Mohon tunggu...
Sabarniaty Saragih
Sabarniaty Saragih Mohon Tunggu... Ibu rumah tangga dengan tiga anak

Tampil apa adanya dan selalu berusaha melakukan yang terbaik

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cukup Lakukan yang Baik, Selesai!

6 Desember 2020   06:02 Diperbarui: 6 Desember 2020   06:10 54 7 0 Mohon Tunggu...


 "Ibumu menantu yang paling baik, selalu sabar menghadapi nenek", ujar salah seorang pamanku (abang dari ayahku).

Keharmonisan hubungan ibu dan nenek telah menumbuhkan keinginan dalam hatiku untuk mencari calon suami yang masih memiliki orangtua agar aku bisa merasakan indahnya hidup dengan mertua. Bahkan dalam hati terdalam aku ingin tinggal serumah dengan mertua seperti ibu dan nenek.

Kami tinggal serumah dengan kakek nenek, tepatnya kami yang tinggal di rumah kakek nenek karena saat itu ibu dan ayah belum sanggup membeli rumah sendiri. Umumnya jika ada 2 orang ratu dalam satu rumah kerap menimbulkan percekcokan. Tapi hal itu tampaknya tidak berlaku pada ibu dan nenek. Atau setidaknya begitulah yang pernah aku lihat dengan mataku sendiri.

Ibu bukan tipe orang yang banyak bicara, pembawaan ibupun selalu  tenang. Dari 8 orang anak ibu, tidak seorangpun punya pengalaman seperti  dicubit, dipukul ataupun dibentak. Cukup dengan lirikan mata, kami sudah paham kalau ibu sedang  marah. Diam adalah salah satu cara ibu mengelola emosinya.

Dimasa tuanya nenekku mengalami stroke yang menyebabkan nenek harus menghabiskan waktunya di kursi roda. Selama 5 tahun nenek mengalami kelumpuhan dan bolak balik rumah sakit tapi tidak pernah sekalipun ibuku keberatan merawat nenek. Setiap pagi sebelum berangkat kerja ibu membersihkan tubuh nenek, mendudukkannya di kursi roda dan menyiapkan sarapan. Ketika ibu bekerja nenek dijaga seorang pembantu. Oiya, ibu adalah seorang guru SD.

Ayah sangat menyayangi nenek. Semua urusan yang berkaitan dengan nenek adalah hal yang paling diutamakan. Masih jelas kuingat sewaktu Ayah mengatakan nenek tidak boleh dibiarkan sendiri, harus selalu ditemani bahkan ketika tidurpun harus ada seseorang yang standby di sampingnya. Dan tugasku sepulang sekolah adalah menjaga nenek.

Dahulu bagiku nenek adalah seorang yang cerewet dan manja. Nenek semakin manja dengan kehadiran ayah di rumah. Biasanya nenek menggaruk punggungnya sendiri jika gatal tetapi ketika ayah di rumah, nenek minta digarukin. Banyak hal-hal manja seperti ini yang dilakukan nenek.  Walaupun saat itu kami (cucu-cucu nenek) kadang sebal dengan kemanjaan nenek namun tidak seorangpun yang berani membantah. Nenek tahu persis jika ayah akan selalu membela dia. Saat itu aku masih kelas 4 SD jadi bisa dibayangkan bagaimana sebalnya aku disuruh-suruh ketika sedang asik bermain haha...

Sebawel apapun nenek aku tidak pernah melihat atau meyaksikan ibu berbantah dengannya. Ibu selalu menjawab dengan  santun. Aku melihat ibu sosok yang sangat sabar.

Seringkali nenek memanggil atau menyuruhku sesuatu tetapi aku pura-pura tuli haha... Berbeda denganku ibu justru selalu sigap datang jika dipanggil atau bila kami anak-anaknya berlambat-lambat datang. Sikap ibu yang demikian sebenarnya mengajarkanku agar segera menyahut jika dipanggil.

Dibalik semua kelelahan ibu mengurus nenek tidak sekalipun aku mendengar ibu berkeluh kesah. Ibu tidak pernah berkata sesuatu yang buruk tentang nenek, pun sampai sekarang. Semua perlakuan ibu kepada nenek membekas di otakku dan memberiku pelajaran  bagaimana  harus menghormati dan menyayangi mertua dengan tulus.

Yang membuatku semakin takjub kepada ibu adalah kenyataan bahwa dulunya ibu bukanlah menantu yang diharapkan dan disukai. Pada kenyataannya,  dahulu ibu sering mendapat perlakuan yang kurang baik dari pihak keluarga ayah. Namun kesabaran ibu berbuah baik, di masa-masa tuanya nenek hanya mau dirawat oleh ibu.

Baru-baru ini saya mencoba menanyakan kebenaran cerita yang kudengar tentang nenek dan ibu,
"Benar Bu ceritanya seperti itu?", tanyaku.

"Benar", jawabnya singkat sambil menganggguk.

"Trus Ibu tidak dendam?", lanjutku lagi.

"Dendam ke siapa? Sama nenek? Ngapain harus dendam sama orangtua. Kalau kita bersedia menikah dengan anaknya maka kita juga bersedia menerima orangtuanya menjadi orangtua kita. Orangtua harus dihormati dan disayangi dengan tulus. Itu pintu rejeki", jawabnya.

"Kalau aku begitu bisa kubabat satu turunan ", kataku sambil tertawa haha..

"Apa untungnya membabat satu turunan, emangnya kau Tuhan? Cukup lakukan yang baik saja, selesai", katanya.

Sama seperti nenek, sekarang ibupun hanya bisa duduk di kursi roda akibat stroke dan gagal ginjal. Bersyukur 6 menantu perempuannya dan 2 menantu laki-lakinya sangat peduli kepadanya.

Ibu menjadi teladan yang baik tanpa harus banyak bicara. "Cukup kerjakan yang baik, selesai!", nasehat singkat ibuku.





VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x