Mohon tunggu...
Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Mohon Tunggu... Penulis - Panggil saya Kang Adjat saja

Setiap tulisan akan menemukan takdirnya sendiri - Pramudya Ananta Toer

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Remah-remah yang Tersisa dari Kompasianival

30 November 2021   14:38 Diperbarui: 30 November 2021   15:20 195 40 9
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi (Sumber: kompasiana.com)

Pesta tahunan telah usai. Peringatan Hari Ulang Tahun blog keroyokan yang ke-13 tahunnya di penghujung 2021 ini. Meskipun dilaksanakan secara virtual - sebagaimana tahun kemarin, lantaran Covid-19 yang masih jadi penghalang, tapi tetap saja tidak mengurangi kemeriahan -dalam suasana yang serba di luar kenormalan sebelumnya, tentu saja.

Sebagaimana seorang ABG, Kompasiana ini selain bak bunga yang mulai mekar, juga sedang masa-masanya bertingkah mematut diri, mengikuti perkembangan zaman, ataukah memang sudah memiliki tujuan yang pasti?

Jelas, meskipun masih remaja belia - seusia anak yang baru duduk di bangku SMP, malahan terkadang biasanya rerata masih duduk di bangku kelas enam, sekolah dasar, tidak menutup kemungkinan orientasi yang sudah pasti adalah turut berpartisipasi aktif dalam mengembangkan dunia literasi di negeri ini.

Terbukti seabrek alumni Kompasianer, sebutan mereka atawa kita-kita yang telah berhasil menjadi penulis yang handal, dan mampu menerbitkan banyak buku, atawa paling tidak memiliki blog pribadi yang, di samping untuk semakin meningkatkan kemampuannya sebagai seorang penulis, pun cuan terus mengalir ke kantongnya - dari hasil kerja keras sebagai bukti usaha tidak mengkhianati hasil benar adanya.

Tapi tidak sedikit pula Kompasianer yang masih stagnan, dari kualitas dan kuantitas postingannya, seperti saya ini. 

Yupz, tidak salah. Benar sekali. Saya yang bergabung di blog keroyokan ini di pertengahan tahun 2011, tepatnya pertengahan bulan Agustus 2011, dan itu pun atas ajakan Pepih Nugraha, orang pertama yang mengelola Kompasiana ini, dan baru berani memposting tulisan menjelang peringatan Hari Pahlawan, di bulan November, sampai saat ini masih tetap begini-begini saja. Jauh tertinggal oleh Kompasianer yang bergabung kemarin sore.

Hal itu lantaran inkonsistensi diri ini juga. Selama sepuluh tahun ini terbukti postingan saya belum sampai pada angka seribu. Centang biru pun masih berkutat di level Penjelajah.

Tapi terlepas dari itu, selama bergabung di Kompasiana, saya pun memiliki kebanggaan tersendiri. Sebagai orang tua yang berasal dari pelosok kampung nun di lembah sebuah deretan perbukitan, di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat, saya bisa berinteraksi dan berteman - walau hanya sebatas di dunia Maya, dengan Kompasianer yang termasuk orang-orang hebat, baik kedudukannya, maupun prestasinya. 

Seperti misalnya mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, mantan ketua DPR RI, Marzuki Alie, atau pengamat ekonomi, Kaffi Kurnia, dan yang lainnya, karena kalau disebut satu persatu boleh jadi akan melelahkan sidang pembaca.

Kembali ke laptop! Eh, ke Kompasianival yang diselenggarakan baru-baru ini. Saya pun ikut merasa bahagia dan bangga dengan keberhasilan Kompasianer:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan