Cerpen

Debat Calon RW dalam 3 Bahasa

14 September 2018   23:34 Diperbarui: 14 September 2018   23:50 358 1 0

Lima menit jelang DebatTerbuka Ketua RW 13. Dilihat dari angkanya saja sudah terlihat angker. Nomor 13 ( tiga belas ). Sebuah nomor yang sebagian masyarakat punya kesan mistis. Dan nyatanya angka nomor ini banyak yang bikin dag dig dug. Sangat keramat bahkan sampai ada yang bikin ruwatan. Tapi sudahlah, itu hak mereka.

Calon pertama namanya Pak Mas Suncono. Umurnya dibawah 40 tahun diatas 30 tahun. Lulusannya keren! Pokoe lulusan Eropa gitu aja. Nama sekolahnya lupa atau bahkan nggak tahu. Maksudnya,  masyarakat pada banyak yang nggak tahu. Yang diketahui masyarakat paling kan Madrasah, SMK, ato kuliah di UI, ITB, UGM, UNDIP, dll. Disamping lulusan perguruan keren, dia juga kaya dan majahnya guuantengnya minta ampun. Dan pastinya itu punya daya tarik tersendiri dong!

Sementara calon yang kedua namanya Sarkowi bin Mamat. Memang sedikit katro namanya. Kurang keren. Juga lulusan ijazahnya lokal. Selokal wajahnya. Tapi biarpun begitu, bapak yang satu ini terkenal pekerja keras. Di usia mudanya penggembala kambing. Tukang ngarit dan terbilang puasa Senin kamisnya istiqomah. Ah, masa iya sih? Itu menurut orang-orang yang pas mengetahui kebiasaan itu.

"Hadirin, kita akan dengar pengenalan plus visi misi calon nomor urut pertama Pak Mas Suncono" begitu seorang pembawa acara membacakan berita acaranya. Sangat antusias para hadirin memberi tepuk tangan. Kebanyakan anak-anak muda atau bisa disebut istilah kerennya kaum millenial.

"Assalamu'alaikum,..."

"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh,.." dijawab hampir separoh para hadirin. Bisa ditebak mungkin itu pendukungnya.

"Perkenalkan nama saya Mas Suncono. Lahir bla bla bla bla. Begitu dan seterusnya masa perkenalan dan lengkap dengan biografinya. Intinya kaum millenial dibikin kagum pakai sangat. Semua tumpah riuh tepuk tangan. Apalagi saat pidato inti, dia sangat terpelajar dan benar-benar mewakili kaum millenial. Gile, pidato Debat ketua RW 13 nya pakai 3 bahasa. Inggris 50 %, Perancis 45 %, dan 5 % nya pakai bahasa Indonesia. 

Yaitu pas perkenalan asal muasal dan biografinya. Pokoe semua pidato visi misi dan tetek mbengeknya pakai bahasa Inggris dan Perancis. Keren kan? Akhirnya sebagian pendengar pada plonga-plongo saja. Bahkan ada yang sampai nekat ketiduran. Itu ada yang dari tadi yel yel terus sampai ngebangunin bapak yang disebelahnya.

"Berisik!!" gertak bapak yang masih sedikit terkantuk.

"O iya maaf-maaf pak."

"Sampeyan yel yel dari tadi, ngarti nggak sih isi pidatonya?"

"Nggak ngerti pak. Lha wong bosone pake boso londo" jawabnya polos pemuda yang ngaku millenial ini.

"Lha kalo nggak ngerti ya sudah. Mending tidur saja. Nanti kalo pidatonya Pak Sarkowi tuh baru dengerin. Itu bener maksud dan tujuannya. Sebab setahu saya beliau gak terbiasa pake boso londo"

Akhirnya benar. Begitu calon nomor urut kedua berpidato, orang-orang yang nekat ketiduran tadi langsung bangun dan mengucapkan SETUJUU,..

Lho kok secepat itu tanggapannya? Lha hiya lha wong yang ditunggu-tunggu pidato yang barusan didengar. Yaitu RW akan bangun jalan, memperbaiki tempat ibadah, dan ngaji gratis. Dan ada sumbangan tunjangan dikit buat yang sakit dan yang nggak mampu sekolah dengan bantuan keringanan.

Jadi intinya, sebuah pidato Debat Ketua RW itu harus jelas arah dan tujuannya. Pakai Bahasa ndeso juga nggak apa-apa. Yang penting sami'in ngerti dan memahami. Ketimbang pidato pakai bahasa yang terkesan millenial tapi masyarakat nggak ngerti arah tujuannya. Semua debat calon Ketua RW itu visi misinya tetap bagus dan membangun. Akan tetapi yang lebih bijak dan afdhol, Sampaikan kepada kalayak masyarakat yang ingin memilih kita dengan pesan jelas karna kearifan lokal bahasa yang kita sampaikan.