Hairun Fahrudin
Hairun Fahrudin IG: pelancongirit

Baca cerita perjalanan saya lainnya di blog pelancongirit.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Secuil Cerita dari Lapangan Tiananmen

11 Juli 2018   13:05 Diperbarui: 11 Juli 2018   17:44 1585 0 0
Secuil Cerita dari Lapangan Tiananmen
Pintu gerbang Kota Terlarang yang jadi ikon paling terkenal lapangan Tiananmen.

Bila Anda belum sekalipun mengunjungi Beijing, pastinya Anda pernah melihat foto lapangan Tiananmen melalui majalah atau media lainnya.  Memang, ini adalah ikon Kota Beijing yang paling kondang. Namun, tempat  wisata yang sangat tersohor ini juga menyimpan cerita kelam tentang pembantaian demonstran yang terjadi 19 tahun lalu. Tak jauh dari sini juga ada Mauseloum of Mao Tse Tung, tempat jenazah Mao yang telah diawetkan itu disemayamkan.

Waktu  masih menunjukkan pukul 4.30 pagi waktu setempat, tetapi antrean untuk masuk ke  lapangan Tiananmen sudah mengular.

Saya datang ke Tiananmen begitu awal karena ingin menyaksikan upacara penaikan bendera yang rutin digelar menjelang matahari terbit.

Meski lapangan Tiananmen adalah area terbuka, pengamanannya ternyata cukup ketat. Pengunjung harus melewati detektor logam dan tak jarang barang bawaan kita juga perlu digeledah. Saya  bersama ribuan warga lokal harus rela berbaris di antrean, lalu masuk  satu-persatu ke area alun-alun kota Beijing itu. 

Baca juga: Tip Backpacking ke Tiongkok

Meski  sudah bersusah payah datang ke Tiananmen pagi-pagi sekali, saya  mendapati pengunjung sudah begitu padat. Posisi bagian depan sudah penuh  semuanya, dan saya pun harus puas menyaksikan seremoni penaikan bendera  tersebut dari kejauhan. Banyak orang ternyata sudah datang sejak dini  hari, bahkan ada yang menginap hanya untuk menyaksikan upacara bendera  yang legendaris tersebut.

Seremoni  penaikan bendera itu berlangsung singkat dan sederhana. Diawali dengan  barisan tentara yang berjalan dengan koreografi khas serdadu Tiongkok,  lalu bendera dinaikkan pada tiang raksasa yang berada di depan gerbang  Kota Terlarang. Bagaimana seremoni tersebut berlangsung, bisa disaksikan  pada video Youtube di bawah ini. Ini bukan video yang saya buat, namun  hasil rekaman seorang turis dari Eropa yang juga menyaksikan acara  tersebut.

Suasana di video tersebut mirip seperti yang  saya saksikan. Saat lagu kebangsaan Tiongkok dikumandangkan, hampir  semua orang sibuk dengan ponsel masing-masing untuk merekamnya dengan  video.

Di video tersebut pengunjung nampak tak terlalu penuh. Namun saat  saya menyaksikan seremoni ini, pengunjungnya jauh lebih ramai, hampir  memenuhi sepertiga area tengah lapangan Tiananmen. Saat itu memang  sedang masa liburan sehingga ada banyak pengunjung dari luar Beijing.

Setelah bendera selesai dinaikkan, kebanyakan pengunjung langsung bubar.  Awalnya saya mengira bakal ada tepuk tangan atau pekik heroik setelahnya, namun warga lokal berlalu begitu saja. Sebagian lainnya  sibuk berswafoto, mencoba mengambil gambar berlatar tentara Tiongkok  yang sedang berjaga di depan gerbang Kota Terlarang.

Karena mata yang  mengantuk akibat bangun terlalu awal, saya memutuskan langsung kembali  saja ke hostel untuk tidur lagi. Hostel saya terletak di kawasan Qianmen, bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dari  lapangan Tiananmen. 

Menjelang tengah hari, saya  kembali lagi ke lapangan Tiananmen. Pengunjung masih tetap padat, namun  kerumunan lebih tersebar, tak hanya terpusat di sekitar tiang bendera Tiananmen seperti saat pagi hari. 

Cuaca Kota Beijing hari itu sangat  cerah dengan langit yang biru. Usaha pemerintah Tiongkok untuk  mengurangi polusi udara agaknya cukup berhasil. Setidaknya di musim  panas udara Beijing sekarang jauh lebih bersih. 

Siang  itu, antrean masuk ke lapangan Tiananmen terlihat lebih pendek dibandingkan pagi hari saat saya ingin menyaksikan upacara penaikan bendera. Tapi ada hal yang cukup mengundang perhatian saya, yakni  perbedaan perlakuan dari petugas keamanan. 

Mereka yang berpenampilan  seperti warga kelas bawah sering jadi target interogasi dan penggeledahan. Mereka juga diminta menunjukkan kartu identitasnya. 

Anehnya, orang asing terutama turis bule malah langsung disuruh lewat  saja, bahkan barang bawaannya juga tak diperiksa. Hmm.... 


Situasi  seperti ini tak hanya saya saksikan di Tiananmen. Saya pernah melihat sendiri di tempat lain di mana seorang laki-laki yang berpenampilan seperti orang desa  tiba-tiba dihentikan oleh polisi saat sedang berjalan kaki di tempat  umum.

Hanya gara-gara penampilannya berbeda dengan warga kelas menengah Beijing, laki-laki itu langsung jadi target. Keberadaan mereka di kota besar seperti Beijing yang didominasi kaum urban kelas menengah seolah  menjadi gangguan bagi polisi setempat.

Meski baru pertama kali mengunjungi Beijing, berdiri  di tengah lapangan Tiananmen memberi kesan yang familiar bagi saya.  Seperti juga Anda, saya juga sudah sering melihatnya melalui foto maupun  video. Bagian yang paling menarik dari lapangan Tiananmen tentu saja  gerbang Kota Terlarang yang kerap disebut Gate of Heavely Peace. Potret  raksasa Mao Tse Tung yang dipasang di dindingnya membuat Gate of  Heavenly Peace ini makin ikonik saja. 

Letak lapangan  Tiananmen tepat berada di sisi selatan Kota Terlarang. Selain kompleks  Kota Terlarang yang berarsitektur tradisional Tiongkok, bangunan di  sekeliling lapangan Tiananmen didominasi oleh gedung-gedung besar  bergaya Soviet. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2