Mohon tunggu...
Aulia
Aulia Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Universitas Andalas

Menulis untuk kesenangan dan berbagi

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Sejarah Pendidikan Tinggi Dunia, Awalnya Kuliah Itu Gratis

26 Mei 2024   09:42 Diperbarui: 26 Mei 2024   09:51 143
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://asset-2.tstatic.net/jogja/foto/bank/images/uang-kuliah-tunggal_1507.jpg

Sejarah kuliah berbayar di dunia mencerminkan evolusi panjang dan kompleks dari sistem pendidikan tinggi. Definisi "universitas" telah berubah sepanjang sejarah, berkembang dari lembaga pendidikan awal di berbagai belahan dunia menjadi institusi yang kita kenal saat ini. Dari pendidikan tinggi masa Andalusia hingga universitas berbayar pertama di Eropa, setiap tahap menunjukkan pergeseran dalam cara pendidikan dibiayai dan diakses.

Pendidikan Tinggi Masa Andalusia

Pada zaman kejayaan Islam, pendidikan tinggi di Andalusia memiliki karakteristik unik yang berbeda dari sistem pendidikan modern. Andalusia, yang kini merupakan bagian dari Spanyol, dikenal sebagai pusat intelektual terkemuka pada masa itu. Institusi pendidikan tinggi di Andalusia tidak mengenal sistem biaya kuliah formal seperti yang ada saat ini. Sebaliknya, banyak dari lembaga pendidikan tersebut didanai oleh wakaf atau sumbangan dari para penguasa, bangsawan, dan pedagang kaya. Wakaf ini adalah endowmen yang digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pendidikan dan sosial, memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas dan dalam beberapa kasus, mungkin gratis bagi mahasiswa.

Selama periode ini, Andalusia menjadi magnet bagi banyak mahasiswa dan peneliti dari Eropa yang datang untuk belajar dan bekerja. Proses penting yang terjadi di sana adalah penerjemahan karya-karya kuno dari bahasa Yunani, Latin, dan Arab ke dalam bahasa Eropa lainnya. Upaya ini sangat berkontribusi pada Renaisans Eropa, menunjukkan bahwa pendidikan di Andalusia terbuka dan dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Patronase dan sumbangan yang mendukung pendidikan di Andalusia memungkinkan institusi pendidikan untuk menawarkan akses yang lebih luas dan inklusif, meskipun detail spesifik tentang struktur biaya dapat berbeda-beda tergantung pada institusi dan waktu tertentu.

Konsep Kuliah Berbayar

Konsep "kuliah berbayar" telah bervariasi sepanjang sejarah dan di berbagai tempat. Bentuk pembayaran tidak selalu berupa uang tunai; dalam banyak kasus, pembayaran bisa berupa tenaga kerja atau barang. Di Eropa abad pertengahan, universitas-universitas awal seperti Universitas Bologna di Italia dan Universitas Paris di Prancis mengharuskan siswanya membayar biaya tertentu. Di Bologna, yang didirikan pada tahun 1088, mahasiswa diperkirakan membayar para profesor secara langsung. Begitu pula di Universitas Paris, yang didirikan pada abad ke-12, siswa mungkin perlu membayar para pengajarnya.

Sistem pendidikan tinggi pada masa itu berbeda dengan universitas modern. Banyak universitas awal lebih mirip dengan guild (perkumpulan) daripada institusi pendidikan formal seperti saat ini. Menentukan universitas berbayar pertama di dunia agak rumit karena beberapa alasan, termasuk definisi "universitas" yang berevolusi dari institusi pendidikan tinggi yang lebih tua dan fakta bahwa pendanaan sering datang dari berbagai sumber seperti sumbangan gereja, bangsawan, dan biaya kuliah.

Universitas Bologna dan Universitas Paris adalah dua contoh penting dari universitas awal yang kemungkinan besar menerapkan biaya kuliah. Di Bologna, siswa diyakini membayar biaya untuk menghadiri kuliah, meskipun mungkin ada dukungan finansial eksternal. Di Paris, sebagai pusat intelektual terkemuka di Eropa pada Abad Pertengahan, siswa kemungkinan juga membayar biaya untuk mengikuti kuliah dan ujian. Informasi rinci tentang biaya kuliah di universitas-universitas ini pada masa itu mungkin sulit ditemukan, dan sistem pembayaran mereka mungkin berbeda dari sistem yang kita gunakan saat ini.

Universitas Gratis di Dunia Kuno

Beberapa masyarakat kuno, seperti Yunani Kuno dan Kekaisaran Romawi, memiliki institusi pendidikan tinggi yang didukung negara dan gratis bagi siswa. Di Yunani Kuno, misalnya, filsuf seperti Socrates dan Plato mengajar di sekolah-sekolah yang terbuka bagi masyarakat umum tanpa memungut biaya. Di Kekaisaran Romawi, ada juga institusi pendidikan yang didanai negara, memberikan akses pendidikan tinggi yang lebih luas tanpa biaya.

Namun, meskipun beberapa universitas awal membebankan biaya kuliah, ada juga mekanisme untuk mendukung siswa yang kurang mampu. Beasiswa dan patronase dari orang kaya memungkinkan siswa miskin untuk belajar. Patronase, yang mirip dengan sistem wakaf di dunia Islam, memungkinkan banyak siswa untuk mengakses pendidikan tanpa harus membayar biaya kuliah secara langsung. Dengan demikian, meskipun konsep kuliah berbayar telah ada sejak lama, ada juga upaya untuk memastikan bahwa pendidikan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.

Sejarah Kuliah Berbayar di Indonesia

Sejarah kuliah berbayar di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang dan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan politik. Dari era kolonial Belanda hingga era reformasi, sistem biaya pendidikan tinggi di Indonesia terus mengalami perubahan yang signifikan.

Era Kolonial Belanda

Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan tinggi di Indonesia umumnya gratis. Institusi pendidikan tinggi didirikan dan didanai oleh pemerintah kolonial untuk mencetak tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk mendukung administrasi kolonial. Beasiswa hanya diberikan kepada kalangan elit dan pribumi yang dianggap potensial untuk mendukung agenda kolonial. Pendidikan tinggi pada masa ini tidak dirancang untuk memberikan akses luas kepada penduduk pribumi, melainkan lebih untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang spesifik bagi kepentingan kolonial.

Era Kemerdekaan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun