Arnold Adoe
Arnold Adoe Insinyur

Menulis untuk berbagi... Email : arnoldadoe@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Zulkifli Hasan Bertemu Jokowi, Tak Ada Lawan Abadi di Politik

26 April 2019   11:13 Diperbarui: 26 April 2019   12:15 1634 12 7
Zulkifli Hasan Bertemu Jokowi, Tak Ada Lawan Abadi di Politik
Silahturahmi Zulkifli dan Jokowi I Gambar : Tribun

Setelah berulangkali Prabowo menolak menerima utusan Jokowi sekaligus membuat upaya rekonsiliasi antar kedua elit menjadi terhambat atau tertunda, saya menjadi penasaran dan menunggu siapa elit politik yang akan membuka keran silahturahmi antar kedua kubu.

Dalam tulisan " Strategis bagi Sandiaga Uno Jika Mau Bertemu Ma'ruf Amin", saya menebak Sandiagalah tokoh yang ditunggu tersebut.

Ternyata saya keliru, Sandiaga masih terkesan "takut" untuk memulainya, wajar saja karena meski memungkinkan, militansinya akan dipertanyakan karena dia adalah sosok yang persis berada di samping Prabowo.

Akhirnya tanpa menunggu lama, penantian saya itu terjawab ketika media mengonfirmasi bahwa Ketua Umum PAN sekaligus Ketua MPR, Zulkifli Hasan sudah bertemu dengan Jokowi, berbincang bersama,  ketika berlangsung pelantikan Murad Ismail dan Barnabas Orno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku  di Istana Negara, Rabu, (24/4).

Menjadi menarik karena media memberikan beragam framing untuk melihatnya serta menafsir pertemuan yang bisa dikatakan "mengejutkan" ini.

Bingkai pertama yang tergambar adalah pertemuan itu hanyalah sebuah pertemuan biasa. Pendapat ini disampaikan oleh koordinator jubir BPN, Dahnil Anzar Simanjuntak ketika ditanya oleh wartawan.

"Wajar saja, Pak Zul kan hadir dalam acara pelantikan Gubernur (pelantikan Gubernur Maluku), beliau hadir secara formal sebagai ketua MPR, jadi bagi kami di BPN, ya biasa saja," ujar Dahnil, pagi ini dilansir dari Detik.com.

Menurut Dahnil, Zulkifli memang bertemu dengan Jokowi, memang berbincang tetapi Dahnil yakin tidak ada pembicaraan politik yang dilakukan kedua belah pihak dalam komunikasi tersebut.

Pernyataan ini dianggap penting bagi Dahnil sekaligus menjelaskan posisi BPN menanggapi framing berbeda yang diungkapkan oleh internal PAN kepada media.

Kamis kemarin, Wakil Ketua Umum PAN, Bara Hasibuan, mengatakan bahwa kesediaan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan bertemu Presiden Joko Widodo memperlihatkan bahwa Zulkifli dan PAN bisa menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan partai.

"Semacam kesadaran Pak Zul untuk menempatkan kepentingan bangsa dari kepentingan partai, kepentingan partisan. Saya berikan apresiasi pada Presiden yang bersedia untuk bertemu Pak Zulhas," kata Bara Hasibuan saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/4/2019) seperti diberitakan Kompas.com.

Bara lebih lanjut melanjutkan bahwa pertemuan Zulkifli dan Jokowi adalah membahas langkah ke depan pasca-Pemilu 2019.

Lalu framing mana yang kemungkinan benar? Tentu kita perlu lebih sabar menunggu, karena polarisasi diyakini akan mencair atau reset ke posisi semula sesudah 22 Mei nanti, setelah pengumuman resmi KPU.

Para anggota partai koalisi akan mengevaluasi dan menentukan langkah selanjutnya. Meski demikian, jika harus menebak langkah PAN ini, patut diduga, ada keterkaitan antara pertemuan Zulkifli Hasan-Jokowi dengan berita menyebrangnya Sandiaga Uno menjadi anggota Partai PAN. 

***

JIka kita mau obyektif melihatnya dari kacamata politik, maka sah-sah saja langkah yang dilakukan oleh Zulkifli Hasan dari kacamata Bara Hasibuan, sekaligus kembali membenarkan idiom umum di politik, bahwa di politik, tak ada lawan yang abadi.

Tak ada lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan, kepentingan yang didasari atas keinginan capaian yang diharapkan di masa depan.

Zul bersama PAN tentu berhitung, bagaimana jika benar-benar kalah? Apa yang didapatkan nanti, memilih menjadi oposisi kembali atau mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan kekuasaan. Apalagi jika mau jeli, langkah serupa perlahan-lahan dilakukan Partai lain meskipun dengan cara yang masih "malu-malu".

Dalam politik ada masa akan berganti, situasi akan menjadi berbeda membuat persepsi, perspektif, nalar, dan visualisasi capaian yang di cita-citakan harus dikondisikan untuk kepentingan kelompok atau partai. Jika gagal atau terlambat meresponnya, bisa jadi akan ada masalah, atau biduk partai karam di 2024.

Jika ini adalah langkah yang dipilih, tantangan terbesar bagi PAN adalah menghadapi tuduhan pengkhianat dari kubu yang bersamanya sekarang. PAN akan dianggap sebagai pihak yang telah berjalan keluar jauh dari jalur  khittah perjuangan.

Seusai pertemuan Rabu, Zulkifli ditanya wartawan tentang apa yang dibicarakan dengan Jokowi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2