Mohon tunggu...
Ashri Riswandi Djamil
Ashri Riswandi Djamil Mohon Tunggu... Profesi Guru Pekerjaan Menulis

Penulis Pemula Coba-coba asal bukan buat anak.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kenikmatan Sesaat

28 November 2020   11:41 Diperbarui: 28 November 2020   11:50 1537 10 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenikmatan Sesaat
pexels.com

Masih cantik dia terlihat, walau hanya berbalut selimut ungu. Apa Cuma aku yang merasa kalau wanita itu justru cantik saat polos, tanpa selapis bedak setitikpun? Entahlah preferensi setiap laki-laki dalam melihat perempuan berbeda satu sama lain. Dia membelakangiku. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat. Ah ... pikirku masih bisa sekedar mengumpulkan nyawa setelah semalaman memuncaki puncak kenikmatan bersama dia. Kekasih gelapku, sefia ku sayang.

Aku peluk dia dari belakang. Melingkarkan tangan ku sampai tepat di dadanya. Dia berposisi seperti udang atau kucing kedinginan? Entahlah tapi itu posisi tidur ternyaman baginya mungkin. Kukecup pelipisnya dan segera bangkit dari ranjang hangat akibat kami berdua dari semalam. Aku menuju kamar mandi dan cuci muka seadanya, karena sudah siang juga. Aku pastinya sudah telat berangkat ke kantor. Bos pasti ngomel-ngomel. Memang bajingan orang itu. Kapan hari rasanya ingin kuhantam kepalanya dengan printer kantor. Tapi urung kulakukan. Hal bodoh mungkin. Nanti ada saatnya kupikir saat itu. Padahal aku sudah mengerjakan hal A. ternyata harus diselesaikan juga yang B. seharusnya itu bagiannya Dewi. Sial pikirku. Pasti dia sedang merayunya agar bisa ber akhir pekan bersama di sebuah hotel. Nanti pasti kena batunya kupikir saat itu.

Selesai berpakaian aku kembali memandangi wajahnya sebelum kutinggal pergi. Dia pasti memakluminya. Aku hanya tidak tega membangunkannya. Dia begitu lelah semalam setelah dua sesi bercinta. Sekelebat pikiranku untuk tidak jadi berangkat muncul lalu sirna. Nanti masih bisa kan. Ya ini hari pertama pekan kedua sebelum berakhir tahun penuh kejutan ini. Tahun paling berkesan bagiku. Sekaligus tahun paling bangsat. Akibat pandemi yang tak berkesudahan ini. Sial! Kupikir si kutu buku itu hanya membual 5 tahun lalu di acara diskusi itu. Mungkin dia biang keladinya. Tak cukupkah dia membuat software yang harus bayar mahal untuk dapat sekedar bekerja saja. Hanya mengetik saja. Huh! Mungkin dia bajingan terakhir yang akan kubunuh di dunia ini.

Baru saja keluar dari apartemen aku lupa membawa masker. Sial ! aku harus mampir sebentar ke mini market. Setelah itu aku berlari ke halte busway yang pada antri orang-orang hendak berangkat kerja. Mungkin tidak semuanya ada sebagian ke kantor, berhubung  kampus masih tutup mungkin main ke mall atau sekedar nongkrong di warung kopi. Kerumunan memang tidak bisa dihindari. Bangsat! Pikirku seharusnya kami pekerja kantoran kembali di rumahkan saja. Aku orang yang paling menikmati bekerja dari rumah saat awal-awal pandemi lalu. Bangun tidur langsung buka laptop. Mandi agak siangan. Siapa yang tahu kan pas lagi zoom meeting.

Semua itu rasanya seperti kenikmatan sesaat. Mulai dari kencan satu malam, kenikmatan berkhayal membunuh orang-orang yang kubenci. Itu semua nikmat. Walau hanya sesaat. Tapi aku akan selalu melakukannya berulang kali. Tak peduli jika salah satunya terwujud. Mungkin artinya kebahagiaan itu bukan karena sesuatu. Tapi karena kita mau saja. Sampai di depan gedung kantor. Aku berdiri mematung. Sesaat aku memikirkan wajah bos, Dewi, dan rekan sebelah meja kubikel itu. Persetan harus ada sedikit warna dalam hidup ini. Ya kan?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x