Mohon tunggu...
Aten Dhey
Aten Dhey Mohon Tunggu... Senyum adalah Literasi Tak Berpena

Penikmat kopi buatan Mama di ujung senja Waelengga. Dari aroma kopi aku ingin memberi keharuman bagi sesama dengan membagikan tulisan dalam semangat literasi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Adorasi Kerinduan

30 Juni 2020   22:03 Diperbarui: 30 Juni 2020   22:06 37 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Adorasi Kerinduan
Foto: Aten Dhey

Ruang kudus itu sangat sepi. Hanya ada bangku-bangku kosong. Lilin paskah terus menyala. Dua lilin altar juga demikian. 

"Hidupkan saja lilin altar biar kita fokus ke Sakramen Mahakudus," ungkap Kano. 

Aku tak banyak bicara. Hatiku letih saat harus bergulat dengan maut. Setiap malam ruang kudus ini penuh dengan doa dan harapan. Mulai dari ekaristi, adorasi, brevir, hingga rosario. Aku sempat bingung mau berdoa dan mendoakan apa. Satu hal yang pasti bahwa aku selalu menyerahkan dunia yang saat ini sedang sakit. 

"Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, amin."

"Tuhan, betapa keringnya hidup ini," bisikku sembari mencium rosario kudus. 

"Terpujilah Engkau untuk selama-lamanya," Pater mengawali adorasi Mahakudus. 

Batinku seperti dibantai saat doa itu mulai didaraskan. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Berharap Tuhan yang hadir dalam Sakramen Mahakudus mendengarku.  Aku tertegun menatap rupa Tuhan yang tersamar di dalamnya. 

Aku jatuh dalam pergolakan batin yang sangat hebat. Tuhan tahu itu. Aku berharap semuanya cepat berlalu. Biarlah seonggok luka yang kurasakan mengering bersama putaran waktu. Mungkin saja luka ini menganga agar aku bisa bangkit. Perjuangan untuk sembuh lebih besar dari pada sebuah luka tanpa perjuangan. 

"Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, amin."

"Adorasi Ekaristi Mahakudus telah selesai."

"Syukur kepada Allah," terdengar suara umat Allah. 

Aku bangkit mendapatkan semangatku dalam doa dan dukungan mereka.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x