Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu jobless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Citra Diri, Spiritualitas Pancasila

2 Juni 2018   08:58 Diperbarui: 2 Juni 2018   09:20 488 0 0

Wajar bukan mari kita renungkan Jiwa dan Api Pancasila, karena kemarin kita peringati Hari Lahirnya Pancasila. Juga baru kemarin dulu saya kirim di Kompasiana ini tulisan saya : Citra diri, Spiritualitas Ekologis.  Tulisan ini mungkin memang kelanjutan dan pematangan dari yang dimaksud dari tulisan itu menjadi : Citra Spiritualitas Pancasila. Dan ini juga mau mengatakan Ekologiku itu Negeri Pancasila.

Renungan Spiritualitas Ekologis kemarin dulu itu memang bermula dari renungan pengalaman nyata : Pengalaman-pengalaman macam apa di hidup keseharian kita yg menumbuhkan semangat dan jiwa kehidupan untuk masa kedepan kita. Kehidupan keseharian kita berarti kehidupan di dalam lingkungan dan habitat kita, yang natural alami di "lingkungan hidup" kita, pergaulan dengan sesama dan penerimaan masukan dari dinamika dunia kita.

Sumber terjauh dari renungan itu sebenarnya adalah dokumen yang sungguh bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah sosial dan theologis  yang berjudul "Laudato Si" , tentang : Perawatan Rumah Kita Bersama. Tulisan tokoh dunia bernama Fransiskus. Pada bab IV dipaparkan tentang Ekologi yang integral meliputi Ekologi lingkungan, ekologi ekonomi, dan ekologi sosial., ekologi budaya, ekologi hidup sehari hari, ditegaskan prinsip kesejahteraan umum dan keadilan antar generasi.

Penulis, saya sebagai seorang kristiani Indonesia, tidak bisa melupakan pesan seorang pahlawan nasional Mgr. Albertus Soegiopranoto SJ yang menegaskan semboyan ini : Mau katholik seratus persen dan itu harus Indonesia seratus persen.

Maka penulis bersyukur bahwa para Pendiri penegak negeri ini dan Penggali perumus Pancasila mencantumkan sila pertama : Ketuhanan yang Maha Esa.  Sehingga saya bisa membuat dan menulis Renungan kali ini sebagai seorang Indonesia yg kristiani dengan bahasa yang dipahami semua warga negeri Pancasila ini. Bersyukur kita atas Kebersamaan dalam aneka agama dan kepercayaan.

Bersyukur bahwa Pancasila kalimat kedua dikatakan : Peri Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.  Maka pada akhir tulisan kemarin dulu sebelum ini itu saya tulis : Pertanyaan reflektif berikutnya : Apakah Spiritulalitas ekologis itu bukannya sifat dasar asli hakikinya manusia yang berbudi barakal budi ini? Dan mungkin disini inilah harus dijawab pertanyaan refletif itu dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Bersyukur bahwa Persatuan Indonesia menjadi Prinsip berikutnya sebelum Kemanusiaan itu (sila kedua) memperoleh rumus pelaksanaan yang tidak menghormati Persatuan.  Disini ditegaskan bahwa dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia tidak ada peluang bagi individualisme, bagi separatime dan pengkotakan lain lain sebab kepentingan umum menjadi prinsip utama dalam kebersamaan kita..

Bangsa dan masyarakat politik sangat sering kurang mengindahkan sila keempat kita karena banyak pemimpin melupakan rakyatnya. Atau terlalu pintar sehingga pintar melupakan jati dirinya sebagai Rakyat Bangsa dan negaranya. Kepintaran dan gelar besar kesarjanaannya justru bisa menghilangkan "AQAL", ikatan integralitas diri manusia ber pikiran, ber perasaan dan ber kemauan.  Kehilangan akal sehat membuat kehilangan kemampuan menangkap hakekat realitas dan apalagi Hikmah Kebijaksanaan dalam kebersamaan.

Padahal amanat Sila keempat Pancasila adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan. Kerakyatan kita diamati dengan kacamata semangat ekologis yang integral adalah kebersamaan dan kekeluargaan.

Dengan itulah cita cita dan target kita bersama adalah sebagai disebut oleh sila kelima: Keadilan sosial "bagi seluruh rakyat Indonesia".

Pasti itu sejalan dengan Prinsip Solidaritas dan Subsidiaritas, yang kekeluargaan dan saling membantu dalam kebersamaan. Saling membantu sampai yang terbantu bisa mandiri dan membantu yang lainnya. Bahkan tanpa dikatakan sampai seperti apa kita semua paham semangat gotong royong itu seperti apa biasa dilaksanakannya.

Jadi renungan berakal budi ini berangkat dari Semangat Ekologis yang manusiawi holistik integral menemukan Jiwa dan Api Semangat Pancasila yang religius, manusiawi dan berorientasi kekeluargaan dan kebersamaan. Bolehlah saya sebut semangat Pancasilais seutuhnya.

Banyak warga teladan dalam berpancasila dipaparkan kemarin, bukan saja pahlawan pejuang di medan laga, tetapi juga pancasilais dalam pelaksanaan pengabdian dan pelayanan sesama warga. Seperti para ibu isteri pendamping pejabat , petugas di pedesaan dan daerah terpencil bersama keluarganya.dll.

Menutup renungan ini perlu dicatat bahwa semua ini adagium, semboyan, bendera berupa kata, juga prinsip, garis besar halaun hidup. Itu harus diuji, di hidupi, dikembangkan dalam pelaksanaan dan terus terus direfleksi dilaksanakan, direfleksi dilaksanakan. .....

Maafkan dan tolong terima salam saya : M e r d e k a.

Ganjuran, 2 Juni 2018, Emmanuel Astokodatu.