Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Idul Fitri, Kedamaian, dan Menulis

16 Mei 2021   09:28 Diperbarui: 16 Mei 2021   09:41 965 10 0 Mohon Tunggu...

Menulis bagiku adalah mencatat pengalaman, mempelajari dan mengamalkannya, menghibur diri, mengisi waktu, berkomunikasi dan berbagi. Sejak beberapa hari sebelum hari Idul Fitri, bahkan sejak masuk ke bulan Ramadhan hatiku terisi oleh peribadatan puasa saudara saudariku yang berkewajiban melaksanakannya.

Ikut mengalami ibadah puasa tercatat pada tulisan-tulisan saya sejak 17 April yang lalu. Saya sudah menulis dan mencatat dari mengaji kilat pada tiga tokoh dusun. bahwa bulan Ramadhan sungguh layak sebagai Bulan Puasa dari pelanggaran segala aturan dan untuk suatu pertobatan demi kesempurnaan kehidupan. Demikian juga peribadatan berhasil akan dapat mengubah pemeluk, situasi dan masyarakatnya menjadi lebih segar dan damai.

Menulis bagiku adalah belajar dari pengalaman sambil mengamalkan pesannya. Untuk pesan positip tercatat bahwa sudah banyak digelar pelbagai sikap terhadap pandemi dan mudik. Menjelang jauh Idul Fitri pun mudik sudah hangat dibicarakan. Dan sungguh saya merasakan adanya dillema bagi Pemerntah menyikapi Pandemi dan jiwa semangat mudik. Mudik merupakan buah dari bulan puasa yang membawa ke refleksi mendalam dan kesadaran bersyukur kepada luluhur atau orang tua. Sikap yang sudah menjadi kebiasaan dan membudaya itu sekarang semakin diwarnai oleh sejenis perjuangan atau sikap menahan diri yang berkelanjutan. Kerinduan yang tertahan atas nama disiplin protokol kesehatan.

Idul fitri hari pertama dan hari kedua: Seorang kristiani dicemooh anak isteri karena kesepian. Demi nasehat dokter saya memilih setiap pagi berolah raga ringan menyapu halaman dan jalan depan rumah. Saat itu dihari pertama saya menghitung tiga sepeda motor menuju masjid. Tak ada berbondongan ayah ibu anak-anak berdandan rapi menuju lapangan untuk solat Ied.

Di hari kedua saya selesai menyapu halaman dan jalan depan rumah santai hingga jam 09.30 hanya lewat 4 kendaraan roda 2 dua keluarga berboncengan berdandan pesta pasti akan silaturahmi entah kemana. Dusunku sepi. Sebelum pandemi baik orang lewat maupun kunjungan kerumah kami, rumah kristiani ini semarak dan penuh sukacita.

Menulis dan mencatat pada hari-hari Idul Fitri ada beberapa hal yang saya peroleh. Dua topik mengisi diskusiku bersama anak dan teman grup WA. Sebuah artikel seorang Ustadz  Arifin Yahya. dan Homili Paus Fransiskus. Saya kurang yakin apabila dibilang dua topik itu disengaja dikirim kepada saya dihari Idul Fitri yang kebetulan bersamaan Hari Raya Peringatan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga.

Dua hari raya itu bersamaan dari dua agama Samawi.Ini rupanya ada yang memaknai sebagai hari ajakan kedamaian antar keduanya. Karena saya merasa tidak ada permusuhan maka saya memandang ajakan serupa itu tidak sedemikian serius. Namun sebagai spontanitas suka cita tidak ada jeleknya sebaiknya diapresiasi positip.

Menulis mencatat diskusi dari salah satu grup WA beberapa hari yang lalu bertopik Berkesadaran Sejarah. Dibahas beberapa sejarah adat kebiasaan budaya kraton Jawa sampai pada kebiasaan makan ketupat di hari raya "Bakda" atau Lebaran, sudah selesai berpuasa, bersyukur, dan itulah tidak lain adalah Iedul Fitri.

Nah mereka mengangkat suatu ajakan meninjau sejarah berkenaan dengan pandangan sekarang ini tentang Perang di Timur Tengah. Dan dilontarkan artikel karya Ustadz Arifin Yahya berjudul : Yerusalem Menurut Pandangan Seorang Ilmuwan Islam dari Indonesia.(Yerusalem Menurut Pandangan Seorang Ilmuwan Islam Dari Indonesia -- Perwira Satu  ) Menulis tentang topik ini saya merasa masih kurang bahan dan referensi.

Catatan dari hari kedua Idul Fitri, saya memang lebih berminat. Bukan karena itu khotbah (homili) pimpinan Gereja saya tetapi karena ini lebih jauh dari kemungkinan menjadikan dampak kurang baik bagi interaksi di Kompasiana.

Adapun Homili atau khotbah itu berjudul :     "Menjadi manusia yang bahagia", (Sumber)  Menjadi keheranan bagi saya bahwa dalam homili itu tidak satu kalipun ada kutipan dari Alkitab. Apa yang dikatakan seperti kata mutiara. Semua kata berbobot bermakna dan diambil dari percakapan sehari hari. Menurut persepsi saya dari homili itu : Bahagia adalah Mau melihat diri sendiri itu bermakna dan mau memaknai serta memberi makna lingkungannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x