya terhadap Rusia akibat tragedi tersebut, kedua negara akhirnya berhubungan baik kembali.

Turki tidak bisa membiarkan ketegangan antara negaranya dengan Rusia berlangsung terlalu lama, karena hubungan antara kedua negara tersebut dianggap sangat penting guna seluruh kawasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan