Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomic - Intelconomix

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

The Big Shoot ! BI Rate Turun 0,25%

19 Januari 2016   15:52 Diperbarui: 19 Januari 2016   22:43 264 1 1 Mohon Tunggu...

Siklus Krisis

Judul The Big Shoot mungkin mirip dengan film The Big Short (Baca sinopsis) yang berlatar belakang Krisis Keuangan di US pada 2008 dengan casus belli-nya Sub-Prime Mortgage. Pada awal milenium XXI, kasus Dotcom bubble di USA muncul berlatar belakang "manipulasi" akuntansi yang berdampak krisis. Sementara krisis keuangan 2008 sarat dengan pelanggaran etik (ethical conduct) pada sektor keuangan. Pada awal 2016, fenomena penurunan harga saham yang signifikan (anjlok) terjadi di pasar US, China dan Euro Area yang berdampak tularan global; intinya berkaitan dengan keraguan akan kinerja korporasi.

Penurunan harga komoditas dan energi, gejolak nilai tukar yang berkepanjangan, perangkap utang eksternal yang dialami banyak negara, serta defisit fiskal yang membengkak pada negara yang mengandalkan penerimaan dari komoditas dan "crude oil" merupakan gejala menuju krisis global. Sementara Strong USD terus berlangsung dan Renminbi mengalami devaluasi. Informasi paling akhir, perekonomian China mengalami tekanan turun (gejala resesi) dan "hanya mampu" tumbuh 6,8% pada Triwulan-VI 2015 atau sepanjang 2015 sebesar 6,9%. Prakiraan "Spiral Deflasi" dan "Currency Wars" yang Berbuah Krisis besar kemungkinannya terjadi.

Potret Perekonomian

Hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 14 Januari 2016, diputuskan untuk menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin atau 0,25% menjadi 7,25% dengan berbagai pertimbangan

Gambaran BI Rate, Tingkat Inflasi (Year on Year), dan rerata nilai tukar (bulanan) diberikan dalam Grafik-1.

Sumber Informasi : Bank Indonesia - Data Inflasi dan Kalkulator

Tingkat inflasi turun saat nilai IDR terdepresiasi menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat, yang sangat berperan pada besaran inflasi, tidak bergantung pada barang impor. 

Dari neraca perdagangan global, saat nilai tukar IDR terdepresiasi terhadap USD, neraca perdagangan selama 2015 mencatat surplus sekitar USD 7,5 miliar; sementara masa 2014 defisit USD 1,89 miliar dan 2013 defisit sekitar USD 4,06 miliar.

Depresiasi nilai tukar IDR-USD berdampak surplus; tetapi mengindikasikan penurunan nilai impor bahan mentah (untuk produksi ekspor) sementara impor barang modal belum meningkat (investasi alat produksi dan infrastruktur). 

Setelah beberapa triwulan mengalami penurunan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto), pada Triwulan-III 2015 terjadi rebound (kondisi berbalik) sementara rerata global mengalami penurunan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN