Mohon tunggu...
Asita Suryanto
Asita Suryanto Mohon Tunggu... Traveler

pecinta traveling dan kuliner

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Taj Mahal, Lambang Cinta yang Tiada Duanya

15 Agustus 2019   05:01 Diperbarui: 15 Agustus 2019   10:55 0 4 2 Mohon Tunggu...
Taj Mahal, Lambang Cinta yang Tiada Duanya
Bangunan Taj Mahal yang indah (dok asita)

Hanya ada satu kata bersyukur! Ketika  saya berhasil bisa menginjakan kaki di  lantai bangunan Taj Mahal. Sudah lama sekali saya ingin mengunjungi makam yang paling indah di dunia ini. Makam Mumtaz Mahal adalah makam yang paling luas dan paling indah di muka bumi sehingga mendapat predikat salah satu bangunan yang masuk salah satu dari tujuh tempat  keajaiban dunia.

 Bangunan makam dibangun empat ratus tahun yang lalu dikerjakan oleh sekitar 20.000 ppekerja tukang dan dikerjakan selama hampir 17 tahun. Dinding di makam banyak ukiran tulisan kaligrafi dengan huruf Arab. Sampai saat ini bentuk bangunan tetap kokoh meski telah dikunjungi jutaan pengunjung dan sejumlah Raja maupun Presiden di muka bumi hampir semuanya telah berkunjung ke Taj Mahal bila melawaat ke India.

Di sisi kiri dan kanan makam, terdapat masjid berwarna tembok merah yang setiap hari Jumat digunakan untuk sholat Jumat berjamaah. Sehingga setiap hari Jumat, Taj Mahal ditutup untuk umum karena ruangan masjidnya dimanfaatkan untuk sholat.

Saya bersama rombongan datang sangat pagi sekitar pukul 05.30 untuk menyaksikan sunrise di sini.Tapi sayang ketika datang cuaca tidak mendukung karena mendung dan hujan rintik-rintik.Tapi meskipun datang di pagi hari ternyata turus lainnya sudah banyak yang datang untuk mengejar sunrise di sini juga.

Memasuki area Taj Mahal harus membayar tiket sekitar Rp 200.000, atau 1000 rupee untuk harga tiket turis asing. Setelah membeli tiket, kita akan mendapat satu botol air minum, tisu basah, dan plastik pembungkus sepatu. Areal antara pintu gerbang utama dan loket tiket cukup jauh untuk berjalan sekitar 500 meter.

Sepatu harus dibungkus dengan plastik yang sudah diberikan di loket  dan sekaligus menjadi pembungkus kaki selama kita berjalan memasuki kawasan makam dan taman di seputar bangunan Taj Mahal. Luasnya taman di Taj Mahal hampir seluas Kebun Raya Bogor dan perlu waktu dua setengah jam berjalan untuk mengelilinginya.

Nama "Taj Mahal" berarti juga Mahkota Istana. Sejarah istana dari masa pemerintahan Shah Jehan menyebutnya sebagai makam atau rauza yang berarti tempat makam Mumtaz Mahal. Ada pula yang menduga nama Taj Mahal adalah versi singkat dari namanya, Mumtaz Mahal.

Sejarah Taj Mahal, adalah proses pembangunan sebuah makam yang layaknya sebuah istana dikelilingi tembok marmer yang diukir indah dengan tulisan kaligrafi berbahasa Arab. Marmer yang digunakan adalah marmer ukuran lebar dan dikerjalan pada zaman  Kaisar Mughal Shah Jahan yang mendirikan mausoleum ini untuk mengenang istri tercintanya, Arjumand Bano Begum. 

Nama permaisuri yang  dikenal sebagai Mumtaz Mahal, yang meninggal pada tahun 1040 M (1630 M) sekitar 400 tahun yang lalu. Keinginan Raja adalah "membangun kuburan dalam ingatannya seperti membangun sebuah istana yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya". Jadi kaisar Shah Jahan mulai membangun dongeng ini seperti keajaiban.

Pembangunan Taj Mahal dimulai pada tahun 1631 M dan selesai pada akhir tahun 1648 M. Selama tujuh belas tahun, dua puluh ribu pekerja  dipekerjakan setiap hari, untuk akomodasi mereka sebuah kota kecil di Agra sekitar 200 kilometer dari New Delhi.

Nama bangunan ini  dinamai sesuai dengan permaisuri yang telah meninggal  bernama Mumtazabad. Taj Mahal, namanya muncul di akhir sebuah prasasti di salah satu gerbang Taj Mahal. Penyair Ghyasuddin telah merancang ayat-ayat di atas batu nisan, sementara Ismail Khan Afridi dari Turki adalah pembuat kubah. Muhammad Hanif adalah pengawas Mason. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2