Arnold Adoe
Arnold Adoe Tukang Kayu

Menulis untuk berbagi... #FB : Arnold Adoe # Insta : Arnold_Adoe # Twitter : Arnold Adoe

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kemenangan Kroasia, Kemenangan Kekuatan Mental

12 Juli 2018   05:04 Diperbarui: 12 Juli 2018   06:19 830 4 3
Kemenangan Kroasia, Kemenangan Kekuatan Mental
Mandzukic, Kekuatan Mental Kroasia I Gambar : Reuters

Mandzukic berlari kemanapun dia sanggup. Kakinya sudah lemah, tetapi semangatnya terus membara. Bersama dengan rekan-rekannya, Mandzukic yakin bahwa tak ada kerja keras yang sia-sia. Menit ke-109, Manduzkic menuai hasilnya. Tendangan kaki kirinya merobek gawang Pickford. Kroasia unggul atas Inggris, 2-1. Sejarah tercipta, Kroasia lolos ke Final Piala Dunia.

Pertandingan semi final antara Kroasia melawan Inggris berlangsung dramatis. Kroasia yang ketinggalan gol cepat Inggris di menit ke-4 melalui tendangan bebas Kieran Trippier berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua melalui Ivan Perisic di menit ke-68. Ketika pertandingan sepertinya lagi-lagi akan berakhir di babak adu penalti, Mario Mandzukic mencetak gol kemenangan Kroasia di menit ke-109.

Berlangsung tidak terlalu taktikal seperti pertandingan Perancis melawan Belgia, pertandingan ini lebih kepada penantian para penikmat bola, bahwa siapa yang unggul secara mental, dialah yang akan menang.

Mengapa demikian? Babak pertama seperti neraka bagi Kroasia. Sesudah gol dari Kieran Trippier, Kroasia bermain seperti para pemain amatir. Pertunjukan tak biasa ketika Ivan Rakitic salah mengumpan, Perisic yang kebingungan menempatkan posisi dan Dejan Lovren yang panik ketika Sterling mengejar bola di daerah pertahanannya terlihat jelas di babak pertama.

Lini tengah terlihat dikuasai Inggris. Padahal, Kroasia memiliki Luka Modric dan Perisic di sana. Pressing dari Lingard dan Henderson membuat kedua gelandang berpengalaman itu seperti berada di ruang yang sempit. Penggemar Inggris semakin yakin jika hal itu terus terjadi di babak kedua maka, Inggris akan melaju ke final Piala Dunia.

Di babak kedua, dominasi Inggris memang  terus terjadi namun kekuatan mental itu biasanya nyata ketika berada dalam tekanan. Di bawah tekanan harus mencetak gol, Kroasia tampil tak patah arang dan gampang menyerah. Akhirnya di menit ke-68, ketika tanpa diduga Ivan Perisic mampu mencetak gol menyambut Sime Vsjalko di antara kepungan trio bek Inggris yang tampil apik sebelum gol itu tercipta.

Disinilah titik dimana perbedaan mental itu terlihat. Para pemain muda Inggris langsung lunglai dan seperti ketakutan setelah gol itu tercipta. Tak ada pemain yang mampu membangkitkan semangat mereka, mereka masih terlalu muda untuk tahu cara untuk bangkit. Sampai di titik ini, rasanya Inggris merindukan Steven Gerrard atau Frank Lampard di dalam tim. Sayang, mereka tak punya kekuatan itu.

Sebaliknya, Kroasia bertambah bersemangat, para pemain Kroasia yang tak lagi muda seharusnya kelelahan, tetapi tidak, mereka terus berlari dan bertambah percaya diri. Modric terus bergerak mengitari lapangan, Lovren terus memerintahkan lini pertahanan terus rapat dan Mandzukic tak pernah berhenti berlari.

Faktor pengalaman dan kekuatan mental dari pemain senior seperti Modric, Rakitic dan Mandzukic jelas yang vokal berbicara di sini.  Kroasia tak banyak lagi melakukan salah umpan dan duo Modric dan Rakitic secara bergantian semakin padu sebagai kreator penyerangan ke pertahanan Inggris. 

Kroasia mendapatkan momentum untuk kebangkitan, sedangkan Inggris terus tenggelam ke dalam penyesalan akan gol penyeimbang dari Kroasia. Terus ditekan oleh Kroasia, meski masih mampu bertahan selama hingga 90 menit berakhir, namun di babak tambahan, Inggris harus kebobolan lagi melalui gol Mandzukic di menit ke-109. Wajah kiper Inggris, Jordan Pickford menjadi pucat pasi. Sedangkan, dalam lelah, para pemain tua itu, Luka Modric, Mandzukic dan Rakitic terlihat yakin.

Sempat dipandang remeh karena hanya lolos dari Denmark dan Rusia melalui babak adu penalti di fase knock out, tapi tak banyak yang menyadari bahwa proses itulah yang membuat Kroasia semakin kuat secara mental menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan. Kroasia membuat sejarah, maju ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya.

***

Seusai pertandingan ini, ada 3 (tiga) hal yang menarik untuk kita soroti sebagai faktor penentu kemenangan  Kroasia atas Inggris.

Pertama, Kroasia bermain lebih sabar. Meski panik setelah tertinggal satu gol dari Trippier, Kroasia tetap bermain dengan tenang dan sabar. Kesabaran itu nampak dari berbagai usaha penyerangan yang mereka coba.

Ketika Modric dan Rakitic tidak bisa menembus pertahanan Inggris dari tengah, bola diarahkan ke sisi kiri dimana Perisic berada. Terlihat masih belum berhasil, bola diarahkan ke sisi kanan mengandalkan bek kanan Sime Vsjalko yang sering overlap ke depan. Meski bola masih sering diblok oleh lini pertahanan Inggris yang dikomandoi John Stones, tetapi Kroasia terus mencoba, dan akhirnya berhasil melalui gol Ivan Perisic.

Cara bermain ini membutuhkan pemain yang bisa mengatur permainan, dan syukurnya Kroasia melimpah soal pemain jenis ini dalam diri Modric dan Rakitic. Kedua pemain ini mengatur ritme dengan baik, kapan harus menyerang dan kapan bola harus ditahan di belakang.

Kedua, Hary Kane yang tak terlihat di lapangan. Digadang-gadang sebagai pemain paling berbahaya bagi pertahanan Kroasia, Kane tampil anti klimaks. Kane tak pernah membahayakan gawang Kroasia, dan pergerakannya terlalu mudah dibaca.

Jika kita analisis, Kane sepertinya diinstruksikan oleh Pelatih, Gareth Southgate untuk tak terlalu maju ke depan. Kane bertugas untuk menarik perhatian pemain belakang Kroasia dengan cara lebih mundur ke lni tengah, sambil berharap tusukan Sterling memanfaatkan  celah yang kosong.

Sempat bekerja dengan baik di awal pertandingan, namun sesudah gaya permainan itu dibaca oleh Kroasia, tak ada lagi serangan Inggris yang membahayakan dan Kane seperti tenggelam di dalam lapangan.

Ketiga, mental pejuang Mario Mandzukic. Wajah kekuatan mental Kroasia tergambar kental melalui sosok penyerang Mario Mandzukic. Mandzukic jarang terlihat diam di lapangan. Mandzukic terus berlari dengan bola atau tanpa bola. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2