Mohon tunggu...
Aten Dhey
Aten Dhey Mohon Tunggu... Senyum adalah literasi tak berpena

Penikmat kopi buatan Mama di ujung senja Waelengga. Dari aroma kopi aku ingin memberi keharuman bagi sesama dengan membagikan tulisan dalam semangat literasi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ayah Seorang Ustad

23 Mei 2019   22:37 Diperbarui: 23 Mei 2019   23:18 0 9 0 Mohon Tunggu...
Ayah Seorang Ustad
Pixabay.com

Dua Santriwati berjilbab keluar dari pesantren. Mereka datang menemui kami. Senyum indah terpancar dari wajah keduanya. Mereka tahu siapa kami. Tanpa menunggu lama kami dituntun menuju asrama para Santri.

"Selamat datang di pesantren kami. Semoga kegiatannya lancar," ungkap seorang Santriwati.

Tanpa menunggu lama kami bergegas menuju tempat penyimpanan barang. Suasana baru menghiasi hidupku. Akhirnya aku bisa datang dan tinggal sementara di pesantren ini. Aku harus memanfaatkan momen ini.

 "Semoga aku kerasan berada di sini. Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan aturan yang ada. Rutinitas kuliah harus ditinggalkan agar aku bisa memasuki kehidupan yang baru. Mata kuliah Sakramentologi, Trinitas dan Kristologi harus kutinggalkan untuk sementara waktu. Rasanya mata kuliah dialog agama-agama, Islamologi, Moral Sosial, dan Etika sangat cocok untuk konteks saat ini. Ya, meskipun aku cuma mendapat nilai B," ungkapku sambil tersenyum melihat kagagalan semester lalu.

***

Hari sudah mulai gelap. Selepas membersihkan diri, aku memutuskan untuk menuju angkringan. Nasi goreng menjadi teman setia kopi hitam di sore itu. Waktu hampir menunjukkan pukul 18.00. Situasi seputar Masjid menjadi hening. Para Santri dan Santriwati menuju ruang doa. Dalam kekyushukan mereka membawa sajadah dan Alquran. Aku menyeruput kopi hitam secepat mungkin.

"Aku harus cepat. Pemilik kantin ini akan ikut magrib," ungkapku dalam hati sambil menatap ke arah loker pembayaran.

Aku berjalan menuju Masjid dan berdiri di hadapannya. Suara Adzan membela heningnya malam. Aku masuk dalam situasi doa. Segala kegiatan dihentikan tatkala Pak Ustad sedang mendaraskan kata-kata doa. Aku terbelalak melihat situasi ini. Selama ini aku hanya mendengar suara ini dari jauh. Kini, suara itu hanya berjarak bebrapa meter.

"Di sini toleransi beragamanya sangat kuat," suara seorang tua memecah keheningan batinku.

"Perkenalkan. Namaku Parjo. Ustad yang memimpin doa adalah anak pertamaku," terangnya.

Aku kaget bercampur takut. Ini pertama kali aku berdiri di depan Masjid dan berbicara dengan seorang yang memiliki peran penting di tempat ini. Pak Parjo seorang tua. Dia seorang cendikiawan. Cara bicaranya menampakkan hal itu. Aku jadi salah tingkah ketika berbicara dengannya. Selain itu, dia seorang yang memiliki sikap yang baik. Aku tidak kaget jika dia mengatakan bahwa anaknya adalah seorang Ustad. Pepatah lama menegaskan bahwa, "Buah jatuh tidak jauh dari pohon."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x