Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Administrasi - Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Barangsiapa Menguasai Benih Menguasai Kehidupan

7 Juli 2022   08:15 Diperbarui: 7 Juli 2022   08:18 216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

"Barangsiapa Menguasai Benih Menguasai Kehidupan" adalah judul tulisan dari seorang pakar pecinta pertanian,pastur luar biasa,Gregorius Utomo pr.(17/02/1929-22/01/2020) Makalah singkat itu saya temukan bersama tulisan saya tertanggal 10 Oktober 2015 yang berjudul "Impian 25 tahun yang lalu", sebuah kesaksian yang diminta oleh para pengarah acara Seminar Peringatan Hari Pangan Sedunia 16 oktober 2015 pada sebuah lembaga pendidikan di Yogyakarta. 

Kalimat judul itu sudah menjadi judul makalah seorang pastur, guru dan panutan kearifan saya. Makalahnya diberikan untuk melengkapi tulisan saya tertanggal 10/10/2015.tersebut.

Jadi dua makalah tersebut diatas sangat terkait satu sama lain, oleh satunya target mau mendukung sebuah acara Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dirayakan setiap tanggal 16 Oktober. Makalah saya memaparkan sebuah acara peristiwa pada tahun 1990, tentang HPS itu; sementara makalah pastur G.Utomo bicara latar belakang terdalam dari HPS, yaitu : Perang Benih.

HPS adalah hari yang ditetapkan oleh sidang FAO,ke20, bulan Nopember 1979, dimana Indonesia ikut hadir. HPS bertujuan untuk peningkatan kesadaran akan permasalahan pangan dan kesetia-kawanan nasional dan internasional.  Disamping itu tujuan kedua yaitu ajakan partisipasi kepada kelompok yang biasa tidak diperhatikan (perempuan dan kelompok marginal lainnya) dalam proses mengambil keputusan lebih-lebih terhadap nasib mereka sendiri. HPS dimulai pada tahun 1981, tanggal 16 Oktober,yang adalah juga hari lahirnya FAO yang ke 22.

 Asian Insitute for Social Action, sebuah lembaga sosial Gereja Katholik Asia, kebetulan menyelenggarakan kegiatan saling kunjung-pembelajaran (eksposure) di Indonesia, dalam rangka HPS, dipetik oleh pastur G. Utomo pr diundang untuk diselenggarakan di Ganjuran. Sebagai sajian diselenggarakan acara "seminar petani".

Seminar petani pada tahun 1990 di Ganjuran, tempat tugas Rm.G.Utomo pr itu menjadi pertemuan "internasional" berbasis petani, terjadi pertama kali di Ganjuran, desa Sumbermulyo. Kapenewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.

Selanjutnya HPS itu dikembangkan oleh sebuah tim diasuh oleh Greg.Utomo pr setiap tahun berpindah tempat penyelenggaraan dari kabupaten satu kelain kabupaten secara meriah. Semboyan kearifannya ialah "meneteskan minyak dipermukaan air, setetes akan berkembang menyebar". Dan selalu melibatkan potensi petani, pemerintah daerah, dimana tim selalu mengadakan pendekatan lama sebelumnya dengan bendera HPS dan FAO.  

Awalnya berbasis petani kemudian pada tahun keempat melibatkan tani dan nelayan. Dari tahun ketahun dengan thema yang berganti-ganti sesuai arahan FAO. Semua itu saya paparkan dalam makalah saya berjudul Impian 25 tahun yang lalu, karena saya masih bisa mengikuti sebagai timpengarah hingga HPS tahun 2007, dan ditahun itu ektra memperhatikan Green Youth Education.

Demikian HPS yang juga sejak awal berhadapan dengan Pemerintah Ordo baru saat itu yang begitu keras menawarkan atau memaksakan sejak tahun 1970 dengan Revolusi Hijau. Senjatanya BIMAS & INMAS, Benih kaum tani dimusnakan dan diganti dengan IR5, IR8, sampai IR64.(benih dari IRRI, International Rice Research Institute, Los Banos, Philipina). 

Lahan pertanian menjadi sarat dengan agro-kimia, pupuk kimia dan pestisida, meracuni bumi dan kehidupan mikro organismenya. Benih petani yang umur panjang tetapi lembut dan harum dimusnakan. Polisi dan Koramil pun dilibatkan dalam perang benih ini. Sebaliknya kami juga mempunyai dukungan dari beberapa pakar lembaga pendidikan diantaranya dari Fakultas Pertanian UGM, Balai Kursus Pertanian dan Pedesaan, Cotabato, Pilipina Selatan, untuk Sustainable Agricuture/ Pertanian Lestari.

Perang Benih antara benih industri benih dengan benih petani. Konflik kepentingan antar food security dengan food sovereignty (kedaulatan pangan). Konflik ini akan selalu ada, dan selalu petani menjadi pihak yang dikalahkan dan semakin terkikis budaya petani lokal. Seperti halnya petani sawit dan industriawan minyak goreng.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun