Arnold Adoe
Arnold Adoe Insinyur

Menulis untuk berbagi... Email : arnoldadoe@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Hanum Rais, Erin Taulany, dan Sebuah Cermin

23 April 2019   21:35 Diperbarui: 25 April 2019   23:38 1848 21 8
Hanum Rais, Erin Taulany, dan Sebuah Cermin
Erin Taulany dan Hanum I Gambar : Tribun

"Memangnya kau tidak berpikir seperti itu ketika kau menatap cermin? Memangnya kau tidak pernah membayangkan tengkorakmu sendiri?"- Jenny Dowham.

Putri Amien Rais, Hanum Rais ikut berkomentar tentang kasus yang menimpa istri komedian, Andre Taulany, Reinwartia Trygina  atau Erin.  

Erin dilaporkan ke polisi oleh seorang pengacara bernama M. Firdaus Oiwobo karena sudah dianggap menghina Prabowo Subianto melalui Instagram Stories akun @erintaulany.

"Beliau menggunakan bahasa kasar, seperti sinting, halu, dan lain-lain. Maka kami berinisiatif, karena pasalnya ada, pasal 28 jo pasal 45 makanya kami inisiatif. Pasal 27 ITE nomor 19 UU tahun 2016, berdasarkan inisiatif dan polisi menerima," ujar Firdaus.

Erin dibully oleh netizen yang tentunya kebanyakan adalah pendukung Prabowo. Terakhir, setelah dilaporkan oleh polisi, melalui Andre, Erin mengatakan akunnya dibajak, dan melaporkan tentang peretasan kepada akunnya pada polisi.

Di tengah proses kasus yang menimpanya, munculah putri Amien Rais, Hanum Rais ikut berkomentar melalui twitnya.

"Kebohongan telah menjadi bagian penting dlm hidupnya. Padahal dengan kata maaf yg tulus, selesai sudah. Well, Mas @andretaulany74 dan mba @erintaulany semua orang memang bisa berbuat keliru, tapi tdk semua orang bisa berbuat jujur." cuit Hanum Rais.

Kata kebohongan yang dianggap menyudurkan Erin, mendapat banyak respon, kebanyakan menyesalkan kata-kata Hanum dan balik mem-bullynya.

Salah satunya, artis dan sineas muda, Ernest Prakasa. Begini cuitan Ernest. "Apakah kita perlu bikin crowdfunding di @kitabisacom supaya bisa beli cermin yang agak gedean?" tulis Ernest setelah me-retweet cuitan Hanum Rais, Selasa (23/4/2019).

Tentu saja kita mengerti yang dimaksudkan oleh Ernest. Jika bicara kebohongan, Hanum pernah dianggap melakukannya dalam kasus Ratna Sarumpaet. Hanum dalam sebuah video singkat di akun media sosialnya menyampaikan rasa iba kepada Ratna Sarumpaet, yang diduga dikeroyok oleh oknum tak dikenal, yang membuatnya wajahnya lebam.

Bukan itu saja, sambil berjalan bersama Ratna, Hanum menitikkan air mata bahkan berkata bahwa sosok Ratna menyamai sosok Kartini dan Cut Nyak Dien. Ratna akhirnya mengaku bahwa dia baru abis dioperasi plastik, bukan dikeroyok atau dipukul.

Menarik ketika Ernest menggunakan kata cermin untuk menggambarkan bahwa ketika Hanum mengatakan Erin telah melakukan kebohongan sebenarnya Hanum telah lebih dahulu telah melakukannya.

Ernest mengatakan sesuatu yang amat penting. Hanum membutuhkan cermin, saya kira Erin juga perlu, kita semua, bangsa kita perlu cermin sekarang ini.

Dunia adalah cermin dari diriku yang sekarat. -- Henry Miller.

Sebuah catatan filosofi yang baik tentang cermin mengatakan seperti ini; Mata kita tidak bisa melihat semua bagian dari tubuh kita, kita butuh cermin untuk bisa melihat seperti apa diri kita sebenarnya.

Tak ada yang lebih tulus dari cermin. Cermin berbicara dalam puncak kejujurannya; diam dan memberi tahu apa adanya.

Bila kita rapi, ia akan menampakkan gambar yang rapi pula. Bila tampilan kita berantakan, ia juga akan menampakkan wajah diri kita yang berantakan.

Dalam kata lain, cermin  akan mengatakan apa adanya tentang diri kita, cermin itu tidak pernah bohong, cermin itu jujur, cermin itu apa adanya.  tidak ada yang ditutupi, apa yang ada pada diri kita itulah yang akan dipantulkan oleh cermin.

Ini bukan saja soal Hanum, ini bukan soal Erin, ini soal kita. Tanpa kita sadari, kita membenci kebohongan tetapi di saat yang lain kita juga melakukan kebohongan. Kita sering membenci,  jika kita dijelekan orang lain, tapi pada saat yang sama kita juga berkata jelek tentang orang lain. Kita senang mengatakan kekurangan orang lain, padahal jika dikritik, kita marah dan tersinggung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2